Arsip untuk April, 2013

Gugus Fungsi Senyawa Karbon

Posted: April 25, 2013 in Chem-is-Try

GUGUS FUNGSI SENYAWA KARBON

Banyak senyawa karbon yang mempunyai kemiripan sifat yang dapat diketahui dari reaksi-reaksinya. Hal ini disebabkan oleh gugus fungsional yang terdapat dalam molekul senyawa karbon. Gugus fungsional adalah kelompok atom yang memberikan beberapa sifat kimia yang khas dari senyawa yang molekulnya mengandung gugus tersebut.

 

Gugus fungsi senyawa karbon

GUGUS

GOLONGAN

RUMUS UMUM

 – OH Alkohol / alkanol R – OH
 – O - Alkohol alkana (eter) R – O – R
   O

-  C – H

 

Alkanal (aldehid)

      O

R – C – H

   O

-  C -

 

Alkanol (keton)

      O

R – C – R

   O

-  C – OH

 

Asam karboksilat (asam alkanoat

         O

R  –  C   –   OH

   O

- C – O -

 

Alkil alkanoat (ester)

         O

R –  C – O – R

 

A. ALKOHOL / ALKANOL

Adalah senyawa karbon alifatik yang salah satu atom H dari alkananya diganti oleh gugus hidroksil (-OH)

 

Rumus umum           CnH2n+1 OH       R – OH

Molekul             Struktur

 

 

Nama alkohol merupakan deret homolog dengan mengganti akhiran – ana (pada alkana)

dengan akhiran “-ol”

Contoh : C3H7OH = Propanol (Propil alkohol)

 

Jenis-jenis alkohol :

1. Alkohol primer (gugus OH terikat pada atom C primer)

Struktur R – CH2 – OH

2. Alkohol sekunder (gugus OH terikat pada atom C sekunder)

 

Struktur  :                    R

C – OH

R

3. Alkohol tersier (gugus OH terikat pada atom C tersier)

Struktur :                     R

R – C – OH

R

 

Untuk membedakan alkohol primer, sekunder, dan tersier dapat dilakukan dengan oksidasi dengan oksidator  / KmnO4, H2CrO4, K2CrO7 atau O2.

Berdasarkan hasil oksidasi maka :

  1. Alkohol primer jika atom C yang mengikat OH masih mempunyai 2 atom H
  2. Alkohol sekunder jika atom C yang mengikat OH mempunyai 1 atom H
  3. Alkohol tersier jika atom C yang mengikat OH tidak mempunyai atom H

 

Sifat-sifat alkohol

  1. Semua alkohol berwujud cair pada suhu normal dengan massa jenis sekitar 0,8 gr cm.
  2. Mempunyai titik didih yang tinggi
  3. Dapat larut dalam air
  4. Dapat bereaksi dengan natrium membentuk Na alkoksida (2CH3ONa) dan gas hidrogen

Contoh : 2CH3OH + 2Na →2CH3ONa + H2 metanol

  1. Dapat bereaksi dengan fasfor trihalida membentuk alkil halida.

3C2H5OH + PCl3 →3C2H5Cl + H3PO3

  1. Bila alkohol dan H2SO4 dipanaskan bersama dapat mengalami reaksi dehidrasi yang dapat menghasilkan eter dan alkena

7   Dapat bereaksi dengan asam karbosilat membentuk ester

 

Tata Nama Alkohol

  1. Rantai karbon terpanjang merupakan nama alkohol dan harus mengikat gugus hidroksil (-OH)

 

  1. Atom C yang mengikat OH harus mempunyai nomor serendah mungkin

 

  1. Rantai C cabang harus diberi nomor sedekat mungkin terhadap atom C yang mengikat gugus hidroksil (-OH)

 

Contoh :               m       l       k     j

CH3 – CH2 – CH – CH3                         (2-butanol)

OH

 

 

l        l      j

CH3 – CH – CH2 – OH    (2metil-1-propanol)

CH3

 

 

 

Kegunaan Alkohol

Senyawa-senyawa alkohol digunakan sebagai pelarut, pembersih karat logam, bahan baku parfum, bahan baku spirtus, bahan baku rayon, obat anti septik, campuran minuman keras, bahan bakar (gasohol = bensin + etanol), bahan baku serat sintetik, dan lain-lain

 

Pembuatan Alkohol

Pembuatan alkohol dalam bidang industri dibuat dengan mereaksi gas CO dengan gas H2 pada tekanan 200 atm dan suhu 400o

 

CO(g) + 2H2(g) Cr2O4ZnO   CH3OH

(metanol)

 

Cara lain yang digunakan untuk memperoleh alkohol (etanol) adalah dengan cara fermentasi    (peragian) pada beberapa bahan yang mengandung karbohidrat.

 

2(C6H10O5)n + nH2O   enzim diastase   nC12H22O11

Amilum                                    maltosa

 

C12H22O11 + H2O enzim maltase    2C6H12O6

Maltosa                                       glukosa

 

C6H12O6 enzim zimase 2C2H5OH + 2CO2

Glukosa                                 etanol

 

Polialkohol

Polialkohol adalah senyawa yang mengandsung lebih dari satu gugus –OH terdiri dari :

Etilen glikol, dibiat dari oksidasi etena dan proses hidrolisis pada suhu 250oC dengan katalis

logam perak.

 

CH2 = CH2 (O) + H2O  CH2OH – CH2OH

 

Etilen glikol, digunakan sebagai campuran air radiator kendaraan bermotor agar tidak membeku pada suhu di bawah 0oC dan merupakan bahan baku serat sintetik (tetoron).

Gliserol, dihasilkan reaksi pembuatan sabun yang digunakan sebagai pelarut obat-obatan dan kosmetika dan merupakan bahan baku bahan peledak nitrogliserin

 

CH2 – OH

CH – OH

CH2 – OH

(gliserol)

 

Isomer Alkohol

Alkohol mempunyai keisomeran posisi dan isomer optik.

Contoh isomer posisi Alkohol.

OH

CH3 – CH2 – CH2 – OH dengan CH3 – CH – CH3

1- propanol                                        2-propanol

 

 

Contoh isomer optik alkohol

 

d-2-butanol                                                                  l-2-butanol

 

OH                                                                                 H

│                                                                                    │

CH3 – CH2 – C – CH3                                                   CH3 – CH2 – C – CH3

│                                                                                    │

H                                                                                 OH

 

B. ETER (Alkoksi Alkana)

Adalah senyawa karbon dimana terdapat gugus fungsi – O – terikat pada dua gugus alkil yang sama atau berbeda

 

 

Rumus-rumus eter     CnH2n+1 – O –  CnH2n+1                    R – O – R

Molekul                                 struktur

 Contoh : CH3 – O – CH3 = metoksimetana (dimetil eter)

 

Sifat-sifat eter

  1. Mudah menguap dan sukar larut dalam air
  2. Sukar bereaksi sehingga sering digunakan sebagai pelarut organik
  3. Dapat bereaksi dengan asam-asam halida (Hl dan HBr) membentuk alkohol dan alkil halida

 

R – O – R +        H           →  ROH      +        RX

Eter          asam halida       alkohol            alkil halida

 

Gugus alkil panjang membentuk alkohol dan gugus alkil yang pendek membentuk alkil halida

 

Tata Nama Eter

  1. Etoksi etana digunakan sebagai pelarut dan obat bius.
  2. Metil tertier butil eter (MTB) digunakan untuk menggantikan TEL dalam bensin

 

Isomer Eter

Eter merupakan isomer fungsi dari alkohol karena mempunyai molekul yang sama  (atom C dan atom H) Yaitu : CnH2n+2 + O        

 

Contoh :  CH3 – O – CH2 – CH2 – CH3                              Metil propil Eter

 

CH3 – C – O – CH2 – CH3                                      Dietil Eter

CH3 – O – CH – CH3                                    Metil isopropil Eter

 

 

CH3

 

 

 

 

 

 

C. REAKSI IDENTIFIKASI UNTUK MEMBEDAKAN ALKOHOL DAN ETER.

 

 

ALKOHOL

ETER

  1. Bereaksi dengan logam Na

R – O – H + Na  →

 

R – O – Na + ½ H2

2. Bereaksi dengan PX3

R – OH + PX3  →

R – X + P(OH) 3

 

  1. Dapat dioksidasi oleh K2Cr2O7

lingkungan asam

Alkohol primer + (O)  → aldehid + air

Aldehid + (O)  →   asam alkanoat

  1. Tidak bereaksi dengan logam Na

R – O – R’ + Na   /

 

 

  1. Tidak berteaksi dengan PX3

R – O – R’ + PX3    /

 

 

  1. Tidak dapat dioksidasi

R – O – R’ + (O)     /

Atomic Absorption Spektrophotometry (AAS)

Spektrofotometri Serapan Atom

 

BAB I

PRNDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

 

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri Serapan Atom adalah salah satu jenis analisa spektrofometri dimana dasar pengukurannya adalah pengukuran serapan  suatu sinar  oleh suatu atom, sinar yang tidak diserap, diteruskan dan diubah menjadi sinyal listrik yang terukur. AAS pertama kali diperkenalkan oleh Welsh (Australia) pada tahun 1955. AAS merupakan suatu metode yang populer untuk analisa logam, karena disamping sederhana, ia juga sensitif dan selektif.

 

 

 

 

 

 

Alat Atomic Absorption Spectrophotometer

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak pada makin meningkatnya pengetahuan serta kemampuan dari manusia. Betapa tidak setiap manusia lebih dituntut dan diarahkan kearah ilmu pengetahuan dan teknologi di segala bidang. Tidak ketinggalan pula ilmu kimia yang identik dengan ilmu mikropun tidak luput dari sosrotan perkebangan IPTEK ini. Belakangan ini telah lahir IPTEK-IPTEK yang berpeluang mempermudah dalam keperluan analisis kimia. Salah satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang biasa dikenal sekarang diantaranya alat serapan atom yang kemudian sangat mendukung dalam analisis kimia dengan metode Spektroskopis Serapan Atom (SSA).

Para ahli kimia sudah lama menggunakan warna sebagai suatu pembantu dalam mengidentifikasi zat kimia. Dimana, serapan atom telah dikenal bertahun-tahun yang lalu. Dewasa ini penggunaan istilah spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistim kimia itu sebagai fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu gelomabng tertentu. Perpanjangan spektrofotometri serapan atom ke unsur-unsur lain semula merupakan akibat perkembangan spektroskopi pancaran nyala. Bila disinari dengan benar, kadang-kadang dapat terlihat tetes-tetes sample yang belum menguap keluar dari puncak nyala, dan gas-gas nyala itu terencerkan oleh udara yang menyerobot masuk sebagai akibat tekanan rendah yang diciptakan oleh kecepatan tinggi itu, lagi pula sistim optis itu tidak memerikasa seluruh nayala melainkan hanya mengurusi suatu daerah dengan jarak tertentu diatas titik puncak pembakar.

Selain dengan metode serapan atom unsur-unsur dengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala, tetapi untuk unsur-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya dapat dilakukan dengan fotomeetri nyala. Untuk analisisi dengan garis spektrum resonansi antara 400-800 nm, fotometri nyala sangat berguna, sedangkan antara 200-300 nm, metode AAS lebih baik dari fotometri nyala. Untuk analisis kualitatif, metode fotometri nyala lebih disukai dari AAS, karena AAS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan dalam AAS merupakan syarat utama. Suatu perubahan temperatur nyala akan mengganggu proses eksitasi sehingga analisis dalam fotometri nyala dapat berfarisasi hasilnya. Dari segi biaya operasi, AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplementer satu sama lainnya.

 

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar beklakang diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah teori dasar serta prinsip kerja Spektroskopi Serapan Atom (SSA)?

