Human Error

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

HUMAN ERROR

I. Dasar Teori

1. Human Error
Human error dibagi tiga :
a. Pure Human Error (PHE)
Menyangkut perilaku manusia itu sendiri. Contoh : ugal ugalan, ngantuk, lelah, atau mabuk
b. Design Induced Error (DHE)
kondisi yang memicu seseorang melakukan kesalahan (error). Contoh : bekerja di lingkungan panas, lantai licin, ruangan gelap, dan ruangan sempit.
c. System Induced Error (SIE)
Menyangkut aturan atau manajemen. Contoh : Gaji rendah, merasa terancam, atasan yang selalu marah marah, bekerja di bawah tekanan, dan depresi.
Kecelakaan terjadi umumnya karena human error dengan banyak latar belakang (penyebab). Diantaranya : Pekerja dalam masa pemulihan, kelelahan, kurang sehat, dalam tekanan, jenuh, kurang pelatihan, kurang supervisi, instruksi yang salah, dan salah dalam penempatan kerja.
 Kecelakaan Kerja Faktor Manusia
Buku “Management Losses” : 80-85% kecelakaan kerja karena faktor manusia:
- Ketidakseimbangan/kemampuan fisik
 Tidak sesuai berat badan, kekuatan dan jangkauan
 Posisi tubuh yang menyebabkan lebih lemah
 Kepekaan tubuh
 Kepekaan panca indera terhadap bunyi
 Cacat fisik
 Cacat sementara
- Ketidakseimbangan/kemampuan psikologis
 Rasa takut/phobia
 Gangguan emosional
 Sakit jiwa
 Tingkat kecakapan
 Tingkat mampu memahami
 Sedikit ide
- Kurang Pengetahuan
 Kurang pengalaman
 Kurang orientasi
 Kurang latihan memahami tombol-tombol (petunjuk lain)
 Kurang latihan memahami data
 Salah pengertian terhadap suatu perintah
- Kurang tearmpil
 Kurang mengadakan latihan praktik
 Penampilan kurang
 Kurang kreatif
 Salah pengertian
- Stress mental
 Emosi berlebihan
 Beban mental berlebihan
 Pendiam dan tertutup
 Problem dengan suatu yang tidak dipahami
 Frustasi
 Sakit mental
- Stress fisik
 Badan sakit atau tidak sehat
 Beban tugas berlebihan
 Kurang istirahat
 Kelelahan sensori
 Terpapar bahan berbahaya
 Terpapar panas yang tinggi
 Kekurangan oksigen
 Gerakan terganggu
 Gula darah menurun
- Turunnya motivasi
 Mau bekerja bila ada penguatan/hadiah (reeeward)
 Frustasi berlebihan
 Tidak ada umpan balik (feed back)
 Tidak mendapat insentif produksi
 Tidak mendapat pujian dari hasil karyanya
 Terlalu tertekan

2. Bahaya stress di tempat kerja
Stress adalah penyakit, biasanya tidak diinginkan, reaksi tubuh manusia terhadap tekanan psikis, sosial, atau tekanan lingkungan. Sterss telah didefinisikan sebagai reaksi tubuh manusia terhadap situasi bahaya/ancaman yang datangnya dari luar. Pembuat stress biasanya datang dari luar, dan stress adalah tanggapan tubuh manusia terhadap penyebab tersebut.
Penyebab stress hazard :
a. Tingkat kesulitan kerja, tuntutan yang berlebihan kepada pekerja
b. Pengawasan yang berlebihan
c. Perasaan atas kesejahteraan dan keamanan bagi keluarga, gaji yang minim
d. Keamanan bekerja, kemungkinan dipecat, perampingan pegawai
e. Pekerjaan yang terlalu banyak
f. Kurangnya dorongan dari atasan atau rekan kerja
g. Lingkungan yang tidak aman
h. Perusahaan tempat kerja dibeli oleh perusahaan lain
i. Kesejahteraan pegawai baru saja dikurangi
j. Kerja lembur sering diterapkan
k. Pekerja merasa tidak pernah dikontrol akan pekerjaannya
l. Terlalu sering melakukan kesalahan saat bekerja
m. Pekerja harus bertindak sangat cepat terhadap perubahan yang ada
n. Personal konflik di tempat kerja
o. Sedikit peluang naik tingkat
p. Pekerja banyak mengalami hambatan birokrasi dalam melaksanakan tugasnya
q. Kurangnya staf, biaya dan teknologi untuk melaksanakan pekerjaan

Akibat stress
Stress dapat menimbulkan rasa :
a. Agresif h. Tertekan
b. Rasa bersalah i. Marah
c. Ketakutan akan kecelakaan j. Lelah
d. Tidak dapat berkonsentrasi k. Bingung dan tidak sabar
e. Tidak mampu membuat keputusan l. Sering tidak masuk kerja
f. Membuat keputusan yang tidak tegas m. Penyakit lambung
g. Peningkatan tekanan darah n. Cepat lelah

Germanium

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

UNSUR Ge (Germanium)
I. STRUKTUR ATOM DAN PENDAHULUAN
Ge adalah salah datu unsure golongan 4A yang merupakan unsure metalois (semilogam) yang keras,rapuh dan berwama putih ke abu-abuan. Ge mempunyai kesamaan sifat kimia dengan karb.on, silikon, timah dan timbal. Ge dapat membentuk hidrida-germanometana, germane (GeH4), germanometana (Ge2H2), Germanoetana (Ge3H8 ) yang analog dengan ikatan karbon dalam deret metana. Senyawa Ge yang paling penting adalah Germanium oksida (GeO2) dan senyawa halidanya.

