Listening to Can’t Keep My Hands Off You (feat. Rivers Cuomo) by Simple Plan with simple

Preview it on Path

Good song

Listening to Crazy by Simple Plan with sendiri

Preview it on Path

Makalah Terumbu Karang

Posted: Desember 18, 2013 in Chem-is-Try

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Eksistensi Indonesia sebagai salah satu pusat terumbu karang diyakini terus mengalami degradasi. Tentunya masalah itu, akan semakin meluas jika tidak segera diambil langkah-langkah untuk melestarikannya. Sebagai salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia juga dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia dengan kekayaan terumbu karangnya.
Namun sayangnya, saat ini kekayaan terumbu karang Indonesia justru terancam rusak akibat berbagai hal, baik karena faktor alam seperti perubahan iklim maupun akibat ulah manusia sendiri. Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 85.200 Km2 atau sekitar 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle, yang meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Salomon.
Keberadaan terumbu karang pada 6 negara itu mendapat julukan coral triangle (segi tiga karang dunia) karena jika ditarik garis batas yang melingkupi wilayah terumbu karang pada negara-negara tersebut maka akan menyerupai segitiga dengan total luas sekitar 75.000 Km2.
Beberapa kepulauan di Indonesia selama ini diketahui memiliki jenis karang cukup tinggi seperti Nusa Penida (Bali), Komodo (NTT), Bunaken (Sulut), Kepulauan Derawan (Kaltim), Kepulauan Wakatobi (Sultra), dan Teluk Cendrawasih (Papua). Namun sayangnya, lagi-lagi kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki bangsa Indonesia itu tidak dapat terpelihara, baik akibat perubahan iklim maupun masalah lokal seperti ketidaktahuan, bahkan keserakahan dalam mengeksploitasi kekayaan alam demi mendapat keuntungan tanpa memikirkan kelestarian alam.
Maka dari itu, saat ini sebanyak 22% terumbu karang di wilayah Indonesia Bagian Timur dan Papua Nugini mengalami rusak. Angka ini lebih kecil dibandingkan kerusakan di wilayah Indonesia Bagian Barat sebesar 71%.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan Terumbu Karang di Indonesia?
2. Apa Saja Faktor Penyebab Kerusakan ,Jenis Pencemar,dan Pengaruh Pencemaran
Lingkungan terhadap Keberadaan Terumbu Karang
3. Apa Akibat yang Akan ditimbulkan dari Pencemaran Terhadap Terumbu Karang?
4. Bagaimana Cara Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Terhadap Terumbu Karang?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui keadaan Terumbu Karang di Indonesia
2. Untuk Mengetahui Faktor Penyebab Kerusakan ,Jenis Pencemar,pengaruh Pencemaran Lingkungan terhadap Keberadaan Terumbu Karang
3. Mengetahui Akibat yang di Timbulkan Akibat Pencemaran Terhadap Terumbu Karang
4.Mengetahui Cara Penanggulangan dan Pencegahan Pencemaran terhadap Terumbu Karang
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui :
• Penelitian kepustakaan (Library Research); yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, dokumen, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.
• Browsing; yaitu mencari data dan informasi melalui media internet.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian,Cara Reproduksi dan Cara Hidup Terumbu Karang
Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi.
Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentu.Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesiestumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.
Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimen kalsium karbonat akibat aktivitas biologi(biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.
Dalam peristilahan ‘terumbu karang’, “karang” yang dimaksud adalah koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.
Habitat
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang.
Ekosistem terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu, salinitas, sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine). Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.
Kondisi optimum
Untuk dapat bertumbuh dan berkembang biak secara baik, terumbu karang membutuhkan kondisi lingkungan hidup yang optimal, yaitu pada suhu hangat sekitar di atas 20oC. Terumbu karang juga memilih hidup pada lingkungan perairan yang jernih dan tidak berpolusi.Hal ini dapat berpengaruh pada penetrasi cahaya oleh terumbu karang.
Beberapa terumbu karang membutuhkan cahaya matahari untuk melakukan kegiatan fotosintesis. Polip-polip penyusun terumbu karang yang terletak pada bagian atas terumbu karang dapat menangkap makanan yang terbawa arus laut dan juga melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, oksigen-oksigen hasil fotosintesis yang terlarut dalam air dapat dimanfaatkan oleh spesies laut lainnya.Hewan karang sebagai pembangun utama terumbu adalah organisme laut yang efisien karena mampu tumbuh subur dalam lingkungan sedikit nutrien (oligotrofik).
Fotosintesis
Proses fotosintesis oleh alga menyebabkan bertambahnya produksi kalsium karbonat dengan menghilangkan karbon dioksida dan merangsang reaksi kimia sebagai berikut:
Ca(HCO3) CaCO3 + H2CO3 H2O + CO2
Fotosintesis oleh algae yang bersimbiosis membuat karang pembentuk terumbu menghasilkan deposit cangkang yang terbuat dari kalsium karbonat, kira-kira 10 kali lebih cepat daripada karang yang tidak membentuk terumbu (ahermatipik) dan tidak bersimbiose dengan zooxanthellae.
Di Indonesia dan Indo Pasifik terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut, disamping hutan bakau atau hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat Indonesia sampai Kawasan Timur Indonesia. Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara.
Indonesia merupakan tempat bagi sekitar 1/8 dari terumbu karang Dunia dan merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman biota perairan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Bentangan terumbu karang yang terbesar dan terkaya dalam hal jumlah spesies karang, ikan, dan moluska terdapat pada regional Indo-Pasifik yang terbentang mulai dari Indonesia sampai ke Polinesia dan Australia lalu ke bagian barat yaitu Samudera Pasifik sampai Afrika Timur.
2.2 Jenis-jenis Terumbu Karang
2.2.1 Berdasarkan kemampuan memproduksi kapur
• Karang hermatipik
Karang hermatifik adalah karang yang dapat membentuk bangunan karang yang dikenal menghasilkan terumbu dan penyebarannya hanya ditemukan di daerah tropis.
Karang hermatipik bersimbiosis mutualisme dengan zooxanthellae, yaitu sejenis algae uniseluler (Dinoflagellata unisuler), seperti Gymnodinium microadriatum, yang terdapat di jaringan-jaringan polip binatang karang dan melaksanakan Fotosintesis. Dalam simbiosis, zooxanthellae menghasilkan oksigen dan senyawa organik melalui fotosintesis yang akan dimanfaatkan oleh karang, sedangkan karang menghasilkan komponen inorganik berupa nitrat, fosfat dan karbon dioksida untuk keperluan hidup zooxanthellae Hasil samping dari aktivitas ini adalah endapan kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini akhirnya digunakan untuk menentukan jenis atau spesies binatang karang.
Karang hermatipik mempunyai sifat yang unik yaitu perpaduan antara sifat hewan dan tumbuhan sehingga arah pertumbuhannya selalu bersifat Fototropik positif. Umumnya jenis karang ini hidup di perairan pantai /laut yang cukup dangkal dimana penetrasi cahaya matahari masih sampai ke dasar perairan tersebut. Disamping itu untuk hidup binatang karang membutuhkan suhu air yang hangat berkisar antara 25-32 °C.
• Karang ahermatipik
Karang ahermatipik tidak menghasilkan terumbu dan ini merupakan kelompok yang tersebar luas diseluruh dunia.
2.2.2 Berdasarkan bentuk dan tempat tumbuh
• Terumbu (reef)
Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain, seperti alga berkapur, yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup)di laut dangkal.
• Karang (koral)
Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang batu termasuk ke dalam Kelas Anthozoa yaitu anggota Filum Coelenteratayang hanya mempunyai stadium polip. Dalam proses pembentukan terumbu karang maka karang batu (Scleratina) merupakan penyusun yang paling penting atau hewan karang pembangun terumbu. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip. Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas.
• Karang terumbu
Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.
• Terumbu karang
Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis¬-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis¬-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenisPlankton dan jenis-jenis nekton.
2.2.3 Berdasarkan letak
• Terumbu karang tepi
Terumbu karang tepi atau karang penerus atau fringing reefs adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal.
Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali).
• Terumbu karang penghalang
Secara umum, terumbu karang penghalang atau barrier reefs menyerupai terumbu karang tepi, hanya saja jenis ini hidup lebih jauh dari pinggir pantai. Terumbu karang ini terletak sekitar 0.5¬2 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputus-putus.
Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah).
Terumbu karang cincin