2. Bagaimanakah Penggunaan / penerapan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dalam proses analis kimia?

3. Apakah sajakah gangguan-gangguan yang biasa terjadi pada metode Spektroskopi Serapan Atom (SSA)?

1.3 Manfaat Penulisan

Adapun Manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini selain memenuhi tugas dari dosen mata kuliah, juga bertujuan agar penulis maupun pembaca dapat mengetahui lebih mendalam tentang bagaimana metode ataupun prinsip kerja dari Spektroskopi Serapan Atom (SSA) itu sendiri, selain itu juga diharapkan agar kita dapat melihat sejauh mana efisiensi dari penggunaan metode ini jika dilihat dari kelebihan dan kekurangannya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Teori Singkat Spektroskopi Serapan Atom (SSA)

Sejarah singkat tentang serapan atom pertama kali diamati oleh Frounhofer, yang pada saat itu menelaah garis-garis hitam pada spetrum matahari. Sedangkan yang mememfaatkan prinsip serapan atom pada bidang analisis adalah seorang Australia bernama Alan Walsh di tahun 1995. Sebelum ahli kimia banyak tergantung pada cara-cara spektrofotometrik atau metode analis spektrografik. Beberapa cara ini yang sulit dan memakan waktu, kemudian segera di gantikan dengan Spektroskopi Serapan Atom atau Atomic Absorption Spectroscopy (ASS). Metode ini sangat tepat untuk analisis Zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan di bandingkan metode spektroskopi emisi konvensional.Memang selain dengan metode serapan atom,unsur-unsur dengan energi eksitasi dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala,tetapi untuk unsure-unsur dengan energi eksitasi tinggi hanya dapat dilakukan dengan fotometri nyala Untuk analisis dengan garis spectrum resonansi antara 400-800 nm,fotometri nyala sangat berguna sedangkan antara 200-300 nm metode ASS lebih baik daripada fotometri nyala.Untuk analisis kualitatif,metode fotometri nyala lebih disukai dari ASS, karena ASS memerlukan lampu katoda spesifik (hallow cathode).kemonokromatisan dalam ASS merupakan sarat utama. Dari segi biaya AAS lebih mahal dari fotometri nyala berfilter. Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakan komplomenter satu sama lainnya.

Komponen-komponen lainnya dari sebuah spektrofotometer serapan atom adalah konfensional sifatnya. Monokromatornya dapat tak semahal monokromator spektrofotometer biasa yang sepadan kualitasnya, karena kurang dituntut. Satu-satunya tuntutan adalah bahwa monokromator itu melewatkan garis resonan yang dipilih, tanpa dibarengi garis-garis lain dalam spektrum sumber cahaya yang timbul dari katode logam atau gas lambannya.

Metode AAS berprinsip pada absorpsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelaombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Misalkan Natrium menyerap pada 589 nm, uranium pada 358,5 nm sedangkan kalium pada 766,5 nm. Cahaya pada gelombang ini mempunyai cukup energi untuk mengubah tingkat elektronik suatu atom. Dengan absorpsi energi, berarti memperoleh lebih banyak energi, suatu atom pada keadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkat eksitasinya pun bermacam-macam. Misalnya unsur Na dengan nomor atom 11 mempunyai konfigurasi elektron 1s2 2s2 2p6 3s1, tingkat dasar untuk elektron valensi 3S, artinya tidak memiliki kelebihan energi. Elektron ini dapat tereksitasi ketingkat 3p dengan energi 2,2 eV ataupun ketingkat 4p dengan energi 3,6 eV, masing-masing sesuai dengan panjang gelombang sebesar 589nm dan 330 nm. Kita dapat memilih diantara panjang gelombang ini yang menghasilkan garis spektrum yang tajam dan dengan intensitas maksimum, yang dikenal dengan garis resonansi. Garis-garis lain yang bukan garis resonansi dapat berupa spektrum yang berasosiasi dengan tingkat energi molekul, biasanya berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasi tingkat dasar yang disebabkan proses atomisasinya.

 

 

Pengertian Atomic Absorption Spectrometry

Spektrofotometri Serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada penyerapan (absorpsi) radiasi oleh atom-atom bebas unsur tersebut.

Sekitar 67 unsur telah dapat ditentukan dengan cara AAS. Banyak penentuan unsur-unsur logam yang sebelumnya dilakukan dengan metoda polarografi, kemudian dengan metoda spektrofotometri UV-VIS, sekarang banyak diganti dengan metoda AAS.

Prinsip pengukuran dengan metode AAS adalah adanya absorpsi sinar UV atau Vis oleh atom-atom logam dalam keadaan dasar yang terdapat dalam “bagian pembentuk atom”. Sinar UV atau Vis yang diabsorpsi berasal dari emeisi cahaya logam yang terdapat pada sumber energi “HOLLOW CATHODE”.

Sinar yang berasal dari “HOLLOW CATHODE” diserap oleh atom-atom logam yang terdapat dalam nyala api, sehingga konfigurasi atom tersebut menjadi keadaan tereksitasi. Apabila electron kembali ke keadaan dasar “GROUND STATE” maka akan mengemisikan cahayanya. Besarnya intensitas cahaya yang diemisikan sebanding dengan konsentrasi sampel (berupa atom) yang terdapat pada nyala api.

Ada lima komponen dasar alat SSA :

1)      SUMBER SINAR, biasanya dalam bentuk “ HOLLOW CATHODE” yang mengemisikan spectrum sinar yang akan diserap oleh atom.

2)      Nyala Api, merupakan sel absorpsi yang menghasilkan sampel berupa atom-atom

3)      Monokromator, untuk mendispersikan sinar dengan panjang gelombang tertentu

4)      Detektor, untuk mengukur intensitas sinar dan memperkuat sinyal

5)      Readout, gambaran yang menunjukan pembacaan setelah diproses oleh alat elektronik

Seperti umumnya pada peralatan spectrometer, analisi kuantitatif suatu sampel berdasarkan Hukum Lambert-Beer, yaitu :

A = ε b C

Keterangan:  – A = absorbansi

-            ε = absorptivitas molar

-            b = lebar sampel yang dilalui sinar

-            C = Konsentrasi zat

Rumusan hokum Lambert Beer menunjukan bahwa besarnya nilai absorbansi berbanding lurus (linear) dengan konsentrasi. Berdasarkan penelitian, kelinieran hokum Lamber-Beer umumnya hanya terbatas pada nilai absorban 0,2 sampai dengan 0,8.

Hukum Lambert Beer dapat diterapkan pada metode standar biasa dan metode standar adisi.

STANDAR BIASA STANDAR ADISI
  1. 1.      Pengukuran sampel dan standar dilakukan secara terpisah
1.Pengukuran sampel dan standar dilakukan secara bersamaan
  1. 2.      Pada kurva kalibrasinya hanya ada slop
2.Pada kurva kalibrasinya selain ada slop ada juga intersep
  1. 3.      Cara penentuan konsentrasi sampel langsung diplotkan ke kurva kalibrasi
3.Cara penentuan konsentrasi sampel diplotkan ke kurva kalibrasi secara tidak langsung

 

  1. b.      Prinsip Dasar

 

Prinsip dasar dari pengukuran secara AAS ini adalah, proses penguraian molekul menjadi atom dengan batuan energi dari api atau listrik. Atom yang berada dalam keadaan dasar ini bisa menyerap sinar yang dipancarkan oleh sumber sinar, pada tahap ini atom akan berada pada keadaan tereksitasi. Sinar yang tidak diserap oleh atom akan diteruskan dan dipancarkan pada detektor, kemudian diubah menjadi sinyal yang terukur. Panjang gelombang sinar bergantung pada konfigurasi elektron dari atom sedangkan intensitasnya bergantung pada jumlah atom dalam keadaan dasar, dengan demikian AAS dapat digunakan baik untuk analisa kuantitatif maupun kualitatif.

 

 

Spektrofotometri serapan atom (AAS) adalah suatu metode analisis yang didasarkan pada proses penyerapan energi radiasi oleh atom-atom yang berada pada tingkat energi dasar (ground state).

Penyerapan tersebut menyebabkan tereksitasinya elektron dalam kulit atom ke tingkat energi yang lebih tinggi. Keadaan ini bersifat labil, elektron akan kembali ke tingkat energi dasar sambil mengeluarkan energi yang berbentuk radiasi.

Dalam AAS, atom bebas berinteraksi dengan berbagai bentuk energi seperti energi panas, energi elektromagnetik, energi kimia dan energi listrik. Interaksi ini menimbulkan proses-proses dalam atom bebas yang menghasilkan absorpsi dan emisi (pancaran) radiasi dan panas.

Radiasi yang dipancarkan bersifat khas karena mempunyai panjang gelombang yang karakteristik untuk setiap atom bebas.

Adanya absorpsi atau emisi radiasi disebabkan adanya transisi elektronik yaitu perpindahan electron dalam atom, dari tingkat energi yang satu ke tingkat energi yang lain.

Absorpsi radiasi terjadi apabila ada elektron yang mengabsorpsi energi radiasi sehingga berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Emisi terjadi apabila ada elektron yang berpindah ke tingkat energi yang lebih rendah sehingga terjadi pelepasan energi dalam bentuk radiasi.

Panjang gelombang dari radiasi yang menyebabkan eksitasi ke tingkat eksitasi tingkat-1 disebut panjang gelombang radiasi resonansi. Radiasi ini berasal dari unsur logam/metalloid.

Radiasi resonansi dari unsur X hanya dapat diabsorpsi oleh atom X, sebaliknya atom X tidak dapat mengabsorpsi radiasi resonansi unsur Y. Tak ada satupun unsur dalam susunan berkala yang radiasi resonansinya menyamai unsur lain.

 

 

 

 

 

 

 

Hal inilah yang menyebabkan metode AAS sangat spesifik dan hampir bebas gangguan karena frekuensi radiasi yang diserap adalah karakteristik untuk setiap unsur. Gangguan hanya akan terjadi apabila panjang radiasi resonansi dari dua unsur yang sangat berdekatan satu sama lain.

c. Jenis dan tipe AAS
Ada tiga cara atomisasi (pembentukan atom) dalam AAS :

1. Atomisasi dengan nyala

Suatu senyawa logam yang dipanaskan akan membentuk atom logam pada suhu ± 1700 ºC atau lebih. Sampel yang berbentuk cairan akan dilakukan atomisasi dengan cara memasukan cairan tersebut ke dalam nyala campuran gas bakar. Tingginya suhu nyala yang diperlukan untuk atomisasi setiap unsure berbeda. Beberapa unsur dapat ditentukan dengan nyala dari campuran gas yang berbeda tetapi penggunaan bahan bakar dan oksidan yang berbeda akan memberikan sensitivitas yang berbeda pula.

 

Syarat-syarat gas yang dapat digunakan dalam atomisasi dengan nyala:

• Campuran gas memberikan suhu nyala yang sesuai untuk atomisasi unsur yang akan dianalisa

• Tidak berbahaya misalnya tidak mudah menimbulkan ledakan.

• Gas cukup aman, tidak beracun dan mudah dikendalikan

• Gas cukup murni dan bersih (UHP)

Campuran gas yang paling umum digunakan adalah Udara : C2H2 (suhu nyala 1900 – 2000 ºC), N2O : C2H2 (suhu nyala 2700 – 3000 ºC), Udara : propana (suhu nyala 1700 – 1900 ºC). Banyaknya atom dalam nyala tergantung pada suhu nyala. Suhu nyala tergantung perbandingan gas bahan bakar dan oksidan.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan pada atomisasi dengan nyala :

1. Standar dan sampel harus dipersiapkan dalam bentuk larutan dan cukup stabil. Dianjurkan dalam larutan dengan keasaman yang rendah untuk mencegah korosi.

2. Atomisasi dilakukan dengan nyala dari campuran gas yang sesuai dengan unsur yang dianalisa.

3. Persyaratan bila menggunakan pelarut organik :

• Tidak mudah meledak bila kena panas

• Mempunyai berat jenis > 0,7 g/mL

• Mempunyai titik didih > 100 ºC

• Mempunyai titik nyala yang tinggi

• Tidak menggunakan pelarut hidrokarbon

 

Pembuatan atom bebas dengan menggunakan nyala (Flame AAS)

Contoh: Suatu larutan MX, setelah dinebulisasi ke dalam spray chamber sehingga terbentuk aerosol kemudian dibawa ke dalam nyala oleh campuran gas oksidan dan bahan bakar akan mengalami proses atomisasi

 

2. Atomisasi tanpa nyala

Atomisasi tanpa nyala dilakukan dengan mengalirkan energi listrik pada batang karbon (CRA – Carbon Rod Atomizer) atau tabung karbon (GTA – Graphite Tube Atomizer) yang mempunyai 2 elektroda.