II . SIFAT FISIKA, KIMIA DAN PERIODIK
- Ditemukan oleh Clemens Alexander winkler pada tahun 1886
- Mempunyai massa atom 74,9216 sma
- Mempunyai nomor atom 32
- Mempunyai jari jari atom 1,37 A
- Mempunyai konfigurasi electron 2 8 1 8 4
- Dalam senyawa mempunyai biloks +4
- Mempunyai volum atom 13,60 cm3lmol
- Mempunyai struktur kristal fcc
- Mempunyai titik didih 3107 K
- Mempunyai titk lebur 1211,5 K
- Mempunyai massa jenis 5,32 gr/cm3
- Mempunyai kapasitas panas 0,32 J/gr.K
- Mempunyai potensial ionisasi 7,899 Volt
- Mempunyai elektronegativitas 2,61
- Mempunyai konduktivitas listrik 3000000 X 106 ohm-’cm’
- Mempunyai konduktivitas kalor 59,90 W/m.K
- Mempunyai harga entalpi pembentukan 31,8 KJ/mol

III . KEBERADAAN DI ALAM
Di alam Ge terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam biji perak, tembaga, seng, dan mineral gennanit ( mengandung 8% Germanium )
IV. CARA PENGOLAHAN

V. REAKSI PADA GERMANIUM

VI. KEGUNAAN
- Kristal Ge digunakan pada alat detector frekuensi radio yang tinggi dan sinyal radar
- Kristal Ge digunakan pada pembuatan piranti semi konduktor, seperti transistor dan ioda
- GeO digunakan dalam pembuatan kaca optik dan pengobatan anemia

Posfor

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

POSFOR
Posfor adalah unsur kimia yang memilki lambang P dengan nomor atom 15. Posfor berupa nonlogam, bervalensi banyak, termasuk golongan nitrogen banyak ditemui dalam batuan posfat anorganik dan dalam smua sel hidup tetapi tidak pernah ditemui dalam bentuk unsur bebasnya. Posfor amatlah reaktif, memancarkan pendar cahaya yang lemah ketika bergabung dengan oksigen ditemukan dalam berbagai bentuk, dan merupakan unsur-unsur penting dalam makhluk hidup. Posfor berbentuk kristal yang tembus cahaya (franslucent), tidak larut dalam air, berbentuk seperti lilin, dapat sedikit berpijar dalam udara basah dan sangat beracun. Posfor terdapat dalam bentuk tiga allotrop utama yaitu pofror putih, posfor merah dan posfor hitam. Ketika baru diperoleh umumnya posfor berwarna putih karena berinteraksi dengan cahaya (matahari), maka posfor dapat berubah warna menjadi kuning.

Sifat Kimia Posfor
Posfor Putih Posfor merah atau hitam
Mudah mencair Sukar mencair
Terbakar sendiri pada suhu 44oC Terbakar sendiri pada suhu 300oC
Bersinar diudara gelap (oksidator perlahan) Tidak bersinar dalam gelap
Sangat beracun Tidak beracun
Tidak stabil Stabil
Larut dalam CS2 Tidak larut dalam CS2

Keberadaan di Alam
Dialam fosfor tidak terdapat dalam keadaan bebas, tetapi umumnya dalam bentuk fosfat dan alatit. Selain itu fosfor juga terdapat dalam bentuk kalsium fosfat (pada tulang dan gigi) serta dalam tanah yang subur dan dalam air. Kelimpahan posfor dialam berupa senyawa-senyawa posfat, tidak ditemukan bebas di alam karena afinitasnya terhadap oksigen cukup besar. Posfor membentuk + 0,1% kerak bumi dalam berbagai bentuk terutama mineral ortoposfat dan apatite (AsF(PO4)3 dan CaCl (PO4)3).

Reaksi-reaksi pada Posfor
Senyawa-senyawa dari posfor, yang umum terdiri dari 3 jenis senyawa yaitu oksida, asam oksi dan senyawa posfor-klorida.
a. Oksida Posfor
Posfor membentuk hanya dua macam oksida yaitu tetraposfor hesaoksida. P4O6 dan tetraposfor dekaoksida, P4O10 tetra fosfor heksaoksida terbentuk dalam lingkungan oksigen berlebih menghasilkan tetra posfor dekaoksida.
P4(s) + 3O2 P4O6 (s)
P4(s) + SO2 (g) P4O10(s)
Tetraposfor dekaoksida bereaksi dengan air secara hebat menghasilkan asam posfat.
b. Asam oksi posfor
Terdapat tiga asam oksi posfor yang paling penting yaitu asam posfat H3PO4. Asam posfat dengan kemurnian tinggi diperoleh melalui pembakaran posfor putih kemudian direaksikan dengan air menurut persamaan reaksi:
P4(s) + SO2(g) P4O10(s)
P4O10(s) + 6H2O(l) 4H3PO4(aq)
Sedangkan untuk kemurnian rendah, diperoleh melalui reaksi antara kalsium fosfat dengan asam sulfat dimana endapan kalsium sulfat hasil reaksi dapat dipisahkan dari larutannya, reaksi:
Ca3(PO4)(s) + 3H2SO4(aq) 3CaSO4(s) + 2H3PO4(aq)
Turunan asam posfat lainnya adalah asam piroposfat, diperoleh dari pemanasan asam posfat sehingga melepaskan satu molekul air. Jika dilanjutka, akan menghasilkan asam tripollposfat H5P3O10, reaksinya:
2H3PO4(l) H4P2O7(l) + H2O(l)
H2P4O7(l) 2H5P3O10(l) + H2O(l)
Asam posfat dapat membentuk 3 macam garam:
a. N4H2PO4 = Garam natrium posfat primer natrium dihidrogen phosfat
b. N4HPO4 = Garam natrium phosfat sekunder/dinatrium phosfat
c. Na3PO4 = Garam natrium phosfat tersier/trinatrium posfat

c. Posfor klorida
terdapat 2 macam klorida posfor yaitu posfor triklorida, PCl3 yang berupa cairan tak berwarna dan posfor penta klorida PCl5 yang berupa endapan putih. Keduanya bereaksi dengan air menghasilkan asam posfit dan asam posfat sesuai reaksi :
PCl3(l) + 3H2O(aq) H3PO3(aq) + 3HCl(g)
PCl5(l) + H2O(aq) POCl3(aq) + 3HCl(g)
POCl3(aq) + 3H2O(l) H3PO4(aq) + 3HCl (g)