atolls
Terumbu karang cincin atau attols merupakan terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. Atol banyak ditemukan pada daerah tropis di Samudra Atlantik. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau¬-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan.
• Terumbu karang datar
Terumbu karang datar atau gosong terumbu (patch reefs), kadang-kadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal.
Contoh: Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Kepulauan Ujung Batu (Aceh)
2.2.4 Berdasarkan zonasi
• Terumbu yang menghadap angin
Terumbu yang menghadap angin (dalam bahasa Inggris: Windward reef) Windward merupakan sisi yang menghadap arah datangnya angin. Zona ini diawali oleh lereng terumbu yang menghadap ke arah laut lepas. Di lereng terumbu, kehidupan karang melimpah pada kedalaman sekitar 50 meter dan umumnya didominasi oleh karang lunak. Namun, pada kedalaman sekitar 15 meter sering terdapat teras terumbu yang memiliki kelimpahan karang keras yang cukup tinggi dan karang tumbuh dengan subur.
Mengarah ke dataran pulau atau gosong terumbu, di bagian atas teras terumbu terdapat penutupan alga koralin yang cukup luas di punggungan bukit terumbu tempat pengaruh gelombang yang kuat. Daerah ini disebut sebagai pematang alga. Akhirnya zona windward diakhiri oleh rataan terumbu yang sangat dangkal.
• Terumbu yang membelakangi angin
Terumbu yang membelakangi angin (Leeward reef) merupakan sisi yang membelakangi arah datangnya angin. Zona ini umumnya memiliki hamparan terumbu karang yang lebih sempit daripadawindward reef dan memiliki bentangan goba (lagoon) yang cukup lebar.[1] Kedalaman goba biasanya kurang dari 50 meter, namun kondisinya kurang ideal untuk pertumbuhan karang karena kombinasi faktor gelombang dan sirkulasi air yang lemah serta sedimentasi yang lebih besar.

2.3 Manfaat Terumbu Karang Bagi Kehidupan
Terumbu karang bagi kehidupan manusia sangatlah berarti. Banyak potensi-potensi yang dihasilkan oleh terumbu karang bagi kehidupan laut maupun manusia. Berikut merupakan fungsi-fungsi dari terumbu karang.
• Pelindung ekosistem pantai
Dari segi fisik terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari erosi dan abrasi, struktur karang yang keras dapat menahan gelombang dan arus sehingga mengurangi abrasi pantai dan mencegah rusaknya ekosistim pantai lain seperti padang lamun dan magrove.
• Rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut
Terumbu karang bagaikan oase di padang pasir untuk lautan. Karenanya banyak hewan dan tanaman yang berkumpul di sini untuk mencari makan, memijah, membesarkan anaknya, dan berlindung. Bagi manusia, ini artinya terumbu karng mempunyai potensial perikanan yang sangat besar, baik untuk sumber makanan maupun mata pencaharian mereka. Diperkirakan, terumbu karang yang sehat dapat menghasilkan 25 ton ikan per tahunnya. Sekitar 500 juta orang di dunia menggantungkan nafkahnya pada terumbu karang, termasuk didalamnya 30 juta yang bergantung secara total pada terumbu karang sebagai penhidupan.
• Sumber obat-obatan
Pada terumbu karang banyak terdapat bahan-bahan kimia yang diperkirakan bisa menjadi obat bagi manusia. Saat ini banyak penelitian mengenai bahan-bahan kimia tersebut untuk dipergunakan untuk mengobati berbagai manusia.
• Objek wisata
Terumbu karang yang bagus akan menarik minat wisatawan sehingga meyediakan alternatif pendapatan bagi masyarakat sekitar. Diperkirakan sekitra 20 juta penyelam, menyelam dan menikmati terumbu karang per tahun.
• Daerah Penelitian
Penelitian akan menghasilkan informasi penting dan akurat sebagai dasar pengelolaan yang lebih baik. Selain itu, masih banyak jenis ikan dan organisme laut serta zat-zat yang terdapat di kawasan terumbu karang yang belum pernah diketahui manusia sehingga perlu penelitian yang lebih intensif untuk mengetahui ‘misteri’ laut tersebut.
• Mempunyai nilai spiritual
Bagi banyak masyarakat, laut adalah daerah spiritual yang sangat penting, Laut yang terjaga karena terumbu karang yang baik tentunya mendukung kekayaan spiritual ini.
• Sumber mata pencarian
Banyak orang yang menggantungkan hidupnya pada terumbu karang. Tentu saja mnjadikan terumbu karang sebagai sumber mata pencarian harus di ikuti dengan rasa tanggung jawab sehingga tidak terjadi eksploitasi yang terlalu berlebihan. Selain itu terumbu karang juga dapat menjadi objek wisata yang tentunya dapat menambah pundi-pundi rupiah dari wisatawan.
2.4 Peraturan Pemerintah Mengenai Terumbu Karang
Pengrusakan terumbu karang tersebut khususnya yang disebabkan oleh aktivitas manusia, merupakan tindakan inkonstitusional alias melanggar hukum. Dalam UU 1945 pasal 33 ayat 3 dinayatakan, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Pasal 33 ayat 3 ini merupakan landasarn yuridis dan sekaligus merupakan arah bagi pengaturan terhadap hal yang berkaitan dengan sumberdaya terumbu karang. Selain itu salah satu tujuan dari Strategi Konservasi Dunia 1980 adalah menetapkan terumbu karang sebagai sistem ekologi dan penyangga kehidupan yang penting untuk kelangsungan hidup manusia dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, terumbu karang di sebagai salah satu sumberdaya alam yang ada di Indonesia, pengelolaannya harus di dasarkan pada peraturan – peraturan, di antaranya :
1. UU RI No. 4/1982, tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup
2. UU RI No. 9/1985. Tentang perikanan
3. UU RI No. 5/1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem
4. UU RI No. 9/1990 Tentang Kepariwisataan
5. Peraturan pemerintah No. 29/1986 tentang analisa dampak lingkungan
6. Keputusan menteri kehutanan No. 687/Kpts.II/1989 tanggal 15 Nopember 1989 tentang pengusaha hutan wisata, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Hutan Laut
7. Surat edaran Menteri PPLH No. 408/MNPPLH/4/1979, tentang larangan pengambilan batu karang yang dapat merusak lingkungan ekosistem laut, situjukan kepada Gubenur Kapala Daerah, Tingkat I di seluruh Indonesia.
8. Surat Edaran Direktur Jenderal Perikanan No. IK.220/D4.T44/91, tentang penangkapan ikan dengan bahan/alat terlarang – ditujukan kepada Kepala Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Keadaan Terumbu Karang di Indonesia
Terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang saling bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga. Kumpulan karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut polip, polip ini kemudian berkembang hingga jutaan dan terbentuklah struktur dasar dari terumbu karang. Di perairan indonesia yang notabene merupakan perairan tropis, karang dapat tumbuh subur karena suhu perairannya berkisar antara 21 – 29 derajat celcius, sementara bila di perairan yang suhunya lebih rendah pertumbuhan karang akan lebih lambat. Selain di perairan tropis, karang pun dapat tumbuh subur di perairan subtropis contohnya di jepang selatan dan florida amerika.
Sebagai negara maritim, indonesia memiliki kekayaan biota laut yang sangat beragam. salah satu kekayaan biota laut yang terdapat di indonesia adalah terumbu karang. Bahkan indonesia merupakan negara yang memiliki terumbu karang terkaya di dunia.
Sekitar 85.200 km2 atau 18% dari seluruh terumbu karang di dunia yang jumlahnya 284.300 km2 berada di hamparan dalam samudra di indonesia. Negara kita ini memiliki 93 ribu km2 wilayah perairan yang di dalamnya terdapat 4000 jenis hewan laut (ikan dan udang-udangan), 600 jenis batu karang,dan 2500 jenis moluska.
Kita sebagai warga negara indonesia patut berbangga karena indonesia juga termasuk wilayah Coral triangel atau segitiga karang dunia yang menjadi pusat ekosistem keragaman laut di dunia. Raja ampat, papua barat merupakan kawasan penyumbang terumbu karang terbesar di indonesia dan sekaligus menjadi kepulawan dengan jenis terumbu karang terbanyak di dunia, yang memiliki hampir 500 lebih jenis karang dan 100 spesies ikan laut. Selain itu masih ada wilayah yang memiliki jenis terumbu karang yang banyak antara lain, Kepulawan derawan, kalimantan timur; Kep.wakatobi, Sultra; nusa penida,bali; yang masing-masing memiliki kekayaan terumbu karang yang tidak kalah bagus.
Sayangnya, keberadaan terumbu karang di dunia khususnya di indonesia mulai teancam. Di indonesia saja persentase perusakan terumbu karang tiap tahunnya menunjukan kenaikan yang signifikan, dalam kurun waktu 4 tahun (2004-2008) 34% terumbu karang di indonesia berkondisi sangat buruk, dan ironisnya hanya 3 % terumbu karang yang dalam keadaan sangat baik.Data yang muncul mengisyaratkan apabila tidak diambil langkah-langkah progresif, dapat dipastikan laju degradasi terumbu karang di negara kita akan semakin menghawatirkan, bila tidak ingin dikatakan mengarah punah. Artinya, harus ada upaya nasional untuk mengentikan laju kerusakannya. Jika tidak, degradasi terumbu karang dikuatirkan akan semakin luas dan besar yang konsekuensinya juga akan berdampak secara ekologis maupun ekonomis bagi Indonesia sendiritentunya.
Karenanya seluruh elemen harus menyadari bahwa menjaga kelestarian sumber daya kelautan berarti merupakan suatu upaya penting dalam menjamin produktivitas sumber daya perikanan. Sekali lagi harus disadari, manfaat terumbu karang bagi manusia amat menakjubkan. Selain merupakan aset wisata bahari, juga berfungsi benteng alami pantai dari gempuran ombak, bahkan sumber makanan dan obat-obatan. Tak heran, jika ratusan juta orang hidupnya sangat bergantung pada terumbu karang di coral triangle.
Di Indonesia saja, nilai ekonomis terumbu karang tak bergeser dari angka US$1,6 miliar per tahun. Memang, angka ini masih rendah ketimbang nilai ekonomis terumbu karang di dunia sebesar US$29,8 miliar dari makanan, perikanan, keanekaragaman, dan wisata bahari. Namun, angka ekonomis terumbu karang di Indonesia lebih besar dibandingkan di Hawai yang sebesar US$361 juta bagi nonekstratif dan sebanyak US$3 juta bagi perikanan pesisir.
Jadi, bisa dibayangkan berapa kerugian material yang timbul akibat rusaknya terumbu karang yang merupakan tempat vital bagi ekosistem perikanan, begitu juga kerugian non material berupa rusaknya ekosistem laut yang tentunya amat berdampak bagi kehidupan kita.
3.2 Faktor Penyebab Kerusakan ,Jenis Pencemar,dan Pengaruh Pencemaran Terhadap Terumbu Karang
Lingkungan terhadap Keberadaan Terumbu Karang
Kerusakan terumbu karang bisa terjadi karena faktor alam dan faktor manusia. Berikut penyebab kerusakan karang meliputi :
• Faktor alam
Misalnya hempasan ombak yang mematahkan karang atau ikan dan hewan laut lainya yang menjadikan karang sebagai mangsanya. Akan tetapi, regenerasi dan pertumbuhan karang menggantikan kerusakan ini.
• Pengendapan sedimen
Pengendapan yang berasal dari sedimen tanah yang tererosi karena penebangan hutan, sehingga tanah tersebut terbawa ke laut dan menutupi karang dari sinar matahari
• Aliran air yang tercemar
Aliran air yang sudah dicemari oleh limbah sisa pembuangan dapat lambat laun akan membuat karang mati. Bahan pencemar bisa berasal dari berbagai sumber, diantaranya adalah limbah pertanian, perkotaan, pabrik, pertambangan dan minyak.
• Pemanasan suhu bumi
Pemanasan suhu bumi dikarenakan pelepasan karbon dioksida (CO2) ke udara. Tingginya kadar CO2 diudara berpotensi meningkatan suhu secara global. yang dapat mengakibatkan naik nya suhu air laut sehingga karang menjadi memutih (bleaching) seiring dengan perginya zooxanthelae dari jaringan kulit karang, jika terjadi terus menerus maka pertumbuhan terumbu karang terhambat dan akan mati.
• Uji coba militer
Latihan militer yang dilakukan sering tidak memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya. Pengujian bahan peledak dan radiasi nuklir memiliki potensi meningkatkan kerusakan terumbu karang serta menyebabkan mutasi pada terumbu karang.
• Eksploitasi yang berlebihan
Kebanyakan nelayan tidak mengerti pentingnya karan bagi kehidupan, sehingga eksploitasi besar-besaran sering dilakukan, penambangan terumbu karang tentu perlu di awasi ka
rena dampaknya yang bisa menghancurkan bahkan menghilangkan spesies terumbu karang.
• Asal melempar jangkar
Para nelayan bahkan perahu sewaan terkadang menambatkan jangkar di sembarang tempat. Jangkar yang di jatuhkan sembarangan dapat merusak terumbu karang
Pengaruh Pencemaran Lingkungan terhadap Terumbu Karang