Sampel dimasukan ke dalam CRA atau GTA. Arus listrik dialirkan sehingga batang atau tabung menjadi panas (suhu naik menjadi tinggi) dan unsur yang dianalisa akan teratomisasi. Suhu dapat diatur hingga 3000 ºC. pemanasan larutan sampel melalui tiga tahapan yaitu :

•    Tahap pengeringan (drying) untuk menguapkan pelarut

•  Pengabuan (ashing), suhu furnace dinaikkan bertahap sampai terjadi dekomposisi dan penguapan senyawa organik yang ada dalam sampel sehingga diperoleh garam atau oksida logam

•  Pengatoman (atomization)

 

3. Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida

Atomisasi dengan pembentukan senyawa hidrida dilakukan untuk unsur As, Se, Sb yang mudah terurai apabila dipanaskan pada suhu lebih dari 800 ºC sehingga atomisasi dilakukan dengan membentuk senyawa hibrida berbentuk gas atau yang lebih terurai menjadi atom-atomnya melalui reaksi reduksi oleh SnCl2 atau NaBH4, contohnya merkuri (Hg).

 

as4. Bagian-Bagian Spectrometry AAS dan fungsinya

 

 

Skema peralatan AAS

1.Sumber radiasi berupa lampu katoda berongga

2.Atomizer yang terdiri dari pengabut dan pembakar

3.Monokromator

4.Detektor
5.Rekorder

a. Sumber radiasi resonansi

Sumber radiasi resonansi yang digunakan adalah lampu katoda berongga (Hollow Cathode Lamp) atau Electrodeless Discharge Tube (EDT). Elektroda lampu katoda berongga biasanya terdiri dari wolfram dan katoda berongga dilapisi dengan unsur murni atau campuran dari unsur murni yang dikehendaki.

Tanung lampu dan jendela (window) terbuat dari silika atau kuarsa, diisi dengan gas pengisi yang dapat menghasilkan proses ionisasi. Gas pengisi yang biasanya digunakan ialah Ne, Ar atau He.

Pemancaran radiasi resonansi terjadi bila kedua elektroda diberi tegangan, arus listrik yang terjadi menimbulkan ionisasi gas-gas pengisi. Ion-ion gas yang bermuatan positif ini menembaki atom-atom yang terdapat pada katoda yang menyebabkan tereksitasinya atom-atom tersebut. Atom-atom yang tereksitasi ini bersifat tidak stabil dan akan kembali ke tingkat dasar dengan melepaskan energy eksitasinya dalam bentuk radiasi. Radiasi ini yang dilewatkan melalui atom yang berada dalam nyala.

 

b. Atomizer

Atomizer terdiri atas Nebulizer (sistem pengabut), spray chamber dan burner (sistem pembakar)
• Nebulizer berfungsi untuk mengubah larutan menjadi aerosol (butir-butir kabut dengan ukuran partikel 15 – 20 µm) dengan cara menarik larutan melalui kapiler (akibat efek dari aliran udara) dengan pengisapan gas bahan bakar dan oksidan, disemprotkan ke ruang pengabut. Partikel-partikel kabut yang halus kemudian bersama-sama aliran campuran gas bahan bakar, masuk ke dalam nyala, sedangkan titik kabut yang besar dialirkan melalui saluran pembuangan.

• Spray chamber berfungsi untuk membuat campuran yang homogen antara gas oksidan, bahan bakar dan aerosol yang mengandung contoh sebelum memasuki burner.

• Burner merupakan sistem tepat terjadi atomisasi yaitu pengubahan kabut/uap garam unsur yang akan dianalisis menjadi atom-atom normal dalam nyala.

c.  Monokromator

Setelah radiasi resonansi dari lampu katoda berongga melalui populasi atom di dalam nyala, energy radiasi ini sebagian diserap dan sebagian lagi diteruskan. Fraksi radiasi yang diteruskan dipisahkan dari radiasi lainnya. Pemilihan atau pemisahan radiasi tersebut dilakukan oleh monokromator.

Monokromator berfungsi untuk memisahkan radiasi resonansi yang telah mengalami absorpsi tersebut dari radiasi-radiasi lainnya. Radiasi lainnya berasal dari lampu katoda berongga, gas pengisi lampu katoda berongga atau logam pengotor dalam lampu katoda berongga. Monokromator terdiri atas sistem optik yaitu celah, cermin dan kisi.

d. Detektor

Detektor berfungsi mengukur radiasi yang ditransmisikan oleh sampel dan mengukur intensitas radiasi tersebut dalam bentuk energi listrik.

e. Rekorder

Sinyal listrik yang keluar dari detektor diterima oleh piranti yang dapat menggambarkan secara otomatis kurva absorpsi.

  1. f.       Lampu Katoda

Lampu katoda merupakan sumber cahaya pada AAS. Lampu katoda memiliki masa pakai atau umur pemakaian selama 1000 jam. Lampu katoda pada setiap unsur yang akan diuji berbeda-beda tergantung unsur yang akan diuji, seperti lampu katoda Cu, hanya bisa digunakan untuk pengukuran unsur Cu. Lampu katoda terbagi menjadi dua macam, yaitu :

Lampu Katoda Monologam : Digunakan untuk mengukur 1 unsur

Lampu Katoda Multilogam : Digunakan untuk pengukuran beberapa logam                                                               sekaligus, hanya saja harganya lebih mahal.

Soket pada bagian lampu katoda yang hitam, yang lebih menonjol digunakan untuk memudahkan pemasangan lampu katoda pada saat lampu dimasukkan ke dalam soket pada AAS. Bagian yang hitam ini merupakan bagian yang paling menonjol dari ke-empat besi lainnya.

Lampu katoda berfungsi sebagai sumber cahaya untuk memberikan energi sehingga unsur logam yang akan diuji, akan mudah tereksitasi. Selotip ditambahkan, agar tidak ada ruang kosong untuk keluar masuknya gas dari luar dan keluarnya gas dari dalam, karena bila ada gas yang keluar dari dalam dapat menyebabkan keracunan pada lingkungan sekitar.

Cara pemeliharaan lampu katoda ialah bila setelah selesai digunakan, maka lampu dilepas dari soket pada main unit AAS, dan lampu diletakkan pada tempat busanya di dalam kotaknya lagi, dan dus penyimpanan ditutup kembali. Sebaiknya setelah selesai penggunaan, lamanya waktu pemakaian dicatat.

 

  1. g.      Tabung Gas

Tabung gas pada AAS yang digunakan merupakan tabung gas yang berisi gas asetilen. Gas asetilen pada AAS memiliki kisaran suhu ± 20.000K, dan ada juga tabung gas yang berisi gas N2O yang lebih panas dari gas asetilen, dengan kisaran suhu ± 30.000K. Regulator pada tabung gas asetilen berfungsi untuk pengaturan banyaknya gas yang akan dikeluarkan, dan gas yang berada di dalam tabung. Spedometer pada bagian kanan regulator merupakan pengatur tekanan yang berada di dalam tabung.

Pengujian untuk pendeteksian bocor atau tidaknya tabung gas tersebut, yaitu dengan mendekatkan telinga ke dekat regulator gas dan diberi sedikit air, untuk pengecekkan. Bila terdengar suara atau udara, maka menendakan bahwa tabung gas bocor, dan ada gas yang keluar. Hal lainnya yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan sedikit air sabun pada bagian atas regulator dan dilihat apakah ada gelembung udara yang terbentuk. Bila ada, maka tabung gas tersebut positif bocor. Sebaiknya pengecekkan kebocoran, jangan menggunakan minyak, karena minyak akan dapat menyebabkan saluran gas tersumbat. Gas didalam tabung dapat keluar karena disebabkan di dalam tabung pada bagian dasar tabung berisi aseton yang dapat membuat gas akan mudah keluar, selain gas juga memiliki tekanan.

  1. h.      Ducting

Ducting merupakan bagian cerobong asap untuk menyedot asap atau sisa pembakaran pada AAS, yang langsung dihubungkan pada cerobong asap bagian luar pada atap bangunan, agar asap yang dihasilkan oleh AAS, tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari pembakaran pada AAS, diolah sedemikian rupa di dalam ducting, agar polusi yang dihasilkan tidak berbahaya.

Cara pemeliharaan ducting, yaitu dengan menutup bagian ducting secara horizontal, agar bagian atas dapat tertutup rapat, sehingga tidak akan ada serangga atau binatang lainnya yang dapat masuk ke dalam ducting. Karena bila ada serangga atau binatang lainnya yang masuk ke dalam ducting , maka dapat menyebabkan ducting tersumbat.

Penggunaan ducting yaitu, menekan bagian kecil pada ducting kearah miring, karena bila lurus secara horizontal, menandakan ducting tertutup. Ducting berfungsi untuk menghisap hasil pembakaran yang terjadi pada AAS, dan mengeluarkannya melalui cerobong asap yang terhubung dengan ducting

  1. i.        Kompresor

Kompresor merupakan alat yang terpisah dengan main unit, karena alat ini berfungsi untuk mensuplai kebutuhan udara yang akan digunakan oleh AAS, pada waktu pembakaran atom. Kompresor memiliki 3 tombol pengatur tekanan, dimana pada bagian yang kotak hitam merupakan tombol ON-OFF, spedo pada bagian tengah merupakan besar kecilnya udara yang akan dikeluarkan, atau berfungsi sebagai pengatur tekanan, sedangkan tombol yang kanan merupakantombol pengaturan untuk mengatur banyak/sedikitnya udara yang akan disemprotkan ke burner. Bagian pada belakang kompresor digunakan sebagai tempat penyimpanan udara setelah usai penggunaan AAS.

Alat ini berfungsi untuk menyaring udara dari luar, agar bersih.posisi ke kanan, merupakan posisi terbuka, dan posisi ke kiri merupakan posisi tertutup. Uap air yang dikeluarkan, akan memercik kencang dan dapat mengakibatkan lantai sekitar menjadi basah, oleh karena itu sebaiknya pada saat menekan ke kanan bagian ini, sebaiknya ditampung dengan lap, agar lantai tidak menjadi basah dan uap air akan terserap ke lap.

  1. j.        Burner

Burner merupakan bagian paling terpenting di dalam main unit, karena burner berfungsi sebagai tempat pancampuran gas asetilen, dan aquabides, agar tercampur merata, dan dapat terbakar pada pemantik api secara baik dan merata. Lobang yang berada pada burner, merupakan lobang pemantik api, dimana pada lobang inilah awal dari proses pengatomisasian nyala api.

Perawatan burner yaitu setelah selesai pengukuran dilakukan, selang aspirator dimasukkan ke dalam botol yang berisi aquabides selama ±15 menit, hal ini merupakan proses pencucian pada aspirator dan burner setelah selesai pemakaian. Selang aspirator digunakan untuk menghisap atau menyedot larutan sampel dan standar yang akan diuji. Selang aspirator berada pada bagian selang yang berwarna oranye di bagian kanan burner. Sedangkan selang yang kiri, merupakan selang untuk mengalirkan gas asetilen. Logam yang akan diuji merupakan logam yang berupa larutan dan harus dilarutkan terlebih dahulu dengan menggunakan larutan asam nitrat pekat. Logam yang berada di dalam larutan, akan mengalami eksitasi dari energi rendah ke energi tinggi.

Nilai eksitasi dari setiap logam memiliki nilai yang berbeda-beda. Warna api yang dihasilkan berbeda-beda bergantung pada tingkat konsentrasi logam yang diukur. Bila warna api merah, maka menandakan bahwa terlalu banyaknya gas. Dan warna api paling biru, merupakan warna api yang paling baik, dan paling panas.

  1. k.      Buangan pada AAS

Buangan pada AAS disimpan di dalam drigen dan diletakkan terpisah pada AAS. Buangan dihubungkan dengan selang buangan yang dibuat melingkar sedemikian rupa, agar sisa buangan sebelumnya tidak naik lagi ke atas, karena bila hal ini terjadi dapat mematikan proses pengatomisasian nyala api pada saat pengukuran sampel, sehingga kurva yang dihasilkan akan terlihat buruk. Tempat wadah buangan (drigen) ditempatkan pada papan yang juga dilengkapi dengan lampu indicator. Bila lampu indicator menyala, menandakan bahwa alat AAS atau api pada proses pengatomisasian menyala, dan sedang berlangsungnya proses pengatomisasian nyala api. Selain itu, papan tersebut juga berfungsi agar tempat atau wadah buangan tidak tersenggol kaki. Bila buangan sudah penuh, isi di dalam wadah jangan dibuat kosong, tetapi disisakan sedikit, agar tidak kering.