Pembuatan Posfor/Pengolahan dari Alam
Dibuat dari campuran posforit, pasir (S1O2) dan karbon yang dipanaskan dalam tanur listrik. Reaksinya dapat diumpamakan sebagai S1O2 bereaksi dengan Ca3(PO4)2 kemudian P2O5 ini direduksi oleh karbon menjadi P4.
2Ca3(PO4)3 + 6S1O2 6CaS1O3 + 2P2O5
2P2O5 + 10C P4 + 10CO
2Ca3(PO4)5 + 6S1O2 +10C 6CaS1O3 + P4 + 10CO
Uap posfor yang timbul tersebut ditangkap dalam air sehingga membeku menjadi posfor kuning. Adapun warnanya hitam karena masih tercampur dengan serbuk C. Dalam perdagangan, posfor tersebut berbentuk sebagai pipa yang berwarna kuning muda dan yang harus disimpan dalam air karena mudah dioksidasi oleh oksigen dari udara.

Kegunaan Posfor
a. P2O3 dalam bentuk padatan kristal putih digunakan sebagai reduktor
b. P2O3 yang dapat bereaksi dengan air membentuk larutan asam dapat digunakan pada alat pengering
c. Asam posfat dan garam-garam posfat merupakan senyawa-senyawa posfor merupakan senyawa-senyaaw posfdor yang bernilai ekonomi
d. Senyawa posfor digunakan pada pembuatan gula, sutera dan logam-logam tahan api (misal perunggu posfor dan tembaga posfor
e. Posfor putih untuk bahan racun tikus dan posfor merah untuk korek api

Nitrogen

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

Nitrogen atau zat lemas adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang N dan nomor atom 7. Biasanya ditemukan sebagai gas tanpa warna, tanpa bau, tanpa rasa dan merupakan gas diatomik bukan logam stabil, sangat sulit
bereaksi dengan unsur atau senyawa lainnya. Dinamakan zat lemas karena zat ini bersifat malas, tidak aktif bereaksi dengan unsur lainnya. Zat lemas membentuk banyak senyawa penting seperti asam amino, amoniak, asam nitrat dan sianida.

Sifat Kimia dan Fisika
Sifat kimia niotrogen adalah :
1. Berupa gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa
2. Nitrogen cair membeku pada -210oC
3. Sukar larut dalam air dan tergolong unsur yang sukar bereaksi karena energi ikatan yang sangat besar
4. Dapat bereaksi dengan logam-logam golongan IIA pada suhu tinggi yaitu diatas 3000oC
5. Meskipun pada suhu biasa sukar bereaksi, tetapi dengan pengaruh bunga listrik dapat langsung bersenyawa dengan hidrogen (proses haber) dan oksigen (proses birkeland dan eyde)

Keberadaan di Alam
Di alam nitrogen terdapat dalam bentuk gas N2 yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan tidak beracun. Pada suhu yang rendah nitrogen dapat membentuk cairan atau bahkan kristal padat yang tidak berwarna (bening). Selain itu nitrogen juga dapat terdapat dalam bentuk senyawa nitr
T, amoniak, protein dan beberapa mineral penting seperti KNO3 dan senyawa alkali NaNO3. Nitrogen adalah 78,08% persen dari atmosfer bumi dan terdapat dalam banyak jaringan hidup.

Reaksi-reaksi kimia pada Nitrogen
Reaksi dengan hidrogen
a. N2 + 3H2 2NH3
b. N2 + 2H2 N2H4
c. N2 + H+ N3H
d. NH3 + N3H NH3N3H
e. N2H4 + N3H N2H4N3H

Pembuatan Nitrogen
Untuk memperoleh nitrogen dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
a. Pemanasan NH4NO2 melalui reaksi sebagai berikut :
NH4NO2 N2 + 2H2O
b. Destilasi (penyulingan) setingkat dari udara cair
c. Oksidasi NH3 melalui reaksi sebagai berikut :
2NH3 + 3CuO 3Cu + 3H2O

d. Pembuatan amoniak proses haber-Bosch
Pada proses ini NH3 dibuat langsung dari unsur-unsurnya. Jika dalam NH3 diloncatkan bunga listrik, maka akan terurai menjadi N2 dan H2 dan juga sebaliknya.
N2 + 3H2 2NH3 +100KJ bunga listrik

Kegunaan Unsur Nitrogen
a. Dalam bentuk ammonium Nitrogen digunakan sebagai bahan pupuk, obat-obatan, asam nitrat, urea, hidrafitamin dan pendingin
b. Asam nitrat digunakan dalam pembuatan zat pewarnaan dan bahan peledak

Gas Mulia

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

Gas Mulia adalah golongan yang paling stabil dalam sistem periodik unsur. Unsur-unsurnya terdiri dari He (Helium), Ne (Neon), Ar (Argon), Kr (Kripton), Xe (Xenon), dan Rn (Radon) yang bersifat radioaktif. Elektron valensi kulit terluar unsur-unsur golongan Gas Mulia dianggap “penuh” sehingga unsur-unsur Gas Mulia menjadi unsur yang stabil. Karena sifat stabilnya, unsur-unsur Gas Mulia ditemukan di alam dalam bentuk monoatomik. Konfigurasi elektron unsur-unsur Gas Mulia adalah ns2np6, kecuali He 1s2.
Kestabilan gas mulia dicerminkan oleh energi ionisasinya yang sangat besar, sedangkan afinitas elektronnya sangat rendah. Dulu, bahkan para ahli yakin bahwa unsur unsur gas mulia benar benar inert. Barulah pada 1962, Neil Bartlett, seorang ahli kimia dari Kanada berhasil membuat senyawa xenon, yaitu XePtF6. Sejak saat itu, berbagai senyawa gas mulia berhasil dibuat.