Indonesia telah berkembang ke arah tercapainya tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga sektor industri dapat menjadi lebih efektif sebagai sarana utama untuk mendorong pembangunan ekonomi, meningkatkan kemampuan teknologi dan mengoptimumkan pemanfaatan sumberdaya ekonomi. Di samping itu, hal tersebut juga ditujukan pada peningkatan persaingan industri dan kemampuan untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi, yang mampu menembus pasar internasional, menggalakkan pertumbuhan industri kecil dan menengah, termasuk industri pedesaan; dan memperluas pembagian industri daerah, terutama di Indonesia Timur, sehingga pusat pertumbuhan ekonomi dapat dikembangkan di seluruh daerah sesuai potensinya.
Pembangunan pertambangan ditujukan ke arah peningkatan produksi dan diversifikasi produk pertambangan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dan sumberdaya energi primer, peningkatan ekspor, dan terpenuhinya kebutuhan masyarakat lainnya. Produksi tahunan minyak bumi (minyak mentah dan kondensat) adalah sekitar 600 juta barel, dengan ekspor sekitar 300 juta. Ekspor minyak murni adalah sekitar 80 juta barel per tahun. Produksi tahunan gas alam adalah sekitar 3.000 milyar kaki kubik dengan konsumsi lokal sebesar sekitar 2.800 milyar kaki kubik. Produksi Gas Alam Cair (LNG) adalah sekitar 1,4 milyar MMBTL, sebagian besar diekspor. Produksi LPG adalah sekitar 2,9 juta ton dan sekitar 2,6 juta diekspor.
Sayangnya kemajuan industri dan teknologi tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga mampu menimbulkan efek negatif khususnya pada lingkungan. Efek negatif yang kerap kali menurunkan kuantitas dan kualitas lingkungan adalah pencemaran dimana hal tersebut berpengaruh pula pada eksistensi ekosistem terumbu karang. Pencemaran laut karena minyak bumi tumpah ke laut dapat terjadi karena pemindahan minyak bumi dari kapal ke kapal, dari kapal ke pelabuhan atau sebaliknya, dari penyulingan minyak, dan dari pencucian kapal tanker.
Minyak yang tertumpah di laut akan mengalami absorbsi, pertukaran ion, penguapan dan pengendapan. Selain itu, tumpahan minyak akan tersebar di permukaan air laut. Ikawati (2001) mengemukakan bahwa sebagian tumpahan minyak di permukaan akan terseret ke pantai saat ada arus angin sedangkan yang melekat pada sedimen akan tenggelam ke dasar laut dan mengenai karang. Tumpahan tersebut dapat merusak atau menyebabkan kematian karang. Sebenarnya tumpahan minyak ini tidak dapat melekat begitu saja pada karang, tetapi tergantung efektifitas reaksi pembersihan karang (jenis karang) dan jenis pencemar.
Sebagai contoh, pada sebuah percobaan di laboratorium, Thompson dan Bright (1977) membandingkan kemampuan tiga spesies karang (Diploria strigosa, Montastrea annularis, M.cavernosa) dengan memindahkan empat tipe sedimen dari permukaan mereka. Empat tipe sedimen yang digunakan pada perlakuan tersebut adalah lumpur pengeboran, barite, bentonite, dan CaCO3. Percobaan dilakukan dengan menambahkan 25 ml adukan sedimen pada permukaan karang. Meskipun hasil mengindikasikan adanya tingkatan variasi pada pembersihan karang, tetapi semua karang yang diujikan dapat membersihkan barite, bentonite dan CaCO3 secara efektif dan tidak satupun spesies dapat membersihkan lumpur pengeboran secara keseluruhan.
Bahan pencemar lain yang dikenal berpengaruh terhadap kehidupan terumbu karang adalah tailing. Limbah tailing berasal dari batu-batuan dalam tanah yang telah dihancurkan hingga menyerupai bubur kental. Proses itu dikenal dengan sebutan proses penggerusan. Batuan yang mengandung mineral seperti emas, perak, tembaga dan lainnya, diangkut dari lokasi galian menuju tempat pengolahan yang disebut processing plant. Di tempat itu proses penggerusan dilakukan. Setelah bebatuan hancur menyerupai bubur biasanya dimasukkan bahan kimia tertentu seperti sianida atau merkuri, agar mineral yang dicari mudah terpisah. Mineral yang berhasil diperoleh biasanya berkisar antara 2% sampai 5% dari total batuan yang dihancurkan. Sisanya sekitar 95% sampai 98% menjadi tailing, dan dibuang ke tempat pembuangan.
Logam-logam yang berada dalam tailing sebagian adalah logam berat yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Sembiring (2010) mengemukakan bahwa tailing menyebar ke daerah yang lebih dangkal dan produktif secara biologis sehingga mendatangkan lebih banyak masalah dari yang diperkirakan yaitu mengusir spesies ikan yang berpindah-pindah, menyebabkan kerusakan permanen di dasar laut, memusnahkan spesies asli, menghilangkan organisme langka dan mengurangi keanekaragaman organisme termasuk terumbu karang.
Limbah merupakan polutan utama yang berasal dari anak sungai. Limbah pencemar tersebut dapat mengandung pestisida, herbisida, klhorin, logam berat dan limbah organik lainnya. Materi-materi tersebut dapat menyebabkan tingginya nilai BOD (Biological Oxygen Demand) dan meracuni ekosistem pesisir termasuk terumbu karang (Nganro, 2009). Melalui penelitiannya, Yudha (2007) mengemukakan bahwa kandungan fosfat, sulfida, dan logam berat seperti Pb, Hg, Cu dan Cd di perairan laut Bandar Lampung, yang dekat dengan pabrik-pabrik dan industri rumah tangga, terdapat dalam jumlah yang melebihi baku mutu yang ditetapkan untuk kehidupan biota laut. Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kegiatan manusia merupakan penyebab terbesar kerusakan terumbu karang.
Wilkinson (1993) menduga bahwa sekitar 10 % dari terumbu karang dunia telah hancur dan saat ini kondisi terumbu karang dunia dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) katagori :
1. Kritis (critical). Sekitar 30 % dari terumbu karang berada pada tingkat kritis dan akan hilang dalam waktu 10 -20 tahun kemudian jika tekanan antropogenik tidak berkurang atau dihilangkan
2. Terancam (threatened). Sekitar 30% te rumbu karang dikategorikan terancam dan akan tampak pada 20-40 tahun, jika populasi dan tekanan yang ditimbulkannya terus bertambah
3. Stabil (stable). Hanya sekitar 30 % dari terumbu karang dunia berada dalam kondisi stabil dan diharapkan akan bertahan dalam waktu yang sangat lama.
Menurut Nybakken (1988), untuk dapat memulihkan habitat terumbu karang dibutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu antara 50 hingga 100 tahun, tergantung dari kualitas perairan, tingkat tekanan terhadap lingkungan, letak terumbu karang yang akan menjadi sumber penghasil individu karang baru, dan lain-lain. Kerusakan habitat terumbu karang dapat menyebabkan inhibisi pertumbuhan jaringan dan rangka batu kapur karang, metabolisme tubuh menurun, respon perilaku termodifikasi, produksi mukus berlebih, kemampuan reproduksi melemah, serta hilangnya Zooxanthellae.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa keberadaan herbivora dan vertebrata laut mempengaruhi kesehatan terumbu karang. Vertebrata laut sangat penting dalam hal pendegradasian biomassa suatu spesies (Aronson, 2007). Akan tetapi, meningkatnya polutan organik merupakan tanda bahwa lokasi tersebut kaya akan unsur hara (nutrien) dan kelimpahan nutrien yang tidak terkendali akan menyebabkan peristiwa eutrofikasi yaitu ledakan populasi dari suatu jenis fitoplankton sehingga vertebrata pendegradasi tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya karena kelimpahan fitoplankton yang begitu tinggi (Ikawati, 2001). Hal ini juga menyebabkan adanya kompetisi antara karang dengan fitoplankton tersebut untuk mendapatkan cahaya matahari sebagai bahan fotosintesis.
Seperti kita ketahui bahwa karang hidup bersimbiosis dengan zooxanthellae yang merupakan spesies algae uniseluler. Selama fotosisntesis berlangsung, zooxanthellae memfiksasi sejumlah besar karbon yang dilewatkan pada polip inangnya. Karbon ini sebagian besar berbentuk gliserol termasuk glukosa dan alanin. Produk kimia ini digunakan oleh polip karang untuk menjalankan fungsi metaboliknya atau sebagai pembangun blok-blok dalam rangkaian protein, lemak dan karbohidrat. Apabila terjadi ledakan satu jenis fitoplankton maka kesempatan zooxanthellae untuk berfotosintesis semakin kecil sehingga tidak ada materi organik (nutrisi) yang dapat digunakan spesies karang untuk menjalankan hidupnya yang pada akhirnya menyebabkan menurunnya kesehatan terumbu karang hingga kematian karang.
Sebagai suatu ekosistem, terumbu karang memiliki komponen-komponen sebagaimana ekosistem lain yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen-komponen tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Keterkaitan antar komponen-komponen tersebut sangat erat sehingga perubahan salah satu komponen dapat berakibat pada berubahnya kondisi ekosistem. Berkaca pada pencemaran yang telah dijelaskan sebelumnya maka kematian terumbu karang dapat diasumsikan hilangnya salah satu komponen biotik di suatu ekosistem. Berkurang atau punahnya salah satu spesies tersebut dapat berakibat terjadinya alur tropik dalam jaring makanan yang tidak konsisten sehingga memicu terjadinya kelabilan ekosistem. Adanya rantai makanan yang terputus (missing link) dapat memicu munculnya spesies-spesies asing (exotic species) atau bioinvasi.
Peristawa algae bloom’s (eutrofikasi) juga dapat menyebabkan kematian pada spesies ikan. Pada 1979-1982 di Skotlandia, kematian ikan salmon meningkat karena adanya ledakan spesies Olisthodiscus sp. dan Chattonella sp. Selain itu, tahun 1978 di Inggris terjadi peningkatan kematian biota laut akibat melimpahnya Gyrodinium aureolum. Jenis ikan karang yang ada di Indonesia diperkirakan sebanyak 592 spesies. Sejumlah 736 spesies ikan karang dari 254 genera di temukan di perairan Pulau Komoodo. Sementara itu di Kepulauan Raja Ampat terdapat kenaekaragaman spesies ikan karang tertinggi di dunia, sedikitnya terdapat 970 spesies. Akan tetapi, jumlah spesies ikan karang mulai menurun seiring dengan menurunnya angka produktivitas ekosistem terumbu karang. Suatu penelitian mengenai eutrofikasi di pantai terluar Long Island pada tahun 1986 menyebutkan bahwa setiap liter air mengandung 1.000.000.000 sel alga jenis Aurecoccus anophogefferens selama musim panas sehingga terjadi penurunan penetrasi cahaya ke dasar laut.
Secara kumulatif, ancaman-ancaman dari eskploitasi berlebihan, perubahan tata guna lahan, pencemaran, dan pembangunan pesisir, bersama dengan efek perubahan iklim global, memberi gambaran ketidakpastian masa depan ekosistem terumbu karang. Walaupun sudah diketahui secara luas bahwa terumbu karang sudah sangat terancam, informasi yang berkenaan dengan ancaman-ancaman tertentu di area yang spesifik sangatlah terbatas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas serta dana yang memadai untuk melakukan pengelolaan efektif pada ekosistem terumbu karang. Karena banyak tekanan pada terumbu karang yang berakar dari masalah sosial dan ekonomi, pengelolaan juga harus melihat aspek lain selain aspek biologi dimana upaya yang perlu ditekankan adalah pengentasan kemiskinan, mata pencaharian alternatif, perbaikan pemerintahan, dan peningkatan kepedulian masyarakat akan nilai terumbu karang serta ancaman yang dihadapinya.