 

D.  Keunggulan/ Kelebihan AAS

Keuntungan metoda AAS adalah:

•  Spesifik

•  Batas (limit) deteksi rendah

•  Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat diukur

• Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh (preparasi contoh sebelum pengukuran lebih sederhana, kecuali bila ada zat pengganggu)

• Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis contoh.

• Batas kadar-kadar yang dapat ditentukan adalah amat luas (mg/L hingga persen)

 

E. Kelemahan Metode AAS

Analisis menggunakan AAS ini terdapat kelemahan, karena terdapat beberapa sumber kesalahan, diantaranya: Sumber kesalahan pengukuran yang dapat terjadi pada pengukuran menggunakan SSA dapat diprediksikan sebagai berikut :

  1. Kurang sempurnanya preparasi sampel, seperti :

-    Proses destruksi yang kurang sempurna

-    Tingkat keasaman sampel dan blanko tidak sama

Kesalahan matriks, hal ini disebabkan adanya perbedaan matriks sampel dan   matriks standar

Aliran sampel pada burner tidak sama kecepatannya atau ada penyumbatan pada  jalannya aliran sampel.

  1. Gangguan kimia berupa :

-    Disosiasi tidak sempurna

-    Ionisasi

-    Terbentuknya senyawa refraktori

  1. F.     Penerapan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) Dalam Analisis Kimia

Untuk metode serapan atom telah diterapkan pada penetapan sekitar 60 unsur, dan teknik ini merupakan alat utama dalam pengkajian yang meliputi logam runutan dalam lingkungan dan dalam sampel biologis. Sering kali teknik ini juga berguna dalam kasus-kasus dimana logam itu berada pada kadar yang cukup didalam sampel itu, tetapi hanya tersediasedia sedikit sampel dalam analisis, kadang-kadang demikianlah kasus dengan metaloprotein misalnya. Laporan pertama mengenai peranan biologis yang penting untuk nikel didasarkan pada penetapan dengan serapan atom bahwa enzim urease, sekurang-kurangnya dari organisme pada dua ion nikel per molekul protein. Sering kali tahap pertama dalam analisis sampel-sampel biologis adalah mengabukan untuk merusak bahan organik. Pengabuan basa dengan asam nitrat dan perklorat sering kali lebih disukai daripada pengabuan kering mengingat susut karena menguap dari unsur-unsur runutan tertentu (pengabuan kering semata-mata adalah pemasangan sampel dalam satu tanur untuk mengoksidasi bahan organik). Kemudian serapan atom dilakukan terhadap larytan pengabuan basa atau terhadap larutan yang dibuat dari residu pengabuan kering.

Segi utama serapan atom tentu saja adalah kepekaan. Dalam satu segi, serapan atom menyolok sekali bebasnya dari gangguan. Perangkat tingkat-tingkat energi elektronik untuk sebuah atom adalah unit untuk unsur itu. Ini berarti bahwa tidak ada dua unsur yang memperagakan garis-garis spektral yang eksak sama panjang gelombangnya. Sering kali terdapat garis-garis untuk satu unsur yang sangat dekat pada beberapa garis unsur yang lain, namun biasanya untuk menemukan suatu garis resonansi untuk suatu unsur tertentu, jika tak terdapat gangguan spektral oleh unsur lain dalam sampel.

Gangguan utama dalam serapan atom adalah efek matriks yang mempengaruhi proses pengatoman. Baik jauhnya disosiasi menjadi atom-atom pada suatu temperatur tertentu maupun laju proses bergantung sekali pada komposisi keseluruhan dari sampel. Misalnya jika suatu larutan kalsium klorida dikabutkan dan dilarutkan partikel-partikel halus CaCl2 padat akan berdisosiasi menghasilkan atom Ca dengan jauh lebih mudah daripada paertikel kalsium fosfat, Ca(PO4)2.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan yang dieksistensikan dengan makin banyaknya publikasi penelitian dalam bidang spektroskopi serapan atom, tampak bahwa tekhnik spektroskopi serapan atom masih dalam taraf penyempurnaan

 

  1. G.    Gangguan-Gangguan Dalam Metode AAS

 

  • Gangguan kimia

Gangguan kimia terjadi apabila unsur yang dianalisis mengalami reaksi kimia dengan anion atau ketion tertentu dengan senyawa yang refraktori, sehingga tidak semua analit dapat teratomisasi. Untuk mengatasi gangguan ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 1) penggunaan suhu nyala yang lebih tinggi, 2) penambahan zat kimia lain yang dapat melepaskan kation atau anion pengganggu dari ikatannya dengan analit. Zat kimia lain yang ditambahkan disebut zat pembebas (Releasing Agent) atau zat pelindung (Protective Agent).

 

  • Gangguan Matrik

Gangguan ini terjadi bila sampel mengandung banyak garam ayau asam, atau bila pelarut yang digunakan tidak menggunakan pelarut zat standar, atau bila suhu nyala untuk larutan sampel dan standar berbeda. Gangguan ini dalam analisis kualitatif tidak terlalu bermasalah, tetapi sangat mengganggu dalam analisis kuantitatif. Untuk mengatasi gangguan ini dalam analisis kuantitatif dapat digunakan cara analisis penambahan satandar (Standar Adisi).

 

  • Gangguan Ionisasi

Gangguan ionisasi terjadi bila suhu nyala api cukup tinggi sehingga mampu melepaskan elektron dari atom netral dan membentuk ion positif. Pembentukan ion ini mengurangi jumlah atom netral, sehingga isyarat absorpsi akan berkurang juga. Untuk mengatasi masalah ini dapat dilakukan dengan penambahan larutan unsur yang mudah diionkan atau atom yang lebih elektropositif dari atom yang dianalisis, misalnya Cs, Rb, K dan Na. Penambahan ini dapat mencapai 100-2000 ppm.

 

  • Absorpsi Latar Belakang (Back Ground)

Absorpsi Latar Belakang (Back Ground) merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan adanya berbagai pengaruh, yaitu dari absorpsi oleh nyala api, absorpsi molekular, dan penghamburan cahaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

    PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Dari pejelasan-penjelasan terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  1. Spektroskopi serapan atom didasarkan pada besarnya energi yang diserap oleh atom-

atom netral dalam keadaan gas.

  1. Agar intensitas awal sinar (Po) dan sinar yang diteruskan (P) dapat diukur, maka energi

sinar pengeksitasi harus sesuai dengan energi eksitasi atom penyerap dan energi penyerap ini diperoleh melalui sinar lampu katoda berongga.

  1. Lampu katoda berongga ada yang bersifat single element, dan ada yang bersifat multi

element.

  1. Salah satu alat yang sangat berperan penting dalam SSA adalah Copper yang berfungsi

untuk membuat sinar yang datang dari sumber sinar berselang-seling sehingga sinar yang dipancarkan juga akan berselang-seling.

  1. SSA memiliki keakuratan yang tinggi pada analisis kualitatif.
  2. Beberapa jenis gangguan dengan cara SSA pada analisis kuantitatif
  • gangguan kimia
  • gangguan matrik
  • gangguan ionisasi dan
  • gangguan beck ground
  1. Untuk mengatasi gangguan kimia maupun gangguan matrik dapat dilakukan dengan penambahan zat pembebas atau zat pelindung.

 

3.2  Saran

 

Pada kesempatan kali ini penulis menyarankan kepada semua pihak yang merasa memiliki andil dalam pengembangan pendidikan agar supaya hal-hal pendukung yang berbau teknologi untuk kemudahan pengembangan pendidikan dapat lebih ditingkatkan lagi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional kita. Selain itu hendaknya semua pihak hendaknya lebih ditingkatkan lagi rasa kepedulian terhadap teknologi sains agar kedepan kita dapat mewujudkan masyarakat yang berjiwa teknologi.

 

Spektrofotometri Serapan Atom (SSA) adalah suatu alat yang digunakanpada metode analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metalloid yangpengukurannya berdasarkan penyerapan cahaya dengan panjang gelombangtertentu oleh atom logam dalam keadaan bebas (Skooget al., 2000). Metode inisangat tepat untuk analisis zat pada konsentrasi rendah. Teknik ini mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan metode spektroskopi emisikonvensional. Memang selain dengan metode serapan atom, unsur-unsurdengan energi eksitasi rendah dapat juga dianalisis dengan fotometri nyala,akan tetapi fotometri nyala tidak cocok untuk unsur-unsur dengan energyeksitasi tinggi. Fotometri nyala memiliki range ukur optimum pada panjanggelombang 400-800 nm, sedangkan AAS memiliki range ukur optimum padapanjang gelombang 200-300 nm (Skoog et al., 2000).Untuk analisis kualitatif,metode fotometri nyala lebih disukai dari AAS, karena AAS memerlukanlampu katoda spesifik (hallow cathode). Kemonokromatisan dalam AASmerupakan syarat utama. Suatu perubahan temperature nyala akanmengganggu proses eksitasi sehingga analisis dari fotometri nyala berfilter.Dapat dikatakan bahwa metode fotometri nyala dan AAS merupakankomplementer satu sama lainnya.

Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom, atom-atommenyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung padasifat unsurnya. Misalkan Natrium menyerap pada 589 nm, uranium pada 358,5nm sedangkan kalium pada 766,5 nm. Cahaya pada gelombang ini mempunyaicukup energiuntukmengubah tingkat energy elektronik suatu atom. Denganabsorpsi energy, berarti memperoleh lebih banyak energy, suatu atom padakeadaan dasar dinaikkan tingkat energinya ke tingkat eksitasi. Tingkat-tingkateksitasinya pun bermacam-macam. Misalnya unsur Na dengan noor atom 11mempunyai konfigurasi electron 1s1 2s2 2p6 3s1, tingkat dasar untuk electronvalensi 3s, artinya tidak memiliki kelebihan energy. Elektronini dapattereksitasi ketingkat 3p dengan energy 2,2 eV ataupun ketingkat 4p denganenergy 3,6 eV, masing-masing sesuai dengan panjang gelombang sebesar 589nm dan 330 nm. Kita dapat memilih diantara panjang gelombang ini yangmenghasilkan garis spectrum yang tajam dan dengan intensitas maksimum,yangdikenal dengan garis resonansi. Garis-garis lain yang bukan garisresonansi dapat berupa pita-pita lebar ataupun garis tidak berasal dari eksitasitingkat dasar yang disebabkan proses atomisasinya.Apabila cahaya dengan panjang gelombang tertentu dilewatkan pada suatusel yang mengandung atom-atom bebas yang bersangkutan maka sebagiancahaya tersebut akan diserap dan intensitas penyerapan akan berbanding lurusdengan banyaknya atom bebas logam yang berada pada sel. Hubungan antaraabsorbansi dengan konsentrasi diturunkan dari:1.

 

Hukum Lambert: bila suatu sumber sinar monkromatik melewatimedium transparan, maka intensitas sinar yang diteruskan berkurangdengan bertambahnya ketebalan medium yang mengabsorbsi.2.