Sejarah Gas Mulia
Pada tahun 1898, Huge Erdmann mengambil nama Gas Mulia (Noble Gas) dari bahasa Jerman Edelgas untuk menyatakan tingkat kereaktifan Gas Mulia yang sangat rendah. Nama Noble dianalogikan dari Noble Metal (Logam Mulia), emas, yang dihubungkan dengan kekayaan dan kemuliaan.
Gas Mulia pertama ditemukan pada tanggal 18 Agustus 1868 oleh Pierre Janssen dan Joseph Horman Lockyer. Ketika sedang meneliti gerhana matahari total mereka menemukan sebuah garis baru di spektrum sinar matahari. Mereka menyakini bahwa itu adalah lapisan gas yang belum diketahui sebelummnya, lalu mereka menamainya Helium.
Berikut ini adalah asal-usul mana unsur-unsur Gas Mulia, yaitu:
a. Helium à ήλιος (ílios or helios) = Matahari
b. Neon à νέος (néos) = Baru
c. Argon à αργός (argós) = Malas
d. Kripton à κρυπτός (kryptós) = Tersembunyi
e. Xenon à ξένος (xénos) = Asing
f. Radon (pengecualian) diambil dari Radium

Nama-nama di atas diambil dari bahasa Yunani. Pada awalnya, Gas Mulia dinyatakan sebagai gas yang inert tetapi julukan ini disanggah ketika ditemukan senyawa Gas Mulia.

Keberadaan di Alam
Unsur-unsur Gas Mulia, kecuali Radon, melimpah jumlahnya karena terdapat dalam udara bebas. Argon terdapat di udara bebas dengan kadar 0,93%, Neon 1,8×10-3%, Helium 5,2×10-4%, Kripton 1,1×10-4%, dan Xenon 8,7×10-6%. Helium adalah unsur terbanyak jumlahnya di alam semesta karena Helium adalah salah satu unsur penyusun bintang.
jensi-jenis gas mulia
A. Helium (He)
Helium (He) adalah unsur kimia yang tak berwarna, tak berbau, tak berasa, tak beracun, hampir inert dan monatomik. Titik didih dan titik leburnya merupakan yang terendah dari unsur-unsur lain dan ia hanya ada dalam bentuk gas kecuali dalam kondisi “ekstrem“. Helium juga tidak beracun.
Helium memiliki sifat lainnya, yaitu sebagai satu-satunya benda cair yang tidak diubah bentuknya menjadi benda padat hanya dengan menurunkan suhu. Helium tetap dalam bentuknya yang cair sampai 0 K pada tekanan normal, tetapi akan segera berbentuk padat jika tekanan udara dinaikan.
Helium adalah unsur kedua terbanyak dan teringan di jagad raya dan salah satu unsur yang diciptakan pada saat nukleosintesis Big Bang. Dalam Jagad Raya modern hampir seluruh helium baru diciptakan dalam proses fusi nuklir hidrogen di dalam bintang. Di Bumi, unsur ini diciptakan oleh peluruhan radioaktif dari unsur yang lebih berat (partikel alfa adalah nukleus helium). Setelah penciptaannya, sebagian darinya terkandung di udara (gas alami) dalam konsentrasi sampai 7% volume. Helium dimurnikan dari udara oleh proses pemisahan suhu rendah yang disebut distilasi fraksional.
Pada 1868, astronom Prancis Pierre Janssen mendeteksi pertama kali helium sebagai signatur garis spektral kuning yang tak diketahui dari cahaya dari gerhana matahari. Sejak itu kandungan helium besar banyak ditemukan di ladang gas alam di Amerika Serikat, yang merupakan penyedia gas terbesar. Helium digunakan dalam kryogenik, sistem pernafasan laut dalam, untuk mendinginkan magnet superkonduktor, dalam “helium dating”, untuk pengembangan balon, untuk mengangkat kapal udara dan sebagai gas pelindung untuk penggunaan industri (seperti “arc welding”) dan penumbuhan wafer silikon). Menghirup sejumlah kecil gas ini akan menyebabkan perubahan sementara kualitas suara seseorang.