3.3 Akibat Yang Ditimbulkan
Berkurang atau punahnya salah satu spesies tersebut dapat berakibat terjadinya alur tropik dalam jaring makanan yang tidak konsisten sehingga memicu terjadinya kelabilan ekosistem. Adanya rantai makanan yang terputus (missing link) dapat memicu munculnya spesies-spesies asing (exotic species) atau bioinvasi (Sunarto, 2006).
Peristawa algae bloom’s (eutrofikasi) juga dapat menyebabkan kematian pada spesies ikan. Pada 1979-1982 di Skotlandia, kematian ikan salmon meningkat karena adanya ledakan spesiesOlisthodiscus sp. dan Chattonella sp. Selain itu, tahun 1978 di Inggris terjadi peningkatan kematian biota laut akibat melimpahnya Gyrodinium aureolum (Sindermann, 2006). Jenis ikan karang yang ada di Indonesia diperkirakan sebanyak 592 spesies. Sejumlah 736 spesies ikan karang dari 254 genera di temukan di perairan Pulau Komoodo. Sementara itu di Kepulauan Raja Ampat terdapat kenaekaragaman spesies ikan karang tertinggi di dunia, sedikitnya terdapat 970 spesies (Sunarto, 2006). Akan tetapi, jumlah spesies ikan karang mulai menurun seiring dengan menurunnya angka produktivitas ekosistem terumbu karang. Suatu penelitian mengenai eutrofikasi di pantai terluar Long Island pada tahun 1986 menyebutkan bahwa setiap liter air mengandung 1.000.000.000 sel alga jenisAurecoccus anophogefferens selama musim panas sehingga terjadi penurunan penetrasi cahaya ke dasar laut (Sindermann, 2006).