 

Hukum Beer: Intensitas sinar yang diteruskan berkurang secaraeksponensial dengan bertambahnya konsentrasi spesi yang menyerapsinar tersebut.Dari kedua hukum tersebut diperoleh suatu persamaan:It = Iog.e-(εbc)

, atau A = -Log It/Io = εbc

 

 

 

Laporan Praktikum PH Asam-Basa

Posted: April 25, 2013 in Chem-is-Try
  1. Indikator Universal (kertas Ph)

v  Data Percobaan

Larutan

pH secara teoritis/perhitungan

pH (dengan kertas pH)

Perubahan Warna Indikator

Phenolphtalein

Methyl Orange

Methyl Blue

HCl 0,1 M

1

1

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Biru Tua

HCl 0,01M

2

2

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Biru Tua

HCl 0,001 M

3

3

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Biru Muda

CH3COOH 0,1 M

3

3

Tidak berwarna

Jingga

Biru Muda

NH4Cl 0,1 M

4

6

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Tidak Berwarna

NaCl 0,1 M

7

7

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Tidak Berwarna

CH3COONa 0,1 M

10

7

Tidak berwarna

Bening kejinggaan

Biru Muda

NH4OH 0,1 M

11

9

Ungu muda

Bening kejinggaan

Tidak Berwarna

NaOH 0,1 M

13

14

Ungu

Bening kejinggaan

Tidak Berwarna

 

 

v  Pembahasan

Perhitungan nilai PH secara teori

 

1. HCl 0,1 M

[H+] = a.M

= 1. 0,1 = 0,1 = 10-1 M

pH = – log [H+]

= – log 10-1

           = 1

 

2. HCl 0,01 M

[H+] = a.M

= 1. 0,01 = 0,01 = 10-2 M

pH = – log [H+]

= – log 10-2

           = 2

 

3. HCl 0,001 M

[H+] = a.M

= 1. 0,001 = 0,001 = 10-3 M

pH = – log [H+]

= – log 10-3

           = 3

 

4.CH3COOH 0,1 M. Diketahui Ka= 10-5

[H+] =

=

= 10-3

pH = – log [H+]

= – log 10-3

           = 3

 

5. NaCl adalah garam kuat, sehingga tidak terhidrolisis. Menurut teori, nilai pH NaCl adalah sebesar 7.

 

6. NH4Cl 0,1 M. Dikaetahui Ka= 10-5

[H+] =  [B+]

=  [10-1]                                

=  [10-1]

= 10-3. 10-1

= 10-4

pH = – log [H+]

= – log 10-4

= 4

 

7. CH3COONa 0.1 M

[OH-] =  [A-]

=  [10-1]

= [10-1]

= 10-3. 10-1

=10-4

pOH   = – log [OH-]

= – log 10-4

= 4

pH      = 14 – pOH

= 14 – 4

= 10

 

8. NH4OH 0,1 M. Diketahui Kb = 10-5

[OH-]  =

=

=

= 10-3

pOH   = – log  [OH-]

= – log 10-3

= 3

pH       = 14 – pOH

= 14 – 3

= 11

 

9. NaOH 0,1 M

[OH-] = a.M

= 1. 0,1 = 0,1 = 10-1 M

pOH = – log [H+]

= – log 10-1

               = 1

pH     = 14 – pOH

= 14 – 1

= 13

Cara menggunakan indicator universal bentuk kertas, adalah dengan cara mencelupkan kertas tersebut dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya. Sedangkan, jika menggunakan indicator universal bentuk larutan adalah dengan cara memasukkan atau meneteskan larutan indicator universal ke dalam larutan yang hendak kita ketahui pH-nya. Warna yang terbentuk kemudian dicocokkan/ dibandingkan dengan warna standar yang sudah diketahui nilai pH-nya. Dengan mengetahui nilai pH maka dapat ditentukan apakah larutan bersifat asam, basa atau netral.    Bersasarkan data percobaan dan perhitungan maka PH suatau asam dan basa tergantung konsentrasinya walaupun zat tersebut sama namun apabila konsentrasinya berbeda PH nya pun akan berbeda seperti halnya HCL 0,1 M,HCL 0,01 M 1 dan HCL 0,001 M .PH suatu larutan yang bersifat basa berdasarkan percobaan berkisar <7 sedangkan untuk garam  PH nya 7 dan basa >7.Terdapat perbedaan PH antara hasil percobaan dan hasil perhitungan .Hal ini terjadi karena beberapa factor ketika praktikum yaitu diantaranya tabung reaksi yang di gunakan masih terdapat sisa zat lain atau belum bersih,kurang teliti dalam menelaah PH indicator ,penggunaan pipet yang telah digunakan oleh larutan lain ,dll.

 

Berikut gambar pengukuran PH dgn indicator :

              

                          Dengan indikator phenolphthalein                           Dengan indikator methyl orange

 

 

            Dengan indikator methyl blue

 

 

Untuk mengetahui trayek perubahan warna dari beberapa indikator, kita dapat melihat tabel indikator perubahan warna pH.

 

No

Indikator

Trayek Perubahan Warna

Perubahan Warna

1

Lakmus

5,5 – 8,0

Merah – Biru

2

Metil Jingga

2,9 – 4,0

Merah – Kuning

3

Metil Merah

4,2 – 6,3

Merah – Kuning

4

Bromotimol Biru

6,0 – 7,6

Kuning – Biru

5

Fenolftalein

8,3 – 10

Tidak berwarna – Merah

 

 

 

 

  1. PH-Meter

 

Penambahan larutan HCl 0,1 N terhadap 10 mL NaOH 0,1 M (mL)

pH

0 14
1 14
2 14
3 14
4 9
5 3
6 2
7 1
8 1
9 1
10 1
11 1
12 1
13 1
14 1
15 1

 

 

kurva antara pH dan penambahan volume HCl 0,1 M terhadap 10 ml larutan NaOH

0,1 M

Penambahan larutan NaOH 0,1 M terhadap 10 mL CH3COOH 0,1 M (mL)

pH

0 4
1 4
2 4
3 5
4 5
5 5
6 5
7 5
8 6
9 6
10 7
11 9
12 10
13 11
14 12
15 12
16 12
17 12
18 12
19 13
20 13

 

kurva antara pH dan penambahan larutan NaOH 0,1 M terhadap 10 mL larutan CH3COOH 0,1 M

Penambahan larutan NaOH 0,1 M terhadap 10 mL HCl 0,1 M (mL)

pH

0 1
1 1
2 1
3 1
4 1
5 1
6 1
7 1
8 1
9 1
10 1
11 1
12 1
13 1
14 2
15 2
16 2
17 2
18 3
19 8
20 9
21 10
22 11
23 11

 

 

 

 

kurva antara pH dan penambahan volume NaOH 0,1 M terhadap 10 ml larutan HCL  0,1 M

 

Kesimpulan

1.Dengan menggunakan indikator universal, kita bisa mengetahui sifat suatu larutan dengan mudah.

2.Berdasarkan percobaan yang dilakukan, percobaan tersebut bisa menghasilkan seperti diatas karena: pada dasarnya, larutan yang memiliki pH <7 merupakan larutan yang mengandung Asam, sedangkan larutan yang memiliki pH >7merupakan larutan yang mengandung basa. Sementara larutan yang memiliki pH 7 dikatakan netral.

 

 

Daftar Pustaka

Harnanto Ari, Ruminten.2009.Kimia 2.Kepala Pusat Perbukuan:Jakarta.

http://ritayuliadarwis.blogspot.com/2011/04/laporan-praktikum-pengujian-larutan.html

Syukri, S. 1999. “Kimia Dasar Jilid 2”. ITB : Bandung.

 

KATA PENGANTAR

 

       

          Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam makalah ini, kami mengangkat topik “ Penggunaan Alat Pelindung Diri ”.

Penulis menyadari bahwa tidak mungkin tugas ini dapat selesai bila dilakukan tanpa bantuan, bimbigan, dorongan dan nasihat dari berbagai pihak yan telah membatu kami. Karena itu kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang bersangkutan dalam pembuatan tugas  ini .

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan kami sehingga tugas ini tidak sesempurna yang Ibu kira  karena masih banyak kekurangannya . terlepas dari itu , saya berharap agar tugas ini dapat bermanfaat dikemudian hari untuk segala pihak yang membutuhkan .

Sekian yang dapat kami sampaikan semoga tugas ini dapat bermanfaat. Akhir kata.

‘Wasalamualaikum Wr.Wb.’

 

 

 

Bandung, Agustus 2012

Tim Penyusun

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Di Indonesia dewasa ini sudah mulai berkembang tingkat peridustrianya. Alat perindustrian yang biasanya dilakukan secara manual , sudah mulai ditinggalkan dengan beralih ke teknik yang lebih cepat dan efisien. Akan tetapi, disamping cepat dan efisien, masih ada efek pengikut lainnya yang tidak  bisa diabaikan begitu saja, seperti misalnya peluang kecelakan kerja yang meningkat dan juga penyakit yang bisa ditimbulkan baik pada pekerja maupun lingkungan sekitarnya.

Kecelakaan kerja merupakan salah satu masalah bagi sebuah perusahaan. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi namun timbulnya korban jiwa pekerjap. Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian bagi perusahaan karena diperlukan waktu untuk mencari atau mendidik sumber daya manusia yang sesuai perusahaan. Kerugian yang langsung yang nampak dari timbulnya kecelakaan kerja adalah biaya pengobatan dan kompensasi kecelakaan. Sedangkan biaya tak langsung yang tidak nampak ialah kerusakan alat-alat produksi, penataan manajemen keselamatan yang lebih baik, penghentian alat produksi, dan hilangnya waktu kerja.

Oleh karena itulah diperlukan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi resiko kecelakaan dalam pekerjaan terutama di industry. Alat Pelindung Diri ( APD ) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerjauntuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik.

 

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :

1.2.1        Seberapa pentingkah Alat Pelindung Diri (APD) dalam pekerjaan ?

1.2.2        Apa sajakah jenis serta kegunaan APD ?

 

1.3  Tujuan Penulisan

Tujuan dalam penulisan makalah ini antara lain :

1.3.1        untuk memperdalam pemahaman pentingnya APD dalam melakukan pekerjaan di bidang industry

1.3.2        untuk mengetahui fungsi dari APD

1.3.3        untuk menambah wawasan pada masyarakat luas mengenai APD, agar kecelakaan kerja dapat berkurang

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan (Suma’mur, 1991). Atau bisa juga disebut alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya.

APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir.

Alat Pelindung Diri harus mampu melindungi pemakainya dari bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu, APD dipilih secara hati-hati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan.
Menurut ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Pelindung Diri adalah :

  1. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
  2.  Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
  3.  Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
  4. Bentuknya harus cukup menarik.
  5. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama.
  6. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam menggunakannya.
  7. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada.
  8. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya.
  9. Suku cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.

 

 

2.2. Tujuan, Manfaat,Jenis dan Kegunaan dari Alat Pelindung Diri

1. Tujuan

  • Melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering) dan administratif tidak dapat dilakukan    dengan baik.
  • Meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang aman.

 

 

2. Manfaat

  • Untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja.
  • Mengurangi resiko akibat kecelakaan.

3. Jenis

Alat Pelindung Diri di bagi menjadi 3 kelompok yaitu:

  1. APD bagian kepala meliputi :
  • Alat Pelindung Kepala : Alat ini adalah kombiansi dari alat pelindung mata,pernapasan dan mata contohnya Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet), Tutup Kepala, Hats/cap, Topi pengaman.
  • Alat Pelindung Kepala Bagian Atas : Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet),
  • Alat Pelindung Muka : Safety Glasses, Face Shields, Goggles.
  • Alat Pelindung Pengliahatan : Kaca Mata
  • Alat Pelindung Telinga : Tutup Telinga (Ear muff ), Sumbat Telinga (Ear plugs).
  • Alat Pelindung Pernafasan : Masker, Respirator.

 

 

 

  1. APD bagian badan meliputi :
  • Alat Pelindung Seluruh Badan : jas laboratorium
  • Alat Pelindung Badan Bagian Muka : Apron
  • Alat Pelindung Bagian Dada : Rompi Pelindung

 

  1. APD bagian anggota badan meliputi :

 

  • Alat Pelindung Tangan : Sarung Tangan (Safety Gloves).
  • Alat Pelindung Kaki : sepatu bot.

 

 

 

 

4. Kegunaan

  • Alat Pelindung Kepala

 

 

 

    • Alat Pelindung Kepala Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet) : Melindungi kepala dari benda keras, pukulan dan benturan, terjatuh dan terkena arus listrik.
    • Tutup Kepala : Melindungi kepala dari kebakaran, korosif, uap-uap, panas/dingin.
    • Hats/cap : Melindungi kepala dari kotoran debu atau tangkapan mesin-mesin berputar.
    • Topi pengaman : untuk penggunaan yang bersifat umum dan pengaman dari tegangan listrik yang terbatas. Tahan terhadap tegangan listrik. Biasanya digunakan oleh pemadam kebakaran.
  •  Alat Pelindung Muka Dan Mata

 

 

 

 

    • Melindungi muka dan mata dari:
      • Lemparan benda-benda kecil.
      • Lemparan benda-benda panas
      • Pengaruh cahaya
  • Alat Pelindung Telinga

 

 

    • Sumbat Telinga (Ear plugs ) yang baik adalah menahan frekuensi Daya atenuasi (daya lindung) : 25-30 dB, sedangkan frekuensi untuk bicara biasanya (komunikasi) tak terganggu.
    • Tutup Telinga (Ear muff ) frekuensi 2800–4000 Hz sampai 42 dB (35–45 dB) Untuk frekuensi biasa 25-30 dB. Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga dan sumbat telinga sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi; tapi tak lebih dari 50 dB,karena hantaran suara melalui tulang masih ada.