B. Neon (Ne)
Neon adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Ne dan nomor atom 10. Neon termasuk kelompok gas mulia yang tak berwarna dan lembam (inert). Zat ini memberikan pendar khas kemerahan jika digunakan di tabung hampa (vacuum discharge tube) dan lampu neon. Sifat ini membuat neon terutama dipergunakan sebagai bahan pembuatan tanda (sign).
C. Argon (Ar)
Argon adalah suatu unsur kimia dalam sistem periodik yang memiliki lambang Ar dan nomor atom 18. Argon adalah unsur terbanyak pertama di udara bebas (udara kering) dan ketiga paling melimpah di alam semesta. Sekitar 1% dari atmosfer bumi adalah Argon. Argon adalah unsur yang tak berwarna dan tak berbau. Jumlah unsur ini terus bertambah sejak bumi terbentuk karena Kalium yang radioaktif berubah menjadi Argon.
Keberadaan argon di udara sudah diduga oleh Cavendish pada tahun 1785, dan ditemukan oleh Lord Raleigh dan Sir William Ramsay pada tahun 1894. Argon dihasilkan dari penyulingan bertingkat udara cair karena atmosfer mengandung 0.94% Argon. Atmosfer Mars mengandung 1.6% isotop Argon 40 dan sebesar 5 ppm untuk isotop Argon 36.
Argon larut dalam air, 2.5 kali lipat daripada nitrogen, dan memiliki kelarutan yang sama dengan oksigen. Argon tidak berwarna dan tidak berbau, baik dalam bentuk gas dan cair. Argon dikenal sebagai gas inert dan tidak diketahui senyawa kimia yang dibentuknya seperti halnya krypton, xenon dan radon.
Secara alami, Argon merupakan campuran dari 3 isotop. Diketahui 12 isotop lainnya yang bersifat radioaktif. Argon diproduksi dengan metode destilasi udara cair, sebuah proses yang memisahkan nitrogen cair yang bertitik didih 77,3 K dari Argon yang bertitik didih 87,3 K dan oksigen yang bertitik didih 90,2 K.
D. Kripton (Kr)
Kripton adalah suatu unsur kimia dalam sistem periodik yang memiliki lambang Kr dan nomor atom 36. Gas tak berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Kripton bersifat non magnetik.
E. Xenon (Xe)
Xenon adalah unsur dengan lambang kimia Xe, nomor atom 54 dan massa atom relatif 131,29; berupa gas mulia, tak berwarna, tak berbau dan tidak ada rasanya.
Xenon diperoleh dari udara yang dicairkan. Xenon dipergunakan untuk mengisi lampu sorot, dan lampu berintensitas tinggi lainnya, mengisi bilik gelembung yang dipergunakan oleh ahli fisika untuk mempelajari partikel sub-atom.
F. Radon (Rn)
Radon adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang Rn dan nomor atom 86. Radon juga termasuk dalam kelompok gas mulia dan beradioaktif. Radon terbentuk dari penguraian radium. Radon juga gas yang paling berat dan berbahaya bagi kesehatan.
Radon tidak mudah bereaksi secara kimia, tetapi beradioaktif, radon juga adalah gas alami (senyawa gas terberat adalah tungsten heksaflorida, WF6). Pada suhu dan tekanan ruang, radon tidak berwarna tetapi apabila didinginkan hingga membeku, radon akan berwarna kuning, sedang kan radon cair berwarna merah

DAYA OKSIDASI RELATIF HALOGEN DAN IDENTIFIKASI HALIDA

Unsur halogen atau unsur golongan VII A terdiri dari lima unsur diantaranya Flor, Klor, Brom, Iod, dan astatin. Namun dalam praktikum hanya brom, klor, dan iod saja yang diuji. Flor dan astatin tidak diuji karena flor sangat reaktif dan astatin merupakan unsur radioktif.
a. Pelarutan halogen dalam senyawa organik (TCE) dan air
Halogen dilarutkan dalam senyawa organik TCE (triklor etana). Dari ketiga air halogen yang dilarutkan tersebut tidak ada satupun yanglarut dalam TCE. Setelah direaksikan ketiganya tidak menyatu dalam TCE dan membenuk dua lapisan warna yang berbeda untuk setiap unsur halogen. Awalnya air brom berwarna merah kecokelatan, air iod berarna merah kecokelatan yang lebih muda semetara air klor tidak berwarna (bening) sama halnya dengan pelarut organik TCE yang juga tidak berwarna . Pada pencampuran brom dengan TCE dihasilkan dua lapis warna dimana terbentuk warna….di bagian atasdan warna..di bagian bawah.Warna yang berbeda ditunjukkan oleh unsur iod dimana dua lapisan warna yang terbentuk adalah warna …di bagian atasdan warna…di bagian bawah. Sementara itu air kor dan TCE yang sama sama bening pun tidak dapat tercampur.
Sementara itu hal yang berbedaterjadi ketika airhalogen direaksikan dalam aquades. Kali ini airhalogen dpat larut dan menghasilkan warna yang khas. Campuran brom dengan aquades enghasilkan warna…..klor dengan aquades menghsilkan warna…dan campran aquades dengan aquades tidak merubah warna(warna tetap bening).

b. Daya oksidasi relatif halogen
Dari atas ke bawah (cl, br , i ) daya oksidasi semakin kecil. Ini berarti cl dapat mengoksidai br dan i. Br dapat mengoksiasi i namun tidak dapat mengoksidasi br. Sementara i tidak dapat mengoksidasi baik br maupun cl.
1. Br2 dan cl-
Daya oksidasi br < cl sehingga br tidak dapat mengoksidasi cl.
Br2 + cl- =
Br yang tidak dapat mengoksidasi cl ditenjukkan padapraktikumd dilmana br2 yang telah direaksikan dengan TCE tidak mengalami perubahanwarna pasca direaksikan dengan cl.
2. Br2 dan i-
Daya oksidasi br lebih besar daripada i. Dengan demikian brdapat mengoksidasi i.
Br2 + i- = br- + I2
Br2 dalam keadaan bebas mampu mendesak ion i- sehingga br2 menjadi terikat br- sedangkan i-menjadi bentuk bebas (I2)
3. Cl2 dan br-
Klor memiliki daya oksidasi yang lebih besr dari br ehingga cl2 dapat mendesak br- sehingga cl2 menjadi terikat (cl-) sedangkan br- menjadi bentuk bebas br2.
4. Cl2 dapat