3.4 Cara Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Terhadap Terumbu Karang
Kerusakan terumbu karang yang diakibatkan oleh aktivitas manusia harus sedapat mungkin di cegah, karena akan sangat berdampak pada terganggunya ekosistem lainnya dan menurunnya produksi ikan yang merupakan sumber protein hewani bagi kemaslahatan umat manusia. Untuk maksud tersebut masyarakat maupun stakeholders perlu diajak untuk duduk bersama dengan menyatukan visi dan misi sehingga wilayah pesisir dan lautan dapat dikelola secara terpadu dan berkelanjutan.
Visi pengelolaan terumbu karang yaitu terumbu karang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi yang harus dikelola dengan bijaksana, terpadu dan berkelanjutan dengan memelihara daya dukung dan kualitas lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat dan stakeholders (pengguna) guna memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat dan pengguna secara berkelanjutan (sustainable).
Dalam upaya untuk mewujudkan visi tersebut maka ada empat tujuan pokok (1) tujuan sosial, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat dan stakeholders mengenai pentingnya pengelolaan terumbu karang secara terpadu dan berkelanjutan (2) tujuan konservasi ekologi yaitu melindungi dan memelihara ekosistem terumbu karang untuk menjamin pemanfaatan secara optimal dan berkelanjutan, (3) tujuan ekonomi yaitu meningkatkan pemanfaatan ekosistem terumbu karang secara efisien dan berkelanjutan untuk memperbaiki kesejateraan masyarakat dan stakeholders serrta pembangunan ekonomi, (4) tujuan kelembagaan yaitu menciptakan sistem dan mekanisme kelembagaan yang profesional, efektif dan efisien dalam merencanakan dan mengelola terumbu karang secara terpadu dan optimal.
Pemulihan kerusakan terumbu karang merupakan upaya yang paling sulit untuk dilakukan, serta memakan biaya tinggi dan waktu yang cukup lama. Upaya pemulihan yang bisa dilakukan adalah zonasi dan rehabilitasi terumbu karang.
1. Zonasi
Pengelolaan zonasi pesisir bertujuan untuk memperbaiki ekosistem pesisir yang sudah rusak. Pada prinsipnya wilayah pesisir dipetakan untuk kemudian direncanakan strategi pemulihan dan prioritas pemulihan yang diharapkan. Pembagian zonasi pesisir dapat berupa zona penangkapan ikan, zona konservasi maupun lainnya sesuai dengan kebutuhan/pemanfaatan wilayah tersebut, disertai dengan zona penyangga karena sulit untuk membatasi zona-zona yang telah ditetapkan di laut. Ekosistem terumbu karang dapat dipulihkan dengan memasukkannya ke dalam zona konservasi yang tidak dapat diganggu oleh aktivitas masyarakat sehingga dapat tumbuh dan pulih secara alami.
2. Rehabilitasi
Pemulihan kerusakan terumbu karang dapat dilakukan dengan melakukan rehabilitasi aktif, seperti meningkatkan populasi karang, mengurangi algae yang hidup bebas, serta meningkatkan ikan-ikan karang.

a. Meningkatkan populasi karang
Peningkatan populasi karang dapat dilakukan dengan meningkatkan rekruitmen, yaitu membiarkan benih karang yang hidup menempel pada permukaan benda yang bersih dan halus dengan pori-pori kecil atau liang untuk berlindung; menambah migrasi melalui transplantasi, serta mengurangi mortalitas dengan mencegahnya dari kerusakan fisik, penyakit, hama dan kompetisi.
b. Mengurangi alga hidup yang bebas
Pengurangan populasi alga dapat dilakukan dengan cara membersihkan karang dari alga dan meningkatkan hewan pemangsa alga.
c. Meningkatkan ikan-ikan karang
Populasi ikan karang dapat ditingkatkan dengan meningkatkan rekruitmen, yaitu dengan meningkatkan ikan herbivora dan merehabilitasi padang lamun sebagai pelindung bagi ikan-ikan kecil; meningkatkan migrasi atau menambah stok ikan, serta menurunkan mortalitas jenis ikan favorit

BAB III PENUTUP
3.2 Kesimpulan
• keberadaan terumbu karang di dunia khususnya di indonesia mulai terancam. Di indonesia persentase perusakan terumbu karang tiap tahunnya menunjukan kenaikan yang signifikan, dalam kurun waktu 4 tahun (2004-2008) 34% terumbu karang di indonesia berkondisi sangat buruk, dan ironisnya hanya 3 % terumbu karang yang dalam keadaan sangat baik.
• Faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan teumbu karang
1) Faktor alam
2) Pengendapan sedimen
3) Aliran air yang tercemar
4) Pemanasan suhu bumi
5) Uji coba militer
6) Eksploitasi yang berlebihan
7) Asal melempar jangkar

• Ancaman utama terhadap terumbu karang adalah pembangunan daerah pesisir, polusi laut, sedimentasi dan pencemaran dari darat, overfishing (penangkapan sumberdaya berlebih), destruktif fishing (penangkapan ikan dengan cara merusak), dan pemutihan karang ( coral bleaching ) akibat pemanasan global.
• Cara pencegahan untuk mengurangi pencemaran terhadap terumbu karang dapat dilakuakn dengan dua hal yaitu dengan Zonasi dan Rehabilitasi.

3.3 Saran
Sebagai mahasiswa diharapkan kita dapat peduli terhadap lingkungan diantaranya yaitu dengan melestarikan terumbu karang dan tidak merusaknya hanya untuk kepentingan semata sehingga fungsi terumbu karang di Indonesia tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Faktor-Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Perkembangan Terumbu Karang (Coral Reef).http://www.ubb.ac.id (1 Oktober 2013 pukul 14.25 WIB)

Dahuri, Rokhim, 1999, Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Terumbu Karang, Lokakarya Pengelolaan dan IPTEK Terumbu Karang Indonesia, Jakarta.

Suharsono. 1996.Jenis-Jenis Karang Yang Umum Dijumpai di Perairan Indonesia. Jakarta: LIPI

Anonim. 2012. http://nikitakelautan2010.wordpress.com/2012/04/01/ekosistem-terumbu-karang/. Htm, ( 4 oktober 2013 pukul 09.24 WIB)

Indahnya “Kawah Talaga Bodas “

Posted: November 5, 2013 in WISATA

_MG_8429
IMG_8607
Kawah talaga bodas adalah salah satu keindahan alam yang di miliki kabupaten Garut.Kawah ini membentuk sebuh talaga atau danau bersulfur jenih berwarna putih yang berada pada ketinggian 1512 m di diatas permukaan laut sehingga ketika berkunjung ke tempat wisata ini kita akan menaiki jalan yang cukup menanjak dan melewati perkebunan-perkebuna warga desa Sukamenak kecamatan Wanaraja,Garut.Berjarak 28 km dari Garut kota saya dan teman-teman menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam tepatnya dari Kecamatan Bayongbong yang lumayan jauh dari Garut kota.Selama perjalanan ke Talaga Bodas kita akan menemukan jalanan rusak berat sepanjang 3 km dengan tanjakan namun setelah itu jalannya cukup bagus apalagi melihat sekeliling yang di penuhi dengan pemandangan eksotik dari pegunungan sekitar juga perkebunan penduduk setempat.
Ketika sampai di pintu masuk kita akan membayar tiket masuk sebesar Rp. 5000 dengan fasilitas parkir yang lumayan luas .Disana juga tedapat warung-warung makanan dan tempat souvenir khas Garut.Dari tempat parkir kita berjalan ke arah kanan sekitar 50 meter menuju kawah talaga bodas dengan jalan yang sangat indah dan di rimbuni dengan pohon –pohon yang memiliki daun berwarna-warna yang bisa di abadikan untuk dokumentasi foto-foto kita dengan latar yang sangat bagus .Setelah melakukan perjalan selama beberapa menit tersebut kita akan di suguhkan dnegan pemandangan luar biasa dari sebuah danau yang berwarna putih yang di sekelilingi dengan pegunungan –pegungungan hijau yang menawan walaupun bau belerang lumayan menyengat disana .Ditempat ini juga kita bisa menyewa tikar untuk beristirahat di tempat yang teduh sambil menikmati pemandangan-pemandangan sekitar ,bukan hanya itu pedagang belerang juga banyak di temukan di sepanjang jalan kononnya belerang tersebut bisa di guankan untuk mengobati berbagai penyakit kulit.Di beberapa tempat sumber upa belerang dengan skala kecil juga muncul dari permukaan tanah yang menimbulkan gelembung dan bunyi –bunyi yang unik ketika bercampur dengan air .
Belum puas dengan keindahan danaunya kita juga bisa merelaksasikan badan kita di pemandian 7 pancuran panas yang lokasinya kesebelah kiri gerbang masuk .Luar biasanya di setiap pancutan memilki nama –nama tertentu sesuai khasiat yang di percaya contohnya pancuran ciatel,cihurip dll.Kita akan di kenakan biaya sebesar Rp. 3000 untuk menikmati air panas 7 pancuran tersebut .Nmaun sayangnya sebelum menikmati pancuran tersebut kita harus melewati jalan yang sangat rusak dengan batu-batu yang cukup besar ,namun semua itu tidak tertanding dengan keindahan alam yang di tawarkan .Namun dengan keindahan –keindahan di talag bodas ini ada satu hal yang mengganjal pikiran saya dan teman –teman dan terkesan sangat aneh yakni terdapat tumpukan bekas celana dalam di dekat pemandian yang bentuknya menggunung .Konon katanya setiap orang yang berendam di dalam 7 pancuran maka kita harus meninggalkan celana dalam tersebut dan dengan kejadian tersebut kami memutuskan untuk tidak turun ke 7 pancuran tersebut.