 

  • Alat Pelindung Pernafasan

 

 

 

    • Memberikan perlindungan terhadap sumber-sumber bahaya seperti:
    • Kekurangan oksigen
    • Pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap dan uap logam)
    • Pencemaran oleh gas atau uap
  • Alat Pelindung Tangan

 

 

  • Sarung Tangan (Gloves) Jenis pekerjaan yang membutuhkan sarung tangan :
    • Pengelasan/ pemotongan (bahan kulit)
    • Bekerja dengan bahan kimia (bahan karet)
    • Beberapa pekerjaan mekanikal di workshop dimana ada potensi cedera bila tidak menggunakan sarung tangan (seperti benda yang masih panas, benda yang sisinya tajam dlsb.).
    • Beberapa pekerjaan perawatan.
  • Alat Pelindung Kaki

 

 

    • Untuk mencegah tusukan
    • Untuk mencegah tergelincir
    • Tahan terhadap bahaya listrik
  • Alat Pelindung Badan

 

    • Pakaian Pelindung: digunakan untuk melindungi tubuh dari benda berbahaya, misal api, asap, bakteri, zat-zat kimia, dsb.

 

 

 

 

 

  • Safety Belt

 

 

    • Berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh, biasanya digunakan pada pekerjaan konstruksi dan memanjat serta tempat tertutup atau boiler.

 

  • Alat pelindung diri untuk tugas khusus

 

 

    • Apron untuk bekerja dengan bahan kimia ataupun pekerjaan pengelasan.
    • Full body harness untuk bekerja di ketinggian melebihi 1,24 meter.
    • Tutup telinga (ear plugs) untuk bekerja di tempat dengan kebisingan melebihi 85 dB.
    • Sepatu boot karet (rubber boot) untuk semua pekerjaan di kebun yang dimulai dari survey lahan, pembibitan, penanaman hingga panen.

2.3 Kekurangan dan Kelebihan Alat Pelindung Diri

      1. Kekurangan

    • Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena memakai Alat pelindung diri yang kurang tepat
    • Fungsi dari Alat Pelindung Diri ini hanya untuk menguragi akibat dari kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya.
    • Tidak menjamin pemakainya bebas kecelakaan
    • Cara pemakaian Alat Pelindung Diri yang salah,
    • Alat Pelindung Diri tak memenuhi persyaratan standar)
    • Alat Pelindung Diri yang sangat sensitive terhadap perubahan tertentu.
    • Alat Pelindung Diri yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter dan penyerap (cartridge).
    • Alat Pelindung Diri dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-ganti.

2. Kelebihan

    • Mengurangi resiko akibat kecelakan
    • Melindungi seluruh/sebagian tubuhnya pada kecelakaan
    • Sebagai usaha terakhir apabila sistem pengendalian teknik dan administrasi tidak berfungsi dengan baik.
    • Memberikan perlindungan bagi tenaga kerja di tempat kerja.

2.4  Cara Memilih dan Merawat Alat Pelindung Diri

1. Cara memilih

    • Sesuai dengan jenis pekerjaan dan dalam jumlah yang memadai.
    • Alat Pelindung Diri yang sesuai standar serta sesuai dengan jenis pekerjaannya harus selalu digunakan selama mengerjakan tugas tersebut atau selama berada di areal pekerjaan tersebut dilaksanakan.
    • Alat Pelindung Diri tidak dibutuhkan apabila sedang berada dalam kantor, ruang istirahat, atau tempat-tempat yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya.
    • Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai.

2. Cara merawat

    • Meletakkan Alat pelindung diri pada tempatnya setelah selesai digunakan.
    • Melakukan pembersihan secara berkala.
    • Memeriksa Alat pelindung diri sebelum dipakai untuk mengetahui adanya kerusakan atau tidak layak pakai.
    • Memastikan Alat pelindung diri yang digunakan aman untuk keselamatan jika tidak sesuai maka perlu diganti dengan yang baru.
    • Dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.
    • Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan
    • Secara spesifik sebagai berikut
      • Helm Safety/ Helm Kerja (Hard hat)
  1. Helm kerja dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh manajemen lini.
  2. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat helm kerja yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan (retak-retak, bolong atau tanpa system suspensinya).
  3. Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang memiliki helm kerja dan telah mengikuti training.
      • Kacamata Safety (Safety Glasses)
  1. Kacamata safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh manajemen lini.
  2. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan kacamata safety yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
  3. Penyimpanan masker harus terjamin sehingga terhindar dari debu, kondisi yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban atau kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.
  4. Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang memiliki kacamata safety dan telah mengikuti training.
      • Sepatu Safety (Safety Shoes)
  1. Sepatu safety dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh manajemen lini.
  2. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sepatu safety yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
  3. Setiap manajemen lini harus memiliki catatan jumlah karyawan yang memiliki sepatu safety dan telah mengikuti training.
      • Masker/ Perlindungan Pernafasan (Mask/ Respiratory Protection)
  1. Pelindung pernafasan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya.
  2. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat pelindung pernafasan yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
  3. Kondisi dan kebersihan alat pelindung pernafasan menjadi tanggung jawab karyawan yang bersangkutan,
  4. Kontrol terhadap kebersihan alat tersebut akan selalu dilakukan oleh managemen lini.

 

      • Sarung tangan
  1. Sarung tangan dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan serta kondisinya oleh manajemen lini.
  2. Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan sarung tangan yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan.
  3. Penyimpanan sarung tangan harus terjamin sehingga terhindar dari debu, kondisi yang ekstrim (terlalu panas atau terlalu dingin), kelembaban atau kemungkinan tercemar bahan-bahan kimia berbahaya.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A .Kesimpulan

Alat Pelindung Diri atau APD sangat penting dan diperlukan oleh pegawai,karyawan ,Enginering,administratif  atau siapapun yang memiliki resiko kecelakaan atauapun bahaya dalam bekerja.Oleh karena itu APD harus benar-benar di pelajari dan di pahami  baik dalam penggunaannya ataupun pemeliharaannya agar APD bias berfungsi dengan baik. Berikut pembahasan mengenai Alat Pelindung diri :

  1. Alat Perlindungan Diri merupakan alat yang digunakan untuk mengurangi resiko akibat kecelakaan, bukan menghilangkan kecelakaan itu sendiri.
  2. Alat Perlindungan Diri dibutuhkan oleh semua lapisan masyarakat.
  3. Alat Perlindungan Diri harus sesuai dengan jenis kegiatan dan tempat pekerjaan.
  4. Alat Perlindungan Diri harus selalu dirawat agar dapat digunakan sesuai dengan ketentuan.

B.Saran

  1. Setiap pekerja sebaiknya menggunakan Alat pelindung diri.
  2. Penyuluhan tentang Alat pelindung diri kepada semua masyarakat agar dapat mengurangi angka kecelakaan.
  3. Penggunaan Alat pelindung diri sebaiknya sesuai dengan kebutuhan tenaga kerja.
  4. Pemantauan terhadap Alat pelindung diri harus rutin dilakukan, agar dalam penggunaan lebih optimal.

Laporan Praktikum Stoikiometri

Posted: April 25, 2013 in Chem-is-Try

I. Tujuan

Dalam praktikum ini, mahasiswa diharapkan dapat:

  • Mempelajari beberapa reaksi kimia
  • Mempelajari stokiometri

II. Dasar Teori

Jenis – jenis reaksi kimia :

  1. Reaksi sintetis
  2. Reaksi metatesis
  3. Reaksi redoks
  4. Reaksi asam – basa

Pada persamaan reaksi terdapat reaktan, produk, dan koefisien reaksi

aA + bB → cC +dD

A dan B adalah reaktan; C dan D adalah produk; a,b, c, dan d adalah koefisien reaksi.

Untuk menyelesaikan persamaan reaksi, jenis senyawa produk harus diketahui. Untuk mengetahui senyawa produk, dapat digunakan variasi kontinyu. Dalam metoda ini dilakukan sederetan metode pengamatan yang kuantitas molar totalnya sama, tetapi masing – masing kuantitas molar pereaksinya bervariasi. Salah satu sifat fisik dipilih untuk diamati, misalnya massa, volume, suhu atau daya serap. Karena kuantitas pereaksi bervariasi, maka perubahan sifat fisika dapat dijadikan sebagai dasar untuk meramalkan stokiometri dari sistem. Pada praktikum ini akan diamati stokiometri sistem CuSO4 – NaOH, sistem NaOH – HCl.

III. Alat dan Bahan

Alat Bahan
Tabung reaksi Larutan HCl 0,05 M, 1M
Batang pengaduk Larutan NaOH 0,05 M
Gelas Kimia Larutan CuSO4
Termometer 100oC Larutan H2SO4
Buret 50ml
Statif dan klem
Botol semprot
Pipet tetes
Corong pendek

IV. Cara Kerja

V. Data Pengamatan

Sistem CuSO4 - NaOH

No

Volume (ml)

T(oC)

Ta (oC)

∆T (oC)

NaoH

CuSO4

1

6

24

27 29 2

2

10

20

27.5 30 2.5

3

15

15

26.5 30 3.5

4

20

10

27 30.5 3.5

5

24

6

27 28.5 1.5

Sistem NaOH –HCl

No

Volume (ml)

T(oC)

Ta (oC)

∆T (oC)

NaoH

HCl

1

6

24

26.5 28.5 2

2

10

20

27 29.5 2.5

3

15

15

27 29.5 2.5

4

20

10

27 29.5 2.5

5

24

6

27 29 2

Sistem NaOH – H2SO4

No

Volume (ml)

T(oC)

Ta (oC)

∆T (oC)

NaoH

H2SO4

1

6

24

26.5 30 3.5

2

10

20

27 34 7

3

15

15

26.5 38 11.5

4

20

10

26.5 36 9.5

5

24

6

26.5 33 6.5

Persamaan Reaksi sistem

  1. 2NaOH +CuSO4 → Cu(OH)2 + Na2SO4

1.1  NaOH (6ml, 2M) – CuSO4 (24ml-0,05M)

2NaOH    +          CuSO4               →        Cu(OH)2           +          Na2SO4

12mmol               1,2mmol

2,4mmol              1,2mmol

9,6mmol       –                                          1,2mmol                     1,2mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 9,6 = 384 mg = 0,384 gr

Massa Cu(OH)2 = 97,5 x 1,2 = 117 mg = 0,117gr

Massa Na2SO4 = 142 x 1,2 = 170,4 mg = 0,17 gr

1.2  NaOH (10ml, 2M) – CuSO4 (20ml-0,05M)

2NaOH    +          CuSO4               →        Cu(OH)2           +          Na2SO4

20mmol               1mmol

2mmol                 1mmol

18mmol                    –                              1mmol                        1mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 18 = 720 mg = 0,72 gr

Massa Cu(OH)2 = 97,5 x 1 = 97,5 mg = 0,0975 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 1 = 142 mg = 0,142 gr

1.3  NaOH (15ml, 2M) – CuSO4 (15ml-0,05M)

2NaOH    +          CuSO4               →        Cu(OH)2           +          Na2SO4

30mmol               0,75mmol

1,5mmol              0,75mmol

28,5mmol                    –                           0,75mmol                   0,75mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 28,5 = 1140 mg = 1,14 gr

Massa Cu(OH)2 = 97,5 x 0,75 = 73,125 mg = 0,073gr

Massa Na2SO4 = 142 x 0,75 = 106,5 mg = 0,107 gr

1.4  NaOH (20ml, 2M) – CuSO4 (10ml-0,05M)

2NaOH    +          CuSO4               →        Cu(OH)2           +          Na2SO4

40mmol               0,5mmol

1mmol               0,5mmol

39mmol                   –                               0,5mmol                     0,5mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 39 = 1560 mg = 1,56 gr

Massa Cu(OH)2 = 97,5 x 0,5 = 48,75 mg = 0,0488 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 0,5 = 71mg = 0,071 gr

1.5  NaOH (24ml, 2M) – CuSO4 (6ml-0,05M)

2NaOH    +          CuSO4               →        Cu(OH)2           +          Na2SO4

48mmol               0,3mmol

0,6mmol              0,3mmol

47,4mmol                   –                            0,3mmol                     0,3mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 47,4 = 1896 mg = 1,896 gr

Massa Cu(OH)2 = 97,5 x 0,3 = 29,25 mg = 0,0293gr

Massa Na2SO4 = 142 x 0,3 = 42,6 mg = 0,043 g

  1. NaOH + HCl → NaCl + H2O

2.1  NaOH (6ml,2M) – HCl (24ml,2M)

2NaOH    +          HCl                       →        NaCl                    +          H2O