Titrasi Asidimetri

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

Asidimetri adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku basa. Titrasi asidimetri termasuk kedalam titrasi netralisasi. Titrasi adalah proses mengukur volume larutan yang terdapat dalam buret yang ditambahkan ke dalam larutan lain yang diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Atau dengan perkataan lain untuk mengukur volume titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Titik ekivalen adalah saat yang menunjukkan bahwa ekivalen perekasi-pereaksi sama. Di dalam prakteknya titik ekivalen sukar diamati, karena hanya meruapakan titik akhir teoritis atau titik akhir stoikometri. Hal ini diatasi dengan pemberian indikator asam-basa yang membantu sehingga titik akhir titrasi dapat diketahui. Titik akhir titrasi meruapakan keadaan di mana penambahan satu tetes zat penitrasi (titran) akan menyebabkan perubahan warna indikator (Anonim a, 2010).
Titrasi asidimetri menyangkut reaksi dengan asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa kuat, asam kuat-garam dari asam lemah, basa kuat-garam dari basa lemah. Titrasi ini menggunakan indikator pH atau indikator asam-basa sebagai penanda karena memiliki sifat dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Warna asam ialah sebutan warna indikator ketika dalam keadaan asam dan warna basa ketika dalam keadaan basa (Harjadi 1986).
Tujuan titrasi netralisasi adalah untuk menentukan banyaknya asam atau basa yang terdapat dalam suatu larutan. Pada titik ekivalen, tidak ada lagi kelebihan asam atau basa dan terbentuklah larutan garam.

Peneraan Volumetrik

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

Teori
Dasar umum dalam peneraan adalah untuk menentukan berat air yang dimuat atau dikeluarkan oleh suatu alat gelas tertentu, kemudian dengan densitas air yang diketahui volume yang betul dapat dihitung. National Bureau of Standaris telah menetapkan 20oC sebagai suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas, karena suhu Laboratorium biasanya tidak akan tepat 20oC. Maka peralatan gelas pada hakikatnya, harus dikoreksi apabila digunakan pada suhu lain.
Alat perngukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kuantitatif dari sifat dan fungsi dapat dibedakan : pipet, buret, dan labu takar. Pipet merupakan alat untuk mengukur volume kecil . Pipet volume digunakan untuk mengukur volume tertentu. Pipet harus ditera sebelum digunakan, yaitu pada penggunaan pipet volume tertentu cairan harus mengalir keluar secara kuantitatif. Buret mempunyai ujung pelepasan yang dapat diatur, berupa tabung kaca dengan ukuran isi, 5, 10, 20, atau 50 mL yang bagian bawahnya ditutup dengan keran gelas. Buret ditera melalui pelepasannya.
Hasil akhir analisis kimia secara kuantitatif biasanya menunjukkan konsentrasi suatu senyawa di dalam sampel, hasil ini biasanya tidak selalu tepat. Oleh karena itu diperlukan cara untuk mengurangi ketidaktepatan tersebut agar hasilnya bisa dipertanggungjawabkan. Akurasi merupakan tingkat ketepatan antara nilai terukur dengan nilai yang sebenarnya. Presisi adalah tingkat atau derajat ketepatan atau menghasilkan nilayi yang sama untuk setiap pengukuran yang dilakukan secara berulang.
Ada dua kelompok kesalahan dapat mempengaruhi akurasi atau presisi dari nilai terukur. Kesalahan pasti adalah suatu kesalahan yang dapat ditentukan dan dapat dihindari atau koreksi. Kesalahan ini biasanya konstan, misalnya pada kasus timbangan yang tak terkalibrasi yang biasanya digunakan untuk penimbangan. Kesalahan ini kadang-kadang bervariasi, tetapi dapat dihitung dan dikorekksi, seperti suatu buret yang mempunyai kesalahan pada pembacaan volumenya. Kesalahan tak pasti atau kesalahan acak yaitu suatu kesalahan pengukuran yang terjadi secara tak tentu. Kesalahan ini tak dapat diramalkan atau diduga. Kesalahan ini mengikuti pola distribusi acak, jadi persamaan matematika mengenai probabilitas dapat diterapkan pada beberapa kesimpulan dari hasil pengukuran yang mungkin pada sederetan pengukuran. Kesalahan tak pasti sesungguhnya dikarenakan kemampuan yang terbatas dari analis (Anonim, 2000:2-3).
Prasyarat pertama untuk pengukuran yang tepat dan membuatnya sampai volume tertentu adalah alat gelas yang memenuhi syarat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penetapan volume sebenarnya dari wadah gelas adalah :
1. Berat jenis air tergantung pada suhu, sehingga berat satu liter air bukan 1000 gram untuk semua suhu.
2. Oleh karena gaya tekan udara, yang pada suhu tertentu tergantung pada tekanan barometer, satu wadah dengan volume besar beratnya akan lebih kecil, dibanding apabila ini ditimbang dalam hampa, dan seharusnya diadakan koreksi.
3. Volume wadah gelas berubah-ubah dengan suhu.
(Eckschlager, 1984).
National Bureau of Standart telah menetapkan suhu untuk mengadakan kalibrasi peralatan gelas. Karena suhu laboratorium biasanya tidak akan tepat 20ºC, maka alat gelas pada hakekatnya harus dikoreksi bila digunakan pada suhu lain, oleh karena kesalahan yang disebabkan oleh pemuaian (atau kontraksi) baik dari bejana itu sendiri maupun larutan yang ada didalamnya (Day, 1981).
Alat pengukur volume merupakan alat bantu yang penting untuk setiap penentuan kualitatif. Dari sifat dan fungsi dapat dibedakan atas pipet, buret, labu ukur, dan gelas ukur. Dalam penggunaan alat ukur volume ini dapat terjadi kesalahan. Salah satunya adalah kesalahan kalibrasi karena volume yang tertera tidak sesuai dengan volume yang sebenarnya (Roth, 1988).
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam peneraan alat-alat ukur gelas volumetrik antara lain:
Koreksi suhu yang tidak sama (a)
Koreksi terhadap adanya gaya tekan ke atas dari udara (b)
Koreksi adanya pemuaian dari kaca (c)
Untuk volume 1 Liter maka
Koreksi suhu yang tidak sama dapat ditentukan melalui rumus :
a = 1000 – (1000 x s) x 1000
Koreksi adanya gaya tekan ke atas dapat dihitung sebagai berikut
b = 1000 – 1000 – (a+b+c) x 1
8,4
Dimana:
8,4 adalah berat jenis dari anak timbangan
1 = 1,292052
1 + 0,00976t
Koreksi dari pemuaian kaca dapat ditentukan melalui rumus berikut ini:
c=1000 ×(20-t) ×0,000025 g
dimana : t = suhu percobaan
Jenis Alat Keterangan
Pipet Volum (ml) 2 5 10 25 50 100
Batas toleransi 0,006 0,01 0,02 0,025 0,05 0,08
buret Volum (ml) 2 10 50 100
Batas toleransi 0,01 0,02 0,05 0,1