A. TUJUAN
Untuk menentukan kadar kafein dalam sampel
Dapat menggunakan spektrofotometer dengan benar

B. DASAR TEORI
Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam keluarga methylxanthine bersama sama senyawa tefilin dan teobromin, berlaku sebagai perangsang sistem saraf pusat. Pada keadaan asal, kafein ialah serbuk putih yang pahit (Phytomedical Technologies, 2006) dengan rumus kimianya C6 H10 O2, dan struktur kimianya 1,3,7- trimetilxantin . Kafein merupakan jenis alkaloid yang secara alamiah terdapat dalam biji kopi, daun teh, daun mete, biji kola, biji coklat dan beberapa minuman penyegar. Kafein memiliki berat molekul 194,19 gram/mol. Dengan rumus kimia C8H10N4O2 dan pH 6,9 (larutan kafein 1 % dalam air ). Secara ilmiah, efek kafein terhadap kesehatan sebetulnya tidak ada, tetapi yang ada adalah efek tak langsungnya seperti menstimulasi pernafasan dan jantung, serta memberikan efek samping berupa rasa gelisah (neuroses), tidak dapat tidur (insomnia) dan denyut jantung tak beraturan (tachycardia). Kopi dan teh banyak mengandung kafein dibandingkan jenis tanaman lain, karena tanaman kopi dan teh menghasilkan biji kopi dan daun teh yang sangat cepat, sementara penghancurannya sangat lambat .

Spektrofotometri UV-VIS adalah pengukuran serapan cahaya di daerah ultraviolet (200 – 350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm) oleh suatu senyawa. Serapan cahayaUV atau VIS (cahaya tampak) mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.Panjang gelombang cahaya UV-VIS bergantung pada mudahnya promosielektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk promosielektron, akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yangmemerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang.Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya dalamdaerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikandari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih pendek. Jika radiasielektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen, maka sebagian radiasi ituada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang transmisikan. Radiasi yang dipantulkandapat diabaikan, sedangkan radiasi yang dilewatkan sebagian diabsorpsi dan sebagianlagi ditransmisikan.

Absorpsivitas hanya tergantung pada suhu, pelarut, struktur molekul dan panjanggelombang atau frekuensi radiasi yang digunakan. Spektrum absorpsi (kurva absorpsi)adalah kurva yang menggambarkan hubungan antara absorban atau transmitan suatularutan terhadap panjang gelombang atau frekuensi radiasi.Pemilihan panjang gelombang untuk analisis kuantitatif dilakukan berdasarkan pada spektrum absorpsi yang diperoleh pada percobaan. Pengukuran absorpsi harusdilakukan pada panjang gelombang absorban maksimum λ maks karena :

Kepekaan maksimum dapat diperoleh jika larutan dengan konsentrasi tertentumemberikan signal yang kuat pada panjang gelombang tersebut.
Perbedaan absorban sangat minimal dengan berubahnya panjang gelombangdisekitar panjang gelombang absorban maksimum sehinggakesalahan pengukuran sangat kecil. Pelarut yang digunakan untuk spektrofotometri harus memenuhi persyaratantertentu agar diperoleh hasil pengukuran yang tepat. Pertama-tama, pelarut harus dipilihyang melarutkan komponen analat, tetapi sesuai dengan bahan kuvet.

Pembuatan larutan standar Kafein 0, 2, 4, 8 dan 12 ppm dalam HCl 0,2 N

Pengenceran untuk pembuatan 0 ppm Pengenceran untuk pembuatan 2 ppm

N1 x V1 = N2 x V2 N1 x V1 = N2 x V2

100 ppm x V1 = 0 ppm x 50 mL 100 ppm x V1 = 2 ppm x

V1 = 0 mL V1 = 1 mL

Pengenceran untuk pembuatan 4 ppm Pengenceran untuk pembuatan 8 ppm

N1 x V1 = N2 x V2 N1 x V1 = N2 x V2

100 ppm x V1 = 4 ppm x 50 mL 100 ppm x V1 = 8 ppm x 50 mL

V1 = 2 mL V1 = 4 mL

Pengenceran untuk pembuatan 12 ppm

N1 x V1 = N2 x V2

100 ppm x V1 = 12 ppm x 50 mL

V1 = 6 mL

Konsentrasi sampel

Diketahui :

Absorban = y = 0.916

Vsampel (hasil ekstraksi) = 49 mL

y = ax + b

y = 0.0377x – 0.0172

0.916 = 0.0377x – 0.0172

x =

= 24,75 ppm

Berat kafein dalam sampel = konsentrsi sampel x factor pengenceran x Vsampel

= 24,75 x 10 x 49 mL

= 12.129,12

= 12.129,12 x gram

= 0,0121 gram

Rendemen = x 100%

= x 100%

= 1,76%
A. PEMBAHASAN
Praktikum spektrofotometri kali ini yaitu menentukan kadar kafein pada suatu sampel dengan menggunakan spektrofotometri UV Shimadzu. Sampel yang digunakan adalah tablet (panadol merah) yang tentunya mengandung kafein. Tablet tersebut harus di ekstraksi terlebih dahulu agar kandungan kafeinnya terpisah dari zat lain. Pada ekstraksi kafein ini dilakukan pemanasan. Pemanasan ini bertujuan untuk melarutkan seluruh kafein dalam aquadest. Selanjutnya setelah dipanaskan, larutan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring biasa dan kertas saring wathman no.40. Fungsi dari penyaringan dengan menggunakan kertas saring biasa adalah agar kafein yang terdapat dalam larutan terpisah dari endapan, sehingga yang didapat dalam larutan adalah kafein. Fungsi penyaringan dengan menggunakan kertas saring wathman adalah agar tidak terdapat molekul-molekul kecil dari endapan dan pengotor ikut masuk kedalam larutan kafein yang akan dianalisa. Setelah itu dimulai proses ekstraksi larutan sampel diekstrak dengan diklorometan. Diklorometan ini berfungsi mengikat kafein dalam sampel sehingga kafein dapat terpisah dari sampel. Berat jenis dari dikolormetan >1, sehingga diklorometan yang mengandung kafein ada di lapisan bawah, dan larutan tersebut diambil dan diekstrak kembali.Ekstraksi dilakukan sebanyak 2 kali. Setelah diekstrak dengan diklorometan, kemudian diekstrak kembali dengan HCl sehingga kafein yang ada dapat terlarutkan dalam HCl, sehingga lapisan atas yang mengandung HCl dan kafein diambil untuk diukur absorbansinya.