12mmol               48mmol

12mmol               6mmol

-                         42mmol                      12mmol                      12mmol

Massa HCl    = Mr x mmol

= 36,5 x 42  = 1533 mg = 1,533 gr

Massa NaCl= 58,5 x 12 = 702 mg = 0,702 gr

Massa H2O= 18 x 12 = 216 mg = 0,216 gr

2.2  NaOH (10ml,2M) – HCl (20ml,2M)

2NaOH    +          HCl                       →        NaCl                    +          H2O

20mmol               40mmol

20mmol               10mmol

-                         30mmol                      10mmol                      10mmol

Massa HCl    = Mr x mmol

= 36,5 x 30  = 1095 mg = 1,095 gr

Massa NaCl= 58,5 x 10 = 585 mg = 0,585 gr

Massa H2O= 18 x 10 = 180 mg = 0,18 gr

2.3  NaOH (15ml,2M) – HCl (15ml,2M)

2NaOH    +          HCl                       →        NaCl                    +          H2O

30mmol               30mol

30mmol               15mmol

-                         15mmol                      15mmol                      15mmol

Massa HCl    = Mr x mmol

= 36,5 x 15  = 547,5 mg = 0,5475 gr

Massa NaCl= 58,5 x 15 = 877,5 mg = 0,8775 gr

Massa H2O= 18 x 15 = 270 mg = 0,27 gr

2.4  NaOH (20ml,2M) – HCl (10ml,2M)

2NaOH    +          HCl                       →        NaCl                    +          H2O

40mmol               20mmol

40mmol               20mmol

-                              –                              20mmol                      20mmol

Massa NaCl= 58,5 x 20 = 1170 mg = 1,17 gr

Massa H2O= 18 x 20 = 360 mg = 0,36 gr

2.5  NaOH (24ml,2M) – HCl (6ml,2M)

2NaOH    +          HCl                       →        NaCl                    +          H2O

48mmol               12mmol

24mmol               12mmol

24mmol                    –                              12mmol                      12mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 24  = 960 mg = 0,96 gr

Massa NaCl= 58,5 x 12 = 702 mg = 0,702 gr

Massa H2O= 18 x 12 = 216 mg = 0,216 gr

  1. 2NaOH + H2SO4 → Na2SO4 + 2H2O

3.1  NaOH (6ml,1M) – H2SO4 (24ml,1M)

2NaOH    +          H2SO4                →        Na2SO4             +          2H2O

6mmol                 24mmol

6mmol                   3mmol

-                        21mmol                      3mmol                        mmol

Massa H2SO4 = Mr x mmol

= 98 x 21  = 2058 mg = 2,058 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 3 = 426 mg = 0,426 gr

Massa H2O= 18 x 6 = 108 mg = 0,108 gr

3.2  NaOH (10ml,1M) – H2SO4 (20ml,1M)

2NaOH    +          H2SO4                →        Na2SO4             +          2H2O

10mmol               20mmol

10mmol                 5mmol

-                        15mmol                      5mmol                        10mmol

Massa H2SO4 = Mr x mmol

= 98 x 15  = 1470 mg = 1,47 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 5 = 710 mg = 0,71 gr

Massa H2O= 18 x 10 = 180 mg = 0,18 gr

3.3  NaOH (15ml,1M) – H2SO4 (15ml,1M)

2NaOH    +          H2SO4                →        Na2SO4             +          2H2O

15mmol                15mmol

15mmol                 7,5mmol

-                   7,5mmol                     7,5mmol                     15mmol

Massa H2SO4 = Mr x mmol

= 98 x 7,5  = 735 mg = 0,735 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 7,5 = 1065 mg = 1,065 gr

Massa H2O= 18 x 15 = 270 mg = 0,27 gr

3.4  NaOH (20ml,1M) – H2SO4 (10ml,1M)

2NaOH    +          H2SO4                →        Na2SO4             +          2H2O

20mmol               10mmol

20mmol               10mmol

-                        –                               10mmol                      20mmol

Massa Na2SO4 = 142 x 10 = 1420 mg = 1,42 gr

Massa H2O= 18 x 20 = 360 mg = 0,36 gr

3.5  NaOH (24ml,1M) – H2SO4 (6ml,1M)

2NaOH    +          H2SO4                →        Na2SO4             +          2H2O

24mmol               6mmol

12mmol               6mmol

12mmol                   –                               6mmol                        12mmol

Massa NaOH = Mr x mmol

= 40 x 12  = 480 mg = 0,48 gr

Massa Na2SO4 = 142 x 6 = 852 mg = 0,852 gr

Massa H2O= 18 x 12 = 216 mg = 0,216 gr

Pembahasan

Perubahan suhu merupakan ciri adanya reaksi stoikiometri dari suatu sistem reaksi kimia. Dimana saat diketahui suhu maksimum dari suatu reaksi kimia maka disitulah titik stoikiometri muncul.

A.  Sistem CuSO4-NaOH

Perubahan suhu pada percobaan dijadikan sebagai acuan untuk menentukan titik stokiometri dari sistem CuSO4 dan NaOH. Dalam  grafik diatas terlihat bahwa perubahan suhu tertinggi terjadi pada titik 3.5 oC.

Pada saat itu volume CuSO4 yang direaksikan sebanyak 15 mL sementara volume NaOH yang direaksikan sebanyak 15 mL. Artinya titik stoikiometri dari sistem CuSO4 dan NaOH terjadi pada perbandingan volume CuSO4 : NaOH adalah 1 : 1. Volume pereaksi pada titik stoikiometri yang tergambar pada grafik, ternyata merupakan perbandingan volume yang dapat terurai sempurna pada hitung hitungan persamaan reaksi.

Pada saat itu volume CuSO4 yang direaksikan sebanyak 10 mL sementara volume NaOH yang direaksikan sebanyak 20 mL. Artinya titik stoikiometri dari sistem CuSO4 dan NaOH terjadi pada perbandingan volume CuSO4 : NaOH adalah 1 : 2. Perbedaan perbandingan tersebut disebabkan oleh T maksimum yang didapat bukan T maksimum pada titik stokiometri dan volume yang diujikan pada percobaan berbeda-beda sehingga  molaritas larutan campuran yang bereaksi tidak habis tepat bereaksi.

B. Sistem NaOH – HCl

Berdasarkan grafik diatas, terlihat bahwa perubahan suhu optimal terjadi pada titik 2.5oC. Itulah yang menjadi titik stoikiometri dari sistem NaOH dan HCl. Suhu optimal tersebut terjadi ketika 15 ml NaOH direaksikan dengan 15 ml HCl,ketika 20 ml NaOH direaksikan dengan 10 ml HCl dan . ketika 10 ml NaOH direaksikan dengan 20 ml HCl. Dengan kata lain titik stoikiometri sistem NaOH dan HCl berdasarkan percobaan terjadi ketika perbandingan pereaksi NaOH : HCl = 1:1, 2 :1 dan 1:2.

Pada saat NaOH dan HCl direaksikan dengan volume yang sama, maka keduanya akan terurai sempurna dan tidak bersisa. Saat itulah terjadi titik stoikiometri. Tidak adanya pereaksi yang tersisa pada perhitungan dan titik perubahan suhu tertinggi pada grafik pada perbandingan volume yang sama menyelaraskan hasil yang didapat bahwa titik stoikiometri terjadi pada saat tersebut.

C.  Sistem NaOH – H2SO4

Dari grafik diatas, terlihat bahwa perubahan suhu teringgi terjadi pada suhu 11.5oC. Pada saat itu 15 ml NaOH direaksikan dengan 15 ml H2SO4

Berdasarkan hasil hitung-hitungan di atas, ketika 15 ml NaOH direaksikan dengan 15 ml H2SO4pereaksi terurai sempurna dan tidak ada sisa pada saat reaksi berakhir.

Hal tersebut berarti ada kesesuaian mengenai titik stoikiometri pada sistem NaOH – H2SO4 . Volume pereaksi pada titik stoikiometri yang tergambar pada grafik, ternyata merupakan perbandingan volume yang dapat terurai sempurna pada hitung hitungan persamaan reaksi.

  1. Tujuan Percobaan

Setelah melakukan percobaan ini ,mahasiswa di harapkan dapat :

  • Membuat sabun atau melakukan reaksi saponifikasi
  • Melakuakn analisa sifat-sifat sabun yang di hasilkan dengan metode standar SNI

 

  1. Dasar Teori

Sabun adalah satu senyawa kimia tertua yang pernah di kenal .Sabun di buat dari campuran senyawa alkali (NaOH,KOH) dan minyak( Trigliserida).

Trigliserida terdiri dari tiga gugus asam lemak yang terikat pada gugus gliserol. Asam lemak terdiri dari rantai karbon panjang yang berakhir dengan gugus asam karboksilat pada ujungnya. Gugus asam karboksilat terdiri dari sebuah atom karbon yang berikatan dengan dua buah atom oksigen. Satu ikatannya terdiri dari ikatan rangkap dua dan satunya merupakan ikatan tunggal. Setiap atom karbon memiliki gugus asam karboksilat yang melekat, maka dinamakan “tri-gliserida”. 

Apabila trigliserida direaksikan dengan alkali (sodium hidroksida atau kalium hidroksida), maka ikatan antara atom oksigen pada gugus karboksilat dan atom karbon pada gliserol akan terpisah. Proses ini disebut “saponifikasi”. Atom oksigen mengikat sodium yang berasal dari sodium hidroksida sehingga ujung dari rantai asam karboksilat akan larut dalam air. Garam sodium dari asam lemak inilah yang kemudian disebut sabun. Sedangkan gugus OH dalam hidroksida akan berikatan dengan molekul gliserol, apabila ketiga gugus asam lemak tersebut lepas maka reaksi saponifikasi dinyatakan selesai. Reaksi tersebut sebagai berikut :

 

Trigliserida biasanya disebut juga “fat” atau lemak jika berbentuk padat pada suhu kamar, dan disebut minyak (oil) bila pada suhu kamar berbentuk cair. Trigliserida tidak larut dalam air, hal ini dapat dibuktikan bila kita mencampurkan air dan minyak, akan terlihat keduanya tidak akan bercampur.

        Sabun disebut sodium stearat dengan rumus kimia C17H35COO – Na + dan merupakan hydrocarbon rantai panjang dengan 10 sampai 20 atom Carbon. Dapat digunakan untuk membersihkan karena  bersifat polar, merupakan komponen ionik yang larut dalam air dan tidak larut dalam larutan organik, yaitu minyak.

Lemak dan minyak yang digunakan untuk membuat sabun terdiri dari 7 asam lemak yang berbeda. Apabila semua ikatan karbon dalam asam lemak terdiri dari ikatan tunggal disebut asam lemak jenuh, sedangkan bila semua atom karbon berikatan dengan ikatan rangkap disebut asam lemak tak jenuh. Asam lemak tak jenuh dapat dikonversikan menjadi asam lemak jenuh dengan menambahkan atom hydrogen pada lokasi ikatan rangkap. Jumlah asam lemak yang tak jenuh dalam pembuatan sabun akan memberikan pengaruh kelembutan pada sabun yang dibuat.

Bentuk sabun menjadi bermacam-macam, yaitu:

  1. Sabun cair
    • Dibuat dari minyak kelapa
    • Alkali yang digunakan KOH
    • Bentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar
  2. Sabun lunak
    • Dibuat dari minyak kelapa, minyak kelapa sawit atau minyak tumbuhan yang tidak jernih
    • Alkali yang dipakai KOH
    • Bentuk pasta dan mudah larut dalam air
  3. Sabun keras
    • Dibuat dari lemak netral yang padat atau dari minyak yang dikeraskan dengan proses hidrogenasi
    • Alkali yang dipakai NaOH
    • Sukar larut dalam air

 

  1. Alat dan Bahan
  • Alat yang di gunakan
    • Gelas Kimia                50 ml,250 ml
    • Batang Pengaduk
    • Erlenmeyer                 250 ml
    • Gelas UKur                  50 ml
    • Gelas Arloji
    • Cetakan
    • Buret                           50 ml
    • Statif dan klem
  • Bahan yang di gunakan
    • Minyak Kelapa            20 ml
    • NaOH                         12,04 gr  (40 % B/V)
    • NaCl                           0,1 gram
    • Amylum                     0,50 gram
    • HCl 0,5 N                   50 ml
    • Indikator PP

D.Langkah Kerja

  1. Data Pengamatan

       Persiapan :

No.