Laporan Peneraan Volumetrik

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

A. Data Pengamatan
Suhu air yang diuji : 25°C
Tekanan : 667 mmHg
Densitas air : 0,99704 g/cm3
Alat yang dikalibrasi : Pipet ukur 10 mL (merk witeg, ± 0,08 mL)
Volume air (mL) W1 (berat wadah kosong) gram W2 (berat wadah + air) gram W air (W2 – W1 ) gram
1 86,2301 87,2020 0.9719
2 86,2301 88,1629 1,9328
3 86,2301 89,1491 2,9190
4 86,2301 90,1368 3,9067
5 86,2301 91,1348 4,9047
6 86,2301 92,1450 5,9149
7 86,2301 93,1398 6,9097
8 86,2301 94,1780 7,9379
9 86,2301 95,1655 8,9354
10 86,2301 96,1524 9,9223

B. Perhitungan
1. Perhitungan Faktor Koreksi (a)

2. Koreksi terhadap tekanan (b)
b = x 0,99704 x 1000
b = 875,03379 mg
3. Koreksi pemuaian kaca(c)
c = 1000 (20°C – 25°C ) x 0,025
c = – 125 mg

4. Jumlah factor koreksi
Faktor koreksi = a +b + c
= 2960 mg + 875,03379 mg – 125 mg
= 3710,03379 mg
Koreksi untuk alat ukur pipet ukur 10 mL
Faktor koreksi =

5. Pengolahan Data Volume Sebenarnya dan % penyimpangan
Contoh Perhitungan Volume 1 mL
• Massa Air Seharusnya = (1 mL x 3 ) – 0,03710 g
= 0,9599 gram

• Massa Air Pengukuran = (Massa wadah +air)- Massa wadah kosong
= 87,2020gram – 86,2301 gram
=
• Volume sebenarnya = x volume skala
= x 1 mL
= 1,0125 mL
• % Penyimpangan = x 100 %
= 1,25 %
Contoh Perhitungan Volume 4 mL
• Massa Air Seharusnya = (4 mL x 3 ) – 0,03710 g
= 3,9510 gram

• Massa Air Pengukuran = (Massa wadah +air) – Massa wadah kosong
= 90,1368 gram – 86,2301gram
=
• Volume sebenarnya = x volume skala
= x 4 mL
= 3,9551 mL
• % Penyimpangan = x 100 %
= 1,12 %

C. Tabel % penyimpangan

Volume Air (ml) Massa Air Sebenarnya (g) Massa Air Pengukuran (g) Volume Air Sebenarnya (ml) persen Penyimpangan
1 0,9599 0,9719 1,0125 1,25 %
2 1,9569 1,9328 1,9754 1,23 %
3 2,9540 2,9190 2,9644 1,18 %
4 3,9510 3,9067 3,9553 1,12 %
5 4,9481 4,9047 4,9563 0,87 %
6 5,9451 5,9149 5,9695 0,50 %
7 6,9421 6,9097 6,9675 0,46 %
8 7,9392 7,9379 7,9990 0,01 %
9 8,9363 8,9354 8,9995 0,005 %
10 9,9333 9,9223 9,989 0,11 %

D. Grafik antara Volume dan % Penyimpangan

E. Pembahasan
Praktikum peneraan alat-alat ukur gelas volumetrik bertujuan untuk mengkalibrasi suatu alat ukur ,hal ini dilakukan karena pada saat menggunakan alat ukur tersebut seringkali volume yang tertera pada alat tersebut tidak sesuai dengan volume sebenarnya yang disebabkan oleh beberapa factor seperti suhu.Suhu sangat mempengaruhi berat jenis air karena 1 ml air tidak sama dengan 1 gram untuk semua suhu ,Volume wadah gelas pun dapat berubah-rubah dengan suhu yang berbeda begitupun dengan gaya tekan udara yang sangan bergantung pada suhu .Oleh karena itu pada kalibrasi ini dibutuhkan data suhu ,tekanan untuk menghitung factor koreksi baik koreksi suhu,tekanan ataupun pemuaian volume. Alat gelas ukur volumetrik yang digunakan kali ini untuk dikalibrasi adalah Pipet ukur 10 ml (merk witeg, ± 0,08 mL).
Prinsip kerja dari peneraan alat ukur gelas ini adalah dimulai dengan menimbang berat gelas kimia kimia kosong yang bersih dan kering ,gelas kimia yang digunakan adalah gelas kimia 250 ml dengan berat kosong sebesar 86,2301 gram ,kemudian mempipet air sebanyak 10 ml dengan pipet ukur 10 ml dan dituangkan kedalam gelas kimia yang kosong tadi sebanyak 1 ml yang ditimbang setiap penambahan 1 ml tersebut sehingga diperoleh masa dari air setiap penambahan 1 ml .
Dalam kalibrasi alat ukur volumetric ini besarnya akurasi dan presisi yang dihasilkan dipengaruhi oleh beberapa kesalahan seperti kesalahan dalam pembacaan meniskus atau kesalahan dalam penimbangan gelas kimia yang cenderung tidak stabil pada saat pembacaan.kesalahan ini biasa disebut kesalahan paralaks atau kesalahan yang disebabkan oleh manusia.Kesalahan lainnya yaitu kesalahan pada alat yang digunakan seperti misalnya pada kasus timbangan yang tak terkalibrasi yang biasanya digunakan untuk penimbangan.Dengan demikian untuk memperoleh besarnya akurasi dan presisi ataupun % penyimpangan yang baik maka dua kesalahan tersebut sebisa mungkin di minimalisir.
Berdasarkan data percobaan diperoleh persen penyimpangan terbesar yaitu pada pengukuran 1 ml air sebesar 1,28 % sedangkan penyimpangan terkecil pada pengukuran volume 9 ml sebesar 0,005 % sedangkan untuk volume 10 ml diperoleh penyimpangan sebesar 0,11 % .Dari grafik perbandingan volume terhadap persen penyimpangan dapat di simpulkan bahwa semakin banyak banyak volume yang di pipet maka % penyimpangannya semakin kecil walaupun pada pengukuran terakhir yaitu saat 10 ml terjadi sedikit kenaikan penyimpangan dari 0,005 % menjadi 0,11 % .Hal ini terjadi karena kesalahan pada saat mengeluarkan air yang terakhir masih tersisa air yang menempel pada pipet sehingga massa hasil pengukuran lebih sedikit dibandingakn dengan volume seharusnya.
Persentasi penyimpangan yang semakin kecil pada saat volume air yang dikeluarkan semakin besar terjadi Karena banyaknya selisih volume air yang seharusnya dengan volume hasil pengukuran ketika dibagi dengan volume yang semakin besar akan menghasilkan persen volume yang semakin kecil.
F. Kesimpulan