Pada praktikum ini juga digunakan larutan standar. Jenis larutan standar harus sesuai dengan sampel yang di analisis. Karena jenis sampel adalah kafein, maka standar yang dipakai adalah standar kafein yang telah diketahui konsentrasinya. Pada pengenceran larutan standar di tambahkan larutan HCl 0,1N. HCl digunakan karena dapat melarutkan kafein dan bersifat asam sehingga dapat membuat suasana kafein menjadi asam, karena pada suasana asam panjang gelombang yang dihasilkan maksimum. Media yang digunakan untuk pengukuran adalah kuvet. Sebelum proses pengukuran dilakukan, kuvet yang dipergunakan dibilas terlebih dahulu dengan larutan yang akan diukur, proses pembilasan dilakukan ± 2 kali. Setelah dibilas, larutan yang akan diukur dimasukan secukupnya ke dalam kuvet dan kuvet dilap dengan menggunakan tisu sampai tidak terdapat butiran air diluar permukaan kuvet, agar cahaya yang terserap oleh larutan maksimal. Terakhir kuvet dilap dengan menggunakan tisu khusus yang memiliki serat halus sehingga tidak merusak permukaan luar dari kuvet.

Pengukuran larutan standar dilakukan secara bertahap dari larutan dengan konsentrasi rendah sampai yang tertinggi untuk membuat kurva standar sehingga pada penentuan konsentrasi sampel, dapat diketahui kadar sampel setelah dilakukan pengukuran absorbannya berdasarkan kurva deret standar yang telah dibuat. Panjang gelombang maksimum di dapatkan dari konsentrasi larutan standar 8 ppm. Menurut litreratur panjang gelombang maksimum kafein adalah 210 nm. Namun panjang gelombang maksimum yang terukur adalah 267,5 nm. Hal ini disebabkan karena tidak samanya konsentrasi yang dipilih untuk penentuan panjang gelombang maksimum.

Alat yang di gunakan pada penentuan kadar kafein adalah spektrofotometri UV Shimadzu yang telah menggunakan double beam yang mempunyai dua sinar yang di bentuk oleh potongan cermin yang berbentuk V disebut pemecah sinar. Prinsipnya adalah dengan adanya chopper yang akan membagi sinar menjadi dua.Sinar pertama melewati larutan blangko dan sinar kedua secara serentak melewati sampel, mencocokkan fotodetektor yang keluar menjelaskan perbandingan yang ditetapkan secara elektronik dan di tunjukkan oleh alat pembaca. Tetapi ada juga yang single beam, perbedaan kedua jenis spektrofotometer tersebut hanya pada pemberian cahaya, dimana pada single beam cahaya hanya melewati satu arah sehingga nilai yang di peroleh hanya nilai absorbansi dari larutan yang dimasukkan. Sementara pada double beam nilai blanko dapat langsung diukur bersamaan dengan larutan yang diinginkan dalam satu kali proses yang sama.

Setelah pengukuran, hasil konsentrasi dan absorban di buat kurva kalibrasi .Kurva kalibrasi diatas memiliki R2 0.961 hal ini di sebabkan oleh beberapa factor antara lain larutan standar kafein yang di buat tidak tepat dan teliti dalam pembuatannya ataupun pengaruh alat yang di gunakan.

KESIMPULAN
Panjang gelombang maksimum 276,5 nm
Konsentrasi sampel 24,75 ppm
Kadar kafein dalam sampel 1,76%

Selengkapnya download di ===>> Penentuan Kadar Kafein

TUJUAN PRAKTIKUM
– Mencari panjang gelombang maksimum

- Mencari konsentrasi Cu dalam cuplikan

DASAR TEORI
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan da nada pula yang di pantulkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Pengabsorpsian sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu molekul umumnya menghasilkan eksitasi electron bonding, akibatnya panjang gelombang absorpsi maksimum dapat dikorelasikan dengan jenis ikatan yang ada didalam molekul yang sedang diselidiki. Oleh karena itu spektroskopi serapan molekul berharga untuk mengidentifikasi gugus-gugus fungsional yang ada dalam suatu molekul.

Akan tetapi yang lebih penting adalah penggunaan spektroskopi serapan ultraviolet dan sinar tampak untuk penentuan kuantitatif senyawa-senyawa yang mengandung gugus-gugus pengabsorpsi. Metode spektroskopi sinar tampak berdasarkan penyerapan sinar tampak oleh suatu larutan berwarna. Oleh karena itu metode ini dikenal juga sebagai metode kalorimetri. Hanya larutan senyawa yang berwarna ynag dapat ditentukan dengan metode ini. Senyawa tak berwarna dapat dibuat berwarna dengan mereaksikannya dengan pereaksi yang menghasilkan senyawa berwarna.

Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang disebut λmaks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang gelombang yang sama, maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan yang muncul makin kecil. Berikut beberapa data panjang gelombang cahaya tampak.

Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan ε merupakan suatu tetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah.

PEMBAHASAN
Dalam analisis spektrofotometri langkah pertama yang di lakukan yaitu membuat larutan induk Cu2+ 1000ppm dalam 500ml larutan. Selanjutnya dibuat 6 konsentrasi masing-masing 0 ppm, 10 ppm, 20ppm, 30ppm, 40ppm, dan 50 ppm dalam labu takar 50ml. Di tambahkan 5 ml ammonia pada setiap labu agar terbentuk ikatan senyawa kompleks berwarna biru tua dan konsentrasi Cu dapat terukur. Berdasarkan reaksi :

Cu + 4 NH3 + ½ O2 + H2O → [ Cu (NH3)4 ]2+ + 2 OH-

Setelah itu di buat 2 sampel yang tidak di ketahui konsentrasinya. Selanjutnya mencari panjang gelombang maksimum dari larutan CuSO₄.5H2O 30 ppm, instrument yang digunakan adalah spektrofotometer. Dari percobaan ini, di dapat panjang gelombang maksimum untuk larutan CuSO₄.5H2O 30 ppm adalah pada 610 nm, dan pada absorpsi 0,026. Setelah di dapat panjang gelombang maksimum, di cari absorbansi untuk larutan lain yang memiliki konsentrasi yang berbeda dengan panjang gelombang yang sama yaitu 610 nm. Nilai absorbansinya berturut-turut adalah 0,009; 0,017; 0,026; 0,033; dan 0,041. Nilai absorbansi sebanding dengan konsentrasi larutan.

Setelah itu dilakukan pengukuran absorbansi terhadap 2 sampel yang belum di ketahui konsentrasinya dengan menggunakan alat yang sama dan panjang gelombang yang sama. Untuk sampel 1 di dapat nilai absorbansi sebesar 0,020 dan setelah perhitungan di dapat nilai konsentrasinya yaitu 23,50 ppm. Untuk sampel yang ke dua nilai absorbansinya adalah 0,041 dan nilai konsentrasinya 49,75 ppm.

KESIMPULAN
Nilai λmax yang di gunakan untuk menentukan konsentrasi sampel yaitu 610 nm.
Konsentrasi sampel 1 yaitu 23,50 ppm.
Konsentrasi sampel 2 yaitu 49,75 ppm.
Semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar nilai absorbansinya.

Selengkapnya download di ==> LAPORAN SPECTRONIC-20

Baterai Laptop dan Hanphone sebagian besar terbuat dari ion litium .Baterai-baterai ion litium menghasilkan arus listrik dari pergerakan ion-ion litium dari sebuah anode grafit ke sebuah katode berbasis logam.Ketika baterai sedang diisi ,ion-ion litium bergerak kembali ke anoda grafit sehingga mereka terhejebak.Akan tetapi ,grafit memiliki kapasitas penyimpanan yang relatif lebih rendah sehingga baterai tidak tahan lama,

Jaephil Cho dan rekan-rekannya di Hanyang University di Korea Selatan telah memecahkan masalah ini dengan membuat sebuah material silikon berpori .Material ini di buat dengan memanaskan nanopartikel silikom dioksida dengan sebuah gel berbasis silikon pada suhu 900 derajat celsius di bawah argon.Silikon dioksida kemudian terlepas,menyisakan sebuah jejaring kristal-kristal silikon yang saling terhubung dilapisi dengan sebuah lapisan tipis karbon.

Struktur yang dihasilkan mengandung pori-pori dengan dinding-dinding silikon yang tipis (sekitar 400 nm).Pori-pori tersebut memungkinkan struktur ini bernapas.Bahkan,setelah mengembang dan berkontraksi selama lebih dari 100 kali isi ulang ,material ini tetap mempertahankan kepaduan struktur .Tim Cho membuktikan hal ini dengan terus menerus menyimpan muatan listrik lebih dari 2.800 miliamper jam pergram ,tujuh kali tinggi di bandingakn grafit .Struktur yang berpori tersebut juga memungkinkan pengisian cepat dan pengosongan jika di perlukan.Dengan sifat ini ,baterai tersebut dapat digunakan dalam aplikasi bertenaga lebih tinggi seperti mobil-mobil hibrid.

sumber : http://www.rsc.org/chemistryworld/

  • Tujuan Praktikum    : Menentukan Konsentrasi Logam Mangan (Mn) Dalam sampel
  • Metode Praktikum    : Kolorimeter Visual
  • Dasar Teori                :

Kolorimetri adalah suatu metode analisa kimia yang berdasarkan pada perbandingan intensitas warna larutan dengan warna larutan standarnya. Metode ini merupakan bagian dari analisis fotometri. Fotometri adalah bagian dari optik yang mempelajari mengenai kuat cahaya(intensity) dan derajat penerangan(brightness).