Bahan

Berat/volume

Massa Molekul

Rumus

1.

NaOH

12,04 gr

40

NaOH

2.

Amylum

0,50 gr

18

H2O

3.

Minyak

20  ml

467

(C17H35COO)C3H5 

4.

NaCl

0,1 gr

58,5

NaCl

 

     

 

Proses pencampuran :

      

No.

Bahan

Tempat

Pengamatan

Keterangan

1.

Minyak kelapa dan NaOH

Gelas Kimia

Ketika di lakukan pengadukan minyak dan NaOH bercampur  sehingga tekstur agak kental.

Terdapat gliserol

2.

  Penambahan NaCl

Gelas Kimia

Setelah diaduk selama 10 menit garam larut dalam campuran di atas.

Gliserol dan sabun terpisah dan bisa di pisahkan sengan dekantasi

3.

Penambahan Amylum

Gelas Kimia

Campuran di aduk selama 10 menit hingga rata

 

 

  1. Pengolahan Data
    1. Alkali bebas 

Volume HCl = 5,25 ml

Konsentrasi  = 0,5 N

Alkali bebas  =  x 100 %

                        = x 100%

                        = 10,05  %

 

 

 

 

Sampel sabun literature

Volume HCl = 5,50 ml

Konsentrasi  = 0,5 N

Alkali bebas  =  x 100 %

                        = x 100%

                        = 11,00  %

  1. Asam lemak bebas

Karena pada saat sampel di tambahkan indicator PP menunjukan warna merah muda maka bisa di pastikan sampel tersebut tidak mengandung asam lemak dan PH nya adalah basa .

  1. Yield Sabun
  • Menurut Teori

Diketahui :

  • Berat NaOH = 12,04 gram
  • Massa Molekul NaOH  =40 gr/mol

       Mol NaOH            =   =  0.30 mol        

  • Volume minyak goreng  = 20 ml mL                      -
  •  massa jenis minyak goreng = 0.832 gr/mL
  • Mr minyak goreng [C17H33COO)C3H5 ]  = 884 gr/mol

 

            Massa minyak goreng    =  ρ minyak goreng × Vol minyak grng

          =   0.832 gr/mL x 20 mL

    =   16,64  gr

           Mol minyak goreng   =  = 0,019  mol

 

     

  (C17H33COO)C3H5       +    3 NaOH    →    3 C17H33COO Na     +   C3H8O3

M         0,019 mol                 0,30  mol                             –                              -

B          0,019  mol               0,057 mol                     0,057  mol                    0,019 mol

           

S                –                        0,243   mol                    0,057   mol                   0,019 mol                                                                                                                                                               

 

Massa molekul sabun = 912 gr/mol

Massa sabun teori       = mol  x  Mr

                                    = 0,057 mol   x  912 gr/mol

                                   = 51,98 gram

  • Menurut Percobaan

Berat sabun          = 36,5  gram

    

% yield             =  x 100 %

 

                   =  x 100%

            

             =  70,20 %

 

 

 

PEMBAHASAN

              Sabun yang biasa di gunakan sehari-hari di buat dengan proses Saponifikasi yaitu dengan mereaksikan suatu asam lemak/minyak dengan basa alkali sehingga terbentuk sabun.Minyak yang di gunakan pada percobaan kali ini yaitu minyak goreng kelapa sawit yang banyak mengandung asam oleat.Sedangkan basa alkali yang di gunakan yaitu NaOH ,alasan memilih NaOH dan minyak goreng kelapa sawit sebagai bahan baku yaitu karena relative banyak di temukan dan harganya yang ekonomis.Tetapi untuk menghasilkan sabun yang lunak dan kualitas nya lebih bagus bahan baku yang di guankan adalah KOH dan Minyak kelapa.Dalam pembuatan sabun NaOH di buat berlebih sehingga semua minyak dalam hal ini trigliserida bisa semuanya membentuk sabun.Asam oleat yang banyak terkandung di dalam minyak goreng kelapa sawit mempunyai rumus molekul C17H33COOH.Reaksi yang terjadi  adalah sebagai berikut :

   (C17H33COO)C3H5       +    3 NaOH    →    3 C17H33COO Na     +   C3H8O3

Minyak kelapa sawit yang di gunakan dalam percobaan ini adalah sebanyak 20 ml,sedangkan NaOH  yang di gunakan adalah sebanyak 12,06 gram yang di larutkan dalam 30 ml air sehingga memiliki konsentrasi sekitar 40 % (b/v).

              Pembuatan sabun dimulai dengan  mencampurkan dua bahan baku di atas yaitu minyak goreng dengan NaOH kemudian di aduk-aduk hingga campuran bercampur rata dan wujudnya seperti susu kental yang tidak ada minyak di atasnya. Prinsip dalam  proses saponifikasi,yaitu  lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.   Proses pencampuran antara minyak dan alkali kemudian akan membentuk suatu cairan yang mengental, yang disebut dengan trace. Pada campuran tersebut kemudian ditambahkan garam NaCl.. Garam NaCl  ditambahkan untuk memisahkan antara produk sabun dan gliserol sehingga sabun akan tergumpalkan sebagai sabun padat yang memisah dari gliserol. Dalam percobaan, NaCl yang ditambahkan hanya sedikit yaitu 0,1 gram agar kandungan NaCl pada produk akhir jumlahnya sedikit. Karena jika kandungan NaCl dalam sabun terlalu tinggi, maka produk sabun yang dihasilkan akan terlalu keras.Selanjutnya yaitu penambahan amylum yang berfungsi untuk mengurangi kelembaban sabun. Kemudian gliserol yang sudah terpisah tersebut di pisahkan dari sabun. Jadi, pada hasil akhir, produk yang terbentuk hanya berupa sabun tanpa hasil samping berupa gliserol. Sabun yang dihasilkan dan di diamkan beberapa menit mulai mengeras dan seperti sabun biasa yang di jumpai sehari-hari. Uji kualitas yang dilakukan meliputi uji kandungan alkali bebas dan kandungan asam lemak bebas.

             Berdasarkan hasil perhitungan, maka didapat kandungan alkali bebas sebesar 10,05%,sedangkan kandungan alkali bebas pada sabun sampel suatu merk tertentu mengandung alkali bebas sebanyak 11,00 %. Kandungan alkali yang terdapat dalam sabun tersebut  menandakan bahwa produk sabun yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik atau tidak, karena semakin besar kandungan/ kadar alkali dalam produk sabun yang dihasilkan maka kualitas produk yang dihasilkan pun semakin menurun kualitasnya. Akan tetapi, produk sabun yang bebas alkali pun tidak berarti bahwa kualitasnya lebih baik. Sabun yang bebas alkali justru dapat menyebabkan kerusakan kulit. Uji kualitas selanjutnya meliputi kadar asam lemak bebas ,karena ketika di tambahkan indikator PP larutan sabun berubah menjadi warna merah muda maka dapat di simpulkan PH dari sabun tersebut basa/Netral sehingga tidak mengandung asam lemak.Berat sabun yang dihasilkan dalam percobaan yaitu sebanyak 36,50 gram sedangkan hasil sabun yang seharusnya menurut teori adalah sebanyak 51,98 gram .Dengan demikian yield sabun yang dihasilkan adalah sebesar 70,20 %.

  1. Kesimpulan
  • Sabun di buat dengan reaksi penyabunan (Saponifikasi) anatar  basa alkali dengan minyak/lemak .
  • Produk yang dihasilkan pada Saponifikasi adalah sabun sebagai hasil utama dan Gliserol sebagai hasil samping.
  • Sabun yang dihasilkan mengandung alkali bebas sebesar 10,05 % dan lebih kecil di bandingakn dengan sabun asli suatu merk tertentu yaitu sebesar 11,00 %.
  • Sabun yang dihasilkan tidak mengandung asam lemak bebas.
  • Yield yang dihasilkan sebesar 70,20 %.

 

 

 

  1. Daftar Pustaka

Emmanuela,M.W.,Reaksi Saponifikasi,Petunjuk Praktikum Satuab Proses Teknik Kimia ,Polban

Wikipedia.org/wiki/Asam oleat (23 April 2013)

Azhar, ahmad Basyir.2011. Reaksi Saponifikasi. http://akhmadazharbasyir.blogspot.com/2011/12/laporan-praktikum-kimia-reaksi_23.html

Andri.2012.laporan lengkap. http://chemistpt.blogspot.com/2012/10/laporan-lengkap_20.html

Anngo philip krisbiantoro. 2012. Laporan Praktikum Kimia Dasar Reaksi Saponifikasi Serta Pengujian Sifat Surfaktan Sabun Dan Detergen. http://philipanggok.blogspot.com/

 

Keakraban Lindaweni dan Pelatih

Posted: April 20, 2013 in BADMINTON

A_iEmpVCcAEG1xp

Greysia Polii “Luar Biasa”

Posted: April 20, 2013 in BADMINTON

images (4)-tile

Tepat tanggal 21 April  seratus tiga puluh empat  tahun yang lalu , lahir seorang  sosok wanita inspiratif yang sangat berpengaruh  di negeri ini khususnya bagi kaum hawa.Sosok wanita lembut ,santun dan cerdas tersebut tak lain adalah Kartini ,beliau juga merupakan salah satu pahlawan nasional  dan seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia .Dengan  ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya jaman dulu dengan mendirikan sekolah –sekolah bagi kaum wanita.

“Lalu di Era Reformasi ini adakah sosok Kartini yang berjuang untuk bangsanya dan inspiratif bagi seluruh kaum wanita di dunia??”.

Jika di lihat dari beberapa sudut pandang ,tentunya banyak  sosok Kartini di negeri ini yang berjuang untuk bangsa Indonesia sekaligus sosok yang inspiratif bagi semua orang .Salah satunya adalah atlet-atlet yang berjuang untuk mengharumkan bangsa ini di mata dunia  ataupun musisi,penyanyi yang Go internasional ,mereka bisa di sebut sosok Kartini karena perjuangan dan pengorbanannya bisa mengangkat bangsa ini menjadi bangsa yang berprestasi.

“Lalu siapakah sosok tersebut dan apa yang dia berikan buat negeri ini??”.

Beberapa tahun silam,tepat sebelum reformasi,Bendera merah putih pertama kalinya berkibar di kancah dunia berkat medali emas yang boyong Susi Susanti di Olimpiade Barcelona .Dengan prestasi tersebut maka sosok Susi Susanti sangat menginspiratif wanita Indonesia untuk bisa berprestasi dan mengangkat derajat Indonesia di mata dunia.Namun abad 20 ini belum ada wanita yang bisa mengibarkan bendera merah putih di puncak teratas pada pesta olahraga terbesar di dunia. Walaupun  begitu di abad 20 ini ternyata masih ada wanita yang bisa mengharumkan nama  Indonesia di kancah dunia meski tak sehebat Susi Susanti.Wanita-wanita tersebut seperti Liliyana Natsir yang berhasil menyumbang medali perak di Olimpiade Beijing 2008 ,Ia juga berhasil menjadi juara dunia pada tahun 2005,2 kali juara All England tahun 2012 dan 2013 dan beberapa gelar kejuraan lainnya yang cukup mengharumkan nama Indonesia di Dunia melalui bulutangkis.Wanita lainnya yaitu Maria Kristin yang berhasil meraih perunggu di Olimpiade Beijing 2008 .Dengan prestasi  tersebut apakah bisa di katakan bahwa mereka adalah sosok Kartini yang menginspiratif dan mengharumkan nama Indonesia  di Era Reformasi ??

“Lalu akankah lahir seorang sosok Kartini yang akan mengangkat nama Indonesia di Era Reformasi dan Globalisasi ini?”

“Siapakah sosok –sosok tersebut ??””

 

 

Image

Reptiles, such as lizards or geckos can stick in the ceiling, walls, or slippery surfaces, such as glass.

Why is that??

On the surface of the foot reptile, there are billions of tiny hairs called spatulae.Spatulae they form structures called setae.Setae line resulted in adhesion force (attractive forces between the surface smooth hair). Therefore, lizard or gecko can stick to a.Interaction molecules (between hair smooth with the surface) only happens when a lizard or a gecko sticks to the surface (not permanent). therefore, lizard or gecko could move.

Chem-is-Try

Sources: 2 for High School Chemistry (Sandri Justina and Muchtaridi)