• Semakin besar Volume yang dikeluarkan pipet maka persen penyimpangannya semakin kecil.
• Persen Penyimpangan terbesar adalah 1,28 % pada saat pengukuran 1 ml sedangakn yang terkecil adalah 0,05 % .
• Suhu sangat mempengaruhi kalibrasi suatu alat ukur gelas sehingga perlu dilakukan factor koreksi.

G. Daftar Pustaka

• Eckschlager,K,.1984.Kesalahan Pengukuran dan Hasil dalam Analisis Kimia.PT.Ghalia Indonesia : Jakarta
• Rahmat, Mifta Nur. 2009. Peneraan Volumetri Alat Gelas. http://www.duniainikecil.wordpress.com [11 Mei 2013]
• Anonim.2012.VolumetricWare. http://infohost.nmt.edu/~jaltig/VolumetricWare.pdf [11 Mei 2013]

TDS

Posted: Mei 14, 2013 in Chem-is-Try

Secara garis besar prinsip dari pengukuran ada 3 tahap yakni :
- Variabel yang diukur
- Pengolahan data dari variabel yang terukur
- Mengubah sinyal pengolahan menjadi mudah terbaca
Untuk itu ada pembagian instrumen ukur yang berdasarkan pada fungsional dari masing-masing elemen seperti yang ditunjukkan pada diagram berikut :
Medium terukur elemen pendeteksi pengubah variabel manipulasi
transisi presentasi data Pengamat
Dari blok diagram tersebut dapat dimengerti bahwa proses kalibrasi suatu instrumen ukur adalah tidak mudah. Suatu alat ukur atau instrumen harus mempunyai 3 sifat utama yaitu presisi, akurat, dan repeatability.
Untuk mengetahui presisi dilihat dari deviasi standar, sedangkan akurat dilihat dari linieritas dan repeatability ditinjau dari hysteresis.
TDS adalah total dissolved solids atau total padatan yang terlarut, pengukuran TDS umunya dinyatakan sebagai ppmCaCO¬3, pengukuran TDS ini dilakukan secara spesifik dari larutan elektrolit, kemudian dikalikan dengan suatu faktor konversi hingga menghasilkan besaran yang menyatakan konsentrasi TDS.
Pengukuran konduktivitas spesifik seringkali digunakan dengan sampel air. Dari beberapa literatur menunjukkan kadar padatan terlarut dapat ditentukan melalui perkalian terhadap suatu faktor konversi yang besarnya bervariasi antara 0,55 hingga 0,9. Faktor yang tepat digunakan bergantung pada komponen ion-ion dalam larutan sebagai penghantar arus listrik. Bila komposisi dalam larutan air dapat diketahui, maka nilai konduktivitas ekivalen ionik akan mempermudah pemilihan faktor konversi dari konduktivitas menjadi konsentrasi padatan terlarut.
Salah satu rumus empiris yang menunjukkan hubungan pengukuran konduktivitas dan konsentrasi garam yang terdapat dalam air alam juga digunakan untuk menunjukkan padatan terlarut dalam air adalah sebagai berikut :
Dissolved salts (mg/L) = κ
Dimana :
t = suhu sampel dalam satuan °C
κ = konduktivitas spesifik dalam satuan mhos/cm atau S/cm
Hubungan tersebut diatas memperlihatkan 95 hingga 98% total padatan terlarut bila air-air alam diukur pada kondisi dimana kandungan bahan organik sintetis yang minimum atau sedikit.
Tidak ada elektroda yang tepat untuk mengukur konduktivitas, oleh karena itu pembacaannya harus dikoreksi terhadap kondisi baku/standar dengan penggunaan tetapan sel konduktivitas spesifik (κ) yang dihubungkan terhadap tetapan sel, Q adalah sebagai berikut :

κ = κm x Q
Dimana :
κm = konduktivitas yang terukur pada kondisi standar/ baku, biasanya menggunakan larutan KCl 0,01 M atau 0,1 M pada suhu standar 25°C = 14,13 S/cm (pada 26°C = 14,41 S/cm)
κ = konduktivitas spesifik yang diukur oleh instrumen
Q = tetapan sel