Beberapa metode penentuan kadar dengan kolorimetri di antaranya:

  1. Metode deret standar (misal tabung Nessler)

Tabung-tabung seragam yang tidak berwarna dengan dasar datar (disebut tabung Nessler) digunakan untuk menampung larutan berwarna dengan jumlah volume tertentu. Pada dasarnya, pengukur Nessler bekerja berdasarkan prinsip perbandingan warna

  1. Metode pengenceran

Larutan sampel dan larutan standar dengan konsentrasi cx dan cy ditempatkan pada tabung kaca dengan ukuran yang sama. Larutan yang lebih pekat diencerkan sampai warnanya mempunyai intensitas yang sama dengan yang lebih encer.

  1. Metode kesetimbangan

Metode kesetimbangan adalah metode yang paling umum digunakan pada kolorimetri visual.

 

Metode Kolorimetri merupakan bagian dari metode spektroskopi sinar tampak yang berdasarkan pada panjang sinar tampak oleh suatu larutan berwarna, hanya senyawa yang dapat ditentukan dengan metode spektroskopi, senyawa yang tidak berwarna dapat dibuat menjadi berwarna, seperti ion Fe3+ dan SCN- menghasilkan larutan berwarna merah.

Kolorimetri dilakukan dengan membandingkan larutan standar dengan aplikasi yang dibuat pada keadaan yang sama dengan menggunakan tabung Nessler atau kolorimeter Dubosque. Dengan kolorimetri elektronik, jumlah cahaya yang diserap berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Metode ini sering digunakan dalam menentukan konsentrasi besi dalam air minum.

 

Gambar 28 A Nessler Cylinder

Syarat pewarnaan ini antara lain :

  • Warna yang terbentuk harus stabil
  • Reaksi pewarnaan harus selektif
  • Larutan harus transparan
  • Kesensitifannya tinggi
  • Ketepatan ulang tinggi
  • Warna yang terbentuk harus merupakan fungsi dari konsentrasi

           Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator. Mangan(VII) berwarna ungu kuat sedangkan mangan(II) tidak berwara.Mangan merupakan salah satu unsur logam yang terletak pada golongan logam transisi. Logam transisi memiliki salah satu ciri yang khas, yaitu berwarna. Warna tersebut terbentuk ketika sinar putih melewati larutan yang berisi salah satu dari ion logam, atau sinar putih tersebut direfleksikan oleh larutan tersebut, beberapa warna dari sinar dapat di absorpsi (diserap) oleh larutan tersebut. Warna yang dapat dilihat oleh mata kamu adalah warna yang tertinggal (tidak di absorpsi). Pelekatan ligan pada ion logam merupakan efek dari energi orbital-orbital d. Sinar yang diserap sebagai akibat dari perpindahan elektron diantara orbital d yang satu dengan yang lain.

         Variasi warna suatu sistem berubah dengan berubahnya konsentrasi suatu komponen membentuk dasar apa yang lazim disebut analisis koorimetrik. Kolorimetri dikaitkan dengan penetapan konsentrasi suatu zat dengan mengukur absorpsi relatif cahaya yang sebanding dengan konsentrasi tertentu zat itu. Kolorimetri dibagi menjadi dua yaitu kolorimetri visual dan fotometri. Dalam kolorimetri visual, cahaya putih alamiah ataupun buatan umumnya digunakan sebagai sumber cahaya dan penetapan biasanya dilakukan dengan suatu instrument sederhana yang disebut kolorimetri atau pembanding (comparator) warna. Bila mata digantikan oleh sel fotolistrik (jadi sebagian besar sesatan yang disebabkan karakteristik pribadi tiap pengamat dapat dihilangkan) instrumen itu disebut kolorimetri fotolistrik. Alat ini biasanya digunakan dengan cahaya dibatasi dalam jangka panjang gelombang yang relatif sempit dengan melewatkan cahaya putih melalui filter-filter yakni bahan dalam bentuk lempengan berwarna terbuat dari kaca, gelatindan sebagainya yang meneruskan hanya daerah spectral terbatas (kadang-kadang instrumen semacam ini dinamakan fotometer filter).

Pemilihan prosedur kolormetri untuk penetapan zat akan bergantung pada pertimbangan sebagai berikut :

a.       Metode kolorimetri seringkali akan memberikan hasil yang lebih tepat pada konsentrasi rendah dibandingkan prosedur titrimetri ataupun gravimetri padanannya. Selain itu prosedur kolorimetri lebih sederhana dilakukan daripada prosedur titrimetri ataupun gravimetri.

b.      Suatu metode kolorimetri seringkali dapat diterapkan pada kondisi-kondisi dimana tidak terdapat prosedur gravimetri ataupun titrimetri yang memuaskan, misalnya untuk zat-zat hayati tertentu.

c.       Prosedur kolorimetri mempunyai keunggulan untuk penetapan rutin dari beberapa komponen dalam sejumlah contoh yang serupa oleh dapat dilakukan dengan cepat.

Download Selengkapnya disini ===>> http://tonimpa.files.wordpress.com/2013/11/nessler-totanver-jadiee.doc

Image

Artis jebolan Mama mia Show 2007 yang keluar sebagai Runner Up kala itu akhirnya mengeluarkan album solonya bertajuk “Acoustic In Love” yang berisi 12 lagu recycle milik legendaris Koes Plus .Album dengan executive Producer PT.Sony Music Entertainment ini di kemas secara menarik dengan aransemen  lagu yang berbeda  dan suara emas Margareth yang khas sehingga enak di dengar buat semua kalangan usia.Tak hanya itu konsep cover yang di hidangakn pun sangat menarik dan memiliki estetika yang tinggi untuk di lihat,tak heran jika harga yang ditawarkan pun lumayan mahal yakni RP 75.000 untuk setiap album.

12 lagu tersebut adalah 

1. Manis dan Sayang

2.Andaikan Kau Datang

3. Derita

4.Oh -la-la

5. Pagi yang Indah

6. Kau Datang lagi

7. Lika Liku Laki-laki

8.Bis Sekolah

9.Jangan Berulang Lagi

10.Kembali Kejakarta

11.Aku Kembali

12.Kapan-kapan

“Great thanks to my savior Jesus Christ …upon his grace to me finally I released my first album ..thank you to my dearest mother saidah siahaan and my father Fransiscus Siagain ,My Brothers,My sisters and my dearest one who has always been supporting and praying for me at the forefront”Margareth Siagain 

Buat Margareth sukses ya buat album nya semoga meledak di pasaran !!!

Image

Dapat kesempatan ngomong langsung sama artis idola itu pastinya di dambakan semua orang apalagi bisa ketemu langsung dan dapet foto bareng.Ya mungkin harapan itu hanya sebuah mimpi dan gak mungkin terjadi tapi semua itu secara tiba-tiba dan gak di sangka-sangka terjadi sama saya ketika buka akun twitter dan ada tweet dari @Margareth_s kalo dia lagi ada acara promo album Accoustic In Love di beberapa Radio di Bandung salah satunya Ardan Radio.

Tau dengan hal itu saya langsung nyalain radio walaupun sebelumnya gak suka denger radio dan pas nyalain terdengar merdu suara margareth yang lagi nyanyi lagu “Derita” yang merupakan salah satu lagu dari albumnya .Denger dari penyiar kalo ada tanya jawab dengan margareth dan bisa dapetin albumnya ,dengan sentak saya agresif buat nyari-nyari nomer telepon ardan radio biar bisa ngomong langsung dengan idola yang satu ini.

dan akhirnya setelah nunggu beberapa lama kesempatan itu datang dan akhirnya bisa ngomong langsung dan tanya jawab.Bingung dan speechles mau nanya apa terpikir sedikit dan ada rasa penasaran apakah margareth sudah punya pacar atau belum ??

dan jawabannya udah dan namanya David ,dia sekarang ada di Luar negeri ,dan ketika dapet kesempatan buat request lagu Margareth saya ngerequest lagu “Cemburu”dan bilang kalo lagi cemburu sama pacarnya margareth…hahah ngakaks …

Akhirnya dengan acara tanya jawab tersebut saya dapat kesempatan buat dapetin album baru Margareth yang berjudul Accoustic In Love yang isinya terdapat 12 lagu recycle dari salah satu legendaris Indonesia.

Buat Margareth suskes ya buat albumnya semoga bisa laku di pasaran …..

GBU…

@margareth